Asap karhutla Kalimantan menyebar hingga Sarawak, Malaysia | Sumber: kompas
LingkariNews — Sudah hampir empat bulan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda Kalimantan. Berdasarkan data SiPongi dari Kementerian Kehutanan (Kemenhut), luas areal terdampak karhutla Kalimantan selama periode Januari–Juli 2026 saja telah mencapai sekitar 56.680 hektare. Angka tersebut diperkirakan masih terus bertambah, seiring dengan masih banyaknya titik api (hotspot) hingga artikel ini dibuat.
Karhutla yang terjadi turut mengancam satwa liar, termasuk orangutan yang kehilangan habitat dan sumber makanan. Sebagian satwa terpaksa mendekati permukiman warga untuk mencari makan dan berlindung. Karhutla juga menimbulkan asap pekat yang mengganggu aktivitas warga serta meningkatkan risiko gangguan kesehatan, khususnya pada anak-anak, lansia, dan kelompok rentan.
Asap karhutla tidak hanya mengganggu aktivitas warga di Pulau Kalimantan. Asap tebal juga terpantau menyebar hingga ke negara lain, yakni sejumlah negara tetangga. Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Filipina, Thailand, hingga Vietnam dilaporkan turut terdampak.
Di Malaysia, kabut asap tebal karhutla Kalimantan memicu penurunan kualitas udara yang parah di sejumlah wilayah. Kondisi ini memaksa pemerintah menutup sejumlah sekolah di Sarawak demi melindungi siswa. Peningkatan polutan PM2.5 turut memicu gangguan saluran pernapasan, bronkitis pada anak-anak, serta ancaman serius bagi kelompok rentan. Kabut asap juga dilaporkan menimbulkan sejumlah kecelakaan lalu lintas akibat jarak pandang yang pendek. Salah satunya dilaporkan menewaskan tiga kakak beradik berusia 18, 11, dan 8 tahun di Pontian, Johor, pada 8 Oktober 2026.
Di Brunei, kabut asap tebal juga menurunkan kualitas udara. Asap tebal memicu keluhan kesehatan ringan seperti batuk dan iritasi mata. Di Filipina, kabut asap tebal terpantau di sebagian wilayah Metro Manila, Calabarzon, dan Mimaropa. Akibatnya, sejumlah sekolah di wilayah tersebut beralih ke pembelajaran daring dan tidak menggelar tatap muka langsung. Situasi ini memperlihatkan bahwa dampak karhutla Kalimantan menjangkau sektor pendidikan dan kesehatan lintas negara.
Kabut asap juga terpantau di Singapura. Konsentrasi partikel halus PM2.5 di wilayah barat Singapura melonjak hingga puncaknya mencapai 288 mikrogram per meter kubik pada 14 Oktober 2026. Angka itu jauh melampaui ambang batas aman World Health Organization (WHO), yakni 5 µg/m³. Pembalap Formula 1 dari Williams, Carlos Sainz, bahkan sempat menyoroti kualitas udara Singapura yang memburuk akibat kabut asap dari Indonesia. Hal itu disampaikannya menjelang GP Singapura yang digelar pada 9–11 Oktober 2026.
Kabut asap tebal yang diduga berasal dari karhutla Kalimantan juga dilaporkan menyebar hingga Thailand bagian selatan dan Vietnam bagian selatan. Padahal, wilayah tersebut berjarak sekitar 1.200-1.300 kilometer dari sumber api di Kalimantan.
Akibat sebaran asap karhutla Kalimantan yang kian meluas hingga ke negara lain, sejumlah negara melayangkan protes keras. PM Singapura, Lawrence Wong, menyatakan akan menempuh langkah hukum terhadap perusahaan penyebab karhutla di Indonesia yang memperburuk kualitas udara negaranya. Langkah itu diambil berdasarkan Undang-Undang Pencemaran Kabut Asap Lintas Batas (Transboundary Haze Pollution Act) Singapura. Singapura juga siap menjajaki langkah hukum bersama negara terdampak lainnya.
Selain Singapura, Malaysia juga mendesak penegakan hukum dan menuntut ganti rugi jika krisis kabut asap karhutla Kalimantan berlanjut. PM Anwar Ibrahim bahkan menegaskan akan mengangkat isu ini ke tingkat ASEAN bersama Brunei Darussalam.
Menanggapi desakan Malaysia dan Singapura, Kepala Badan Komunikasi (Bakom RI), Syahganda Nainggolan, menyatakan bahwa pemerintah memahami keresahan Malaysia dan Singapura. Namun, ia mengimbau agar mereka memahami bahwa kabut asap lintas batas ini dampak dari fenomena dinamika alam yang sulit dikendalikan dan berada di luar faktor kesalahan manusia (human error). Pemerintah juga menyampaikan komitmennya untuk terus menangani karhutla Kalimantan, meski lahan gambut sulit dipadamkan.
(KP/NY)