Titik Panas di Papua Barat Kembali Naik, BMKG Ingatkan Risiko Karhutla di Tengah El Niño

Kehutanan 29 Agus 2026 304 kali dibaca
Gambar Artikel Titik panas (hotspot) di Papua Barat | Sumber: BMKG

LingkariNews – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Papua Barat masih berlangsung. Sebaran titik panas (hotspot) di Papua Barat kembali meningkat pada Jumat, 28 Agustus 2026, setelah sempat mengalami penurunan dalam beberapa hari sebelumnya. 

Berdasarkan pembaruan data Sebaran Titik Panas Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), tercatat 96 titik panas di Papua Barat. Jumlah tersebut terdiri atas 1 titik dengan kepercayaan rendah, 83 titik tingkat kepercayaan sedang, dan 12 titik tingkat kepercayaan tinggi.

Titik Panas Sempat Turun, Kemudian Kembali Meningkat

BMKG sebelumnya mencatat adanya penurunan sebaran titik panas di Papua Barat berdasarkan hasil pengamatan pada 25 hingga 27 Agustus 2026.

Pada 25 Agustus, terdeteksi 399 titik panas, yang terdiri atas 14 titik kategori rendah, 348 titik kategori sedang, dan 37 titik kategori tinggi.

Jumlah tersebut kemudian turun menjadi 224 titik pada 24 Agustus, terdiri atas 13 titik kategori rendah, 203 kategori sedang, dan delapan titik kategori tinggi.

Pada 27 Agustus, sebaran titik panas kembali turun menjadi 68 titik, dengan rincian 58 titik kategori sedang dan 10 titik kategori tinggi.

Namun, sehari setelahnya jumlah tersebut kembali meningkat menjadi 96 titik panas.

Analisis Iklim Muda Stasiun Klimatologi Papua Barat, Wendel Jan, mengatakan penurunan titik panas tidak serta merta menunjukkan bahwa potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) ikut berkurang.

“Karena kondisi kemarau saat ini diperparah dengan adanya El Niño, jadi bisa saja akan muncul lagi titik panas di kemudian hari,” ujar Wendel, dilansir melalui Antara.

El Niño Perkuat Risiko Karhutla

Menurut Wendel, kondisi kemarau di Papua Barat saat ini diperparah oleh pengaruh El Niño. BMKG sejak awal tahun telah memprediksi fenomena tersebut akan menyebabkan kondisi kemarau ekstrem dan kekeringan dalam jangka waktu panjang.

Saat ini, indeks El Niño telah masuk kategori kuat menuju sangat kuat. BMKG juga memprediksi puncak El Niño terjadi sekitar September dan Oktober 2026 dan berlangsung hingga awal 2027.

“Puncak El Niño diprediksi sekitar September dan Oktober tahun ini dan berlangsung hingga awal tahun 2027,” jelasnya.

Kondisi kekeringan juga terlihat dari jumlah hari tanpa hujan di sejumlah wilayah. Sebagian besar titik panas sebelumnya terdeteksi di Distrik Bomberay, Kabupaten Fakfak, seiring dengan peningkatan hari tanpa hujan yang telah berlangsung sekitar 55 hari.

Berdasarkan hasil analisis BMKG, seluruh wilayah Papua Barat berada dalam kondisi defisit curah hujan. Kabupaten Fakfak dan Kabupaten Manokwari Selatan menjadi wilayah yang mengalami kondisi tersebut dan berdampak pada peningkatan risiko karhutla.

Meski demikian, BMKG memperkirakan kondisi curah hujan akan mulai membaik menjelang akhir tahun seiring perubahan arah angin dari timur ke barat yang membawa kandungan uap.

“Kami prediksi akhir tahun ini curah hujan mulai membaik, karena terjadi pergantian arah angin dari timur ke barat membawa kandungan uap,” kata Wendel.

(NY)

Berita Terpopuler

1
Indonesia Penghasil Sampah Terbesar Ke-5 Dunia: Produksi dan Jenis-Jenisnya
2
Kepolisian Ungkap Tambang Ilegal di Tahura Bukit Soeharto, Kerugian Negara Ditaksir Capai Rp1 Triliun
3
Perkembangan Industri Gula Tahun 2020 hingga 2025
4
Cerita Sejarah, Fakta Menarik, dan Peran Ekologis Sungai Brantas
5
Penyebab Banjir dan Longsor di Sumatera: Bencana Alam atau Kerusakan Alam?

Grafik Harga Gula

Raw Sugar: -
-
White Sugar: -
-
White Sugar: -
-