Kawasan yang terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Gunung Bromo terus meluas. | Dok. Balai Besar TNBTS
LingkariNews – Setelah sempat padam usai kebakaran hebat pada Agustus 2026, kawasan Gunung Bromo yang berada di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) kembali terbakar. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi pada Kamis (10/9/2026) sekitar pukul 16.00 di kawasan Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo.
Tiupan angin kencang membuat api dengan cepat meluas hingga ke kawasan Lembah Watangan atau Bukit Teletubbies. Hingga Sabtu (12/9/2026), api masih menjalar ke arah wilayah Malang.
Api Menjalar ke Arah Malang
Kebakaran terbaru terjadi di kawasan Sabana Pengol yang masuk wilayah administrasi Kabupaten Probolinggo. Api yang sebelumnya berada di bagian atas Lembang Watangan kemudian merembet turun akibat angin kencang dan membakar kawasan savana di bawahnya.
Sejak Sabtu sore, api terus bergerak ke arah Jemplang, Kabupaten Malang. Kencangnya angin juga memicu terbentuknya pusaran debu atau dust devil. Asap kebakaran terlihat berputar dan bergerak cepat mengikuti arah angin.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Probolinggo, Oemar Sjarief, membenarkan api telah membakar kawasan Lembah Watangan dan bergerak menuju Malang.
“Benar, api sudah membakar Lembah Watangan, dan saat ini api mengarah ke Malang,” ujar Oemar, Sabtu (12/9/2026) dilansir dari DetikJatim.
Menurut Oemar, angin kencang membuat api menyebar dengan cepat dan bergerak ke sejumlah arah.
“Angin kencang, menyebabkan api menyebar sangat cepat ke dua arah, menuju Probolinggo dan Jombang,” katanya.
Upaya yang Dilakukan
Upaya pemadaman dilakukan petugas gabungan menggunakan air. Namun, medan yang sulit, angin kencang, serta kabut tebal menjadi kendala dalam menjangkau sejumlah titik api.
Kondisi tersebut juga menyulitkan operasi pemadaman dari udara menggunakan metode water bombing.
“Medan yang sulit serta kabut tebal menjadi kendala utama, termasuk untuk operasi water bombing,” kata Oemar.
Tim Fire Rescue BPBD Kabupaten Probolinggo kemudian memfokuskan penanganan pada penyekatan dan pemadaman titik api yang masih dapat dijangkau.
“Tim Fire Rescue BPBD saat ini fokus pada penyekatan dan pemadaman di titik yag bisa dijangkau,” ujarnya.
Hingga Sabtu sore menjelang malam, api masih terus menjalar ke arah wilayah Malang. Sementara itu, luasan kawasan yang terbakar belum dapat dipastikan dan masih menunggu pendataan resmi dari Balai Besar TNBTS.
Kebakaran Bromo Berdampak pada Ekosistem
Kebakaran tersebut menimbulkan perhatian terhadap dampak ekologis di kawasan Bromo. Guru Besar Ekologi Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Insitut Teknologi Bandung (SITH ITB), Prof. Endah Sulistyawati, S.Si., Ph.D., menjelaskan bahwa kebakaran merupakan bentuk gangguan terhadap dinamika ekosistem.
Kebakaran dapat berdampak pada satwa liar karena hilangnya vegetasi berarti berkurangnya tempat berlindung dan sumber pakan. Satwa yang mampu menghindari api dapat berpindah untuk mencari ruang yang lebih aman. Namun, perpindahan ini berpotesi membawa satwa mendekati kawasan permukiman apabila ruang aman di habitatnya tidak tersedia.
Karena itu, Prof. Endah menilai asesmen dari pemetaan kawasan terdampak menjadi langkah penting setelah kebakaran. Pemetaan spasial menggunakan teknologi satelit dapat membantu pengelolaan dan pemulihan.
Kondisi hidrologi juga perlu diperhatikan karena hilangnya vegetasi penutup lahan dapat memengaruhi kemampuan tanah menahan dan menyerap air ketika musim hujan. Pemantauan pascakebakaran diperlukan untuk melihat kondisi lahan sekaligus menentukan bentuk pemulihan yang sesuai.
Di sisi pencegahan, pengawasan terhadap aktivitas pengunjung juga perlu diperkuat, terutama saat musim kemarau ketika vegetasi lebih rentan terbakar.
(NY)
Sumber
https://itb.ac.id/berita/pakar-itb-ungkap-dampak-ekologis-kebakaran-bromo-hingga-strategi-restorasinya/63720
https://kominfo.jatimprov.go.id/berita/gunung-bromo-terbakar-lagi-tim-bpbd-jatim-kembali-kerahkan-water-bombing
https://www.detik.com/jatim/berita/d-8660282/kebakaran-bromo-tak-terkendali-api-hanguskan-lembah-watangan-jemplang