Karhutla Sumsel Diklaim Tinggal 6,9 Hektare, Kabut Asap Masih Tebal

Kehutanan 13 Okt 2026 14 kali dibaca
Gambar Artikel Ilustrasi karhutla

LingkariNews — Hingga Selasa (13/10/2026), kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan (Sumsel) belum juga berhasil diatasi. Data Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel mencatat, ada 1.917 titik panas (hotspot) karhutla Sumsel per Senin (12/10/2026). 

Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) menjadi penyumbang terbesar dengan 1.271 titik. Musi Banyuasin berada di urutan kedua dengan 218 titik, disusul Banyuasin sebanyak 181 titik Total luas lahan terdampak diperkirakan mencapai 278,75 hektare. 

Luas Karhutla Sumsel Tersisa 6,9 Hektare

Pada Senin (12/10/2026), Presiden Prabowo Subianto mengikuti rapat koordinasi penanganan karhutla bersama sejumlah pihak. Dalam kesempatan itu, Gubernur Sumatera Selatan, Herman Deru, menyebut seluas 271,85 hektare lahan yang sebelumnya terdampak telah berhasil ditangani. Dengan demikian, luas karhutla Sumsel kini tersisa 6,9 hektare. Titik kebakaran tersebar di beberapa lokasi meliputi lahan gambut di Ogan Komering Ilir (OKI), Pulau Beruang, Musi Banyuasin (Muba), dan Muara Medak.

Meski luas kebakaran yang tersisa relatif kecil, kabut asap tebal dilaporkan masih mengepul dan meluas ke sejumlah wilayah. Pekatnya asap yang masih menyebar memunculkan dugaan bahwa luas lahan terdampak masih jauh lebih luas dibanding data yang disampaikan.

Strategi Pemadaman di Lapangan

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut fokus penanganan karhutla Sumsel berada di Ogan Komering Ilir (OKI). Upaya pemadaman dititikberatkan pada operasi darat. Sementara itu, heli waterbombing baru akan dilakukan dalam beberapa hari kedepan. Sebelumnya, operasi udara terkendala asap tebal yang membatasi jarak pandang.

Upaya pemadaman juga akan dipadukan dengan modifikasi cuaca. Penyemaian awan dilakukan di wilayah Banyuasin dan OKI dengan 800 kilogram natrium klorida (NaCl). BNPB menargetkan kondisi karhutla Sumsel akan membaik pada Oktober, seiring prediksi BMKG yang menyebut bahwa hujan alami turun pada pertengahan Oktober hingga November.

WALHI Sebut Penanganan Karhutla Belum Sentuh Akar Persoalan

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sumsel menilai penanganan karhutla Sumsel selama ini belum menyentuh akar persoalan. Akibatnya, kebakaran terus berulang setiap tahun, terutama saat musim kemarau.

WALHI menilai pemerintah perlu menjadikan pemulihan ekosistem gambut, evaluasi tata kelola lahan, dan pertanggungjawaban perusahaan pemegang konsesi sebagai fokus. Gambut yang rusak dan mengering mudah terbakar. Tata kelola lahan yang lemah membuka ruang pembukaan lahan dengan api. Sementara itu, perusahaan pemegang konsesi yang tidak bertanggung jawab membuat pelanggaran terus berulang.

WALHI juga mengkritik pemerintah yang tidak melakukan langkah pencegahan. Padahal, WALHI telah mengingatkan ancaman El Nino ekstrem terhadap potensi karhutla di berbagai daerah, termasuk Sumsel.

Kabut Asap Memburuk, Warga Diimbau Waspada

Karhutla Sumsel yang masih belum berhasil teratasi menimbulkan kabut asap tebal yang mengurangi jarak pandang dan memperburuk kualitas udara di sejumlah daerah. Data parameter PM2.5 Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) per Senin (12/10/2026) pukul 09.00 WIB menunjukkan kondisi di berbagai daerah di Sumsel masuk kategori berbahaya. Kondisi ini meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama pada anak-anak, lansia, serta warga dengan masalah pernapasan.

Warga diimbau mengurangi aktivitas di luar rumah dan memakai masker saat harus keluar. Periksakan diri ke fasilitas kesehatan jika muncul sesak napas, batuk, atau mata perih. Masyarakat juga diminta tidak membuka lahan dengan cara membakar karena api dapat menyebar dan memicu kebakaran yang lebih luas.

(KP/NY)

Berita Terpopuler

1
Indonesia Penghasil Sampah Terbesar Ke-5 Dunia: Produksi dan Jenis-Jenisnya
2
Kepolisian Ungkap Tambang Ilegal di Tahura Bukit Soeharto, Kerugian Negara Ditaksir Capai Rp1 Triliun
3
Perkembangan Industri Gula Tahun 2020 hingga 2025
4
Cerita Sejarah, Fakta Menarik, dan Peran Ekologis Sungai Brantas
5
Penyebab Banjir dan Longsor di Sumatera: Bencana Alam atau Kerusakan Alam?

Grafik Harga Gula

Raw Sugar: -
-
White Sugar: -
-
White Sugar: -
-