Metode mengompos dengan ember kompos
LingkariNews — Kesadaran akan dampak sampah organik terhadap lingkungan telah mendorong banyak orang mulai mengompos. Cara ini dinilai dapat mengurangi jumlah sampah organik sekaligus mengolahnya menjadi bahan yang bermanfaat. Namun, niat baik tersebut sering berhenti pada pertanyaan tentang bagaimana cara mengompos yang tepat.
Sebenarnya, ada banyak metode mengompos yang bisa dilakukan di rumah. Namun secara umum, ada empat metode yang paling populer dan banyak digunakan di Indonesia yaitu takakura, bokashi, biopori, dan ember kompos. Masing-masing punya cara, kelebihan, dan sasaran penggunaan yang berbeda.
Metode Takakura
Takakura adalah metode mengompos sampah organik rumah tangga secara aerob, yaitu proses penguraian yang memanfaatkan udara. Metode ini menggunakan keranjang berlubang yang dilapisi kardus, lalu diisi starter. Biasanya berupa sekam atau kompos matang yang mengandung mikroorganisme pengurai. Sampah organik dapur dimasukkan ke dalam keranjang, diaduk rata, kemudian ditutup dengan kain.
Takakura memiliki beberapa keunggulan untuk penggunaan sehari-hari. Proses aerob membuat pembusukan berlangsung relatif cepat tanpa menghasilkan bau dan cairan. Bahan serta peralatannya juga relatif murah, mudah ditemukan, serta tidak membutuhkan banyak tempat. Karena itu, metode ini cocok untuk penghuni apartemen atau rumah tanpa halaman tanah.
Metode Bokashi
Berbeda dengan Takakura yang bersifat aerob, teknik Bokashi membiarkan sampah terurai secara anaerobik (tanpa oksigen). Metode Bokashi memanfaatkan mikroorganisme efektif seperti EM4 atau bokashi bran untuk memfermentasi sampah organik di dalam wadah kedap udara, lengkap dengan keran peniris di bagian bawah. Sampah dapur dipotong kecil-kecil, dimasukkan ke wadah berlapis, disemprot larutan EM4 dan molase hingga lembap, ditekan agar padat, lalu wadah ditutup rapat.
Keunggulan metode mengompos Bokashi adalah bisa mengolah hampir semua jenis sampah dapur termasuk sisa daging, tulang kecil, dan produk susu yang biasanya dihindari metode lain. Fermentasinya juga relatif cepat serta menghasilkan dua produk sekaligus yaitu pupuk organik cair dan kompos padat.
Metode ini cocok untuk rumah tangga dengan sampah dapur bervariasi, termasuk sisa makanan hewani, dan memiliki sedikit area terbuka untuk mengubur hasil fermentasi matangnya.
Metode Biopori
Biopori adalah metode mengompos yang dilakukan dengan membuat lubang silindris secara vertikal ke dalam tanah. Lubang berdiameter sekitar 10 sentimeter dibuat hingga kedalaman sekitar 100 sentimeter. Lubang tersebut kemudian diisi pipa PVC berlubang, atau langsung diisi sampah organik. Setelah itu, lubang lalu ditutup. Sampah dibiarkan terurai selama beberapa minggu sebelum dipanen sebagai kompos.
Selain menghasilkan pupuk, metode biopori efektif menyerap genangan air hujan sekaligus menyuburkan struktur tanah di sekitarnya secara alami. Karena itu, metode ini cocok diterapkan di rumah dengan halaman tanah yang sering ada genangan air saat musim hujan.
Metode Ember Kompos
Ember kompos adalah metode mengompos yang menggunakan dua ember yang disusun secara vertikal untuk mengolah sampah organik rumah tangga. Ember bagian atas diberi lubang kecil pada dasar dan sisi-sisinya untuk membantu proses penguraian. Ember bawah berfungsi menampung cairan lindi yang keluar selama proses berlangsung. Sampah organik dimasukkan ke ember atas, kemudian diberi larutan EM4 yang telah dicampur air secukupnya. Ember ditutup rapat dan dibiarkan selama beberapa minggu.
Metode ini relatif murah karena ember bekas dapat digunakan setelah dimodifikasi. Hasilnya juga berupa kompos padat dan pupuk organik cair. Cairan lindi dapat dipanen setelah sekitar dua minggu hingga satu bulan, sedangkan kompos padat membutuhkan waktu sekitar satu hingga dua bulan. Metode ini cocok bagi rumah tangga dengan ruang semi-terbuka yang terbatas, seperti teras atau halaman belakang kecil.
Itulah empat metode mengompos yang cocok dilakukan di lingkungan rumah tangga. Setiap metode punya karakteristik, keunggulan, dan sasaran penggunaan yang berbeda. Metode manakah yang paling ingin Anda coba?
(KP/NY)