Cuaca panas Jakarta yang menyengat dipicu efek urban heat island (pulau panas perkotaan)
LingkariNews — Cuaca panas di Jakarta semakin menyengat dalam beberapa hari terakhir. Warga mengeluh terik matahari terasa sangat panas hingga membuat kulit perih, terutama saat beraktivitas di ruang terbuka. Berdasarkan pemantauan Air Quality Index, suhu udara Jakarta pada Selasa (20/10) sempat menyentuh 34,8 derajat Celsius pada pukul 13.00 WIB.
Sekretaris Utama Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Guswanto, menuturkan bahwa cuaca panas yang dirasakan di Jakarta dipengaruhi oleh iklim kemarau. Kondisi langit yang cerah dengan tutupan awan yang minim membuat lebih banyak radiasi matahari mencapai permukaan bumi. Akibatnya suhu udara naik, terutama pada siang hari saat matahari berada di puncak.
Suhu tinggi di Jakarta juga dipicu fenomena El Nino yang kuat. Fenomena ini menekan curah hujan di sejumlah wilayah, termasuk Jakarta. Curah hujan yang rendah membuat kemarau menjadi lebih kering dan lebih panjang. Dampaknya, cuaca panas berpotensi bertahan lebih lama.
Selain faktor iklim, cuaca panas Jakarta yang menyengat juga dipicu efek urban heat island (pulau panas perkotaan). Fenomena ini terjadi ketika kawasan perkotaan memiliki suhu lebih tinggi dibandingkan wilayah sekitarnya.
Jakarta merupakan wilayah perkotaan yang didominasi bangunan pemukiman dan gedung, jalan beraspal, permukaan beton, serta banyak kendaraan yang berlalu-lalang. Sementara itu, area dengan vegetasi sangat terbatas. Karakteristik itu membuat panas lebih banyak terserap dan terperangkap di lingkungan perkotaan.
Panas yang terperangkap membuat suhu terasa makin panas, terutama pada siang hari.
Panas yang terserap bahkan dapat bertahan hingga setelah matahari terbenam. Kondisi ini membuat udara Jakarta tetap terasa gerah hingga sore atau malam hari, meski matahari telah berkurang.
Meski suhu Jakarta terasa sangat menyengat, Guswanto, menekankan bahwa kondisi ini tidak berkaitan dengan gelombang panas seperti yang kerap terjadi di negara subtropis. Gelombang panas memiliki kriteria khusus berdasarkan suhu maksimum yang melampaui ambang batas selama beberapa hari berturut-turut.
Karena itu, suhu tinggi dalam waktu singkat belum cukup untuk dikategorikan sebagai gelombang panas. Cuaca panas di Jakarta merupakan gabungan pengaruh kemarau, kondisi langit yang cerah, udara kering, El Niño, dan efek urban heat island.
Cuaca panas di Jakarta diprediksi masih bertahan hingga akhir Oktober 2026. Kondisi ini dipengaruhi posisi semu matahari yang melintasi wilayah Pulau Jawa serta musim kemarau yang diperkuat fenomena El Niño.
Air Quality Index memprediksi, suhu panas Jakarta diperkirakan tetap berada di atas 32 derajat Celsius hingga akhir bulan. Meski begitu, hujan diprediksi mulai turun pada 24 Oktober. Hujan tersebut berpotensi meredakan cuaca panas, meski tidak merata setiap hari.
Cuaca panas yang menyengat di Jakarta tidak hanya menimbulkan rasa gerah, tetapi juga meningkatkan risiko dehidrasi, kelelahan, hingga heatstroke. Paparan suhu tinggi membuat tubuh mengeluarkan lebih banyak keringat untuk menjaga suhu tetap stabil. Jika cairan yang hilang tidak segera digantikan, tubuh dapat mengalami dehidrasi. Kondisi ini juga membuat tubuh jadi lebih mudah haus, terutama setelah beraktivitas di luar ruangan.
Untuk menghindari dampak dari panas ekstrem jakarta, disarankan untuk cukup minum air putih dan mengenakan pakaian yang menyerap keringat. Air dapat menggantikan cairan yang hilang, sedangkan pakaian berbahan menyerap keringat membantu penguapan agar tubuh lebih cepat dingin.
Bila aktivitas banyak dilakukan di ruang ber-AC, atur suhu tidak terlalu dingin dan pastikan ventilasi udara lancar. Perbedaan suhu yang drastis membebani tubuh. Apabila memungkinkan, kurangi aktivitas fisik berat seperti olahraga di luar ruangan saat cuaca panas. Jika tubuh terasa pusing, lemas, atau mual, segera istirahat di tempat teduh dan minum air putih. Bila gejala tidak membaik, segera cari bantuan medis.
(KP/NY)