Pasar Baik x Bersaling Silang Volume 4 di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta | Sumber foto: Dok. Pasar Baik
LingkariNews – Membeli sesuatu bukan sekadar soal memenuhi kebutuhan. Pilihan produk, asal produk, hingga bagaimana kemasannya dikelola juga menjadi dari pola konsumsi yang perlu diperhatikan. Gagasan inilah yang ingin dihadirkan Pasar Baik, sebuah ekosistem yang diinisiasi Sustaination untuk mempertemukan brand lokal, komunitas, dan kolaborator dalam mendorong konsumsi yang lebih berkesadaran.
Untuk membangun ekosistem tersebut, Pasar Baik berkolaborasi dengan Bersaling Silang, ruang pertukaran barang yang diinisiasi komunitas Lyfe With Less. Kolaborasi ini berlangsung pada 31 Oktober – 1 November 2026 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, dengan menghadirkan berbagai aktivitas yang saling melengkapi, mulai dari belanja produk lokal, pertukaran barang, hingga pengumpulan sampah untuk dikelola lebih lanjut.
Dalam kegiatan ini, Pasar Baik menghadirkan berbagai tenant lokal yang menawarkan produk makanan dan minuman, pakaian, kerajinan tangan, homeware, kebutuhan personal, produk kebersihan menstruasi, hingga buku. Namun, kegiatan ini tidak hanya berfokus pada transaksi jual-beli. Pengunjung juga didorong untuk membawa wadah sendiri, mengurangi sampah, dan memanfaatkan kembali barang yang masih layak digunakan.
Nurul, penyelenggara Pasar Baik, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut berpegang pada konsep mindful consumption atau konsumsi berkesadaran. Artinya, masyarakat tetap dapat memenuhi kebutuhan dan menikmati kegiatan berbelanja, tetapi lebih memperhatikan dampak dari pilihan konsumsinya.
“Kita masih terus berpegang teguh sama visinya Pasar Baik, yaitu mindful consumption, jadi konsumsi yang berkesadaran terutama yang bikin kita mindful tapi juga joyful,” jelas Nurul saat ditemui di Taman Ismail Marzuki, pada Minggu (1/11/2026).
Kurasi Produk Lokal dan Minim Sampah
Untuk mewujudkan konsep tersebut, Pasar Baik menerapkan kurasi terhadap tenant yang ingin bergabung. Dari hampir 50 pendaftar, sebanyak 25 tenant terpilih untuk mengisi kegiatan ini.
Tenant yang dipilih umumnya merupakan jenama lokal–mempunyai nilai tambah—yang sejalan dengan visi Pasar Baik, seperti melibatkan pengrajin dan komunitas lokal, bekerja sama dengan kelompok masyarakat, atau mengembangkan usaha rumahan. Selain itu, Pasar Baik juga memperhatikan praktik minim sampah yang diterapkan tenant.
Pengunjung, misalnya, didorong membawa wadah sendiri ketika membeli makanan dan minuman. Sejumlah tenant juga menyediakan alternatif kemasan, seperti daun pisang dan kertas kraft. Jika penggunaan plastik tidak dapat dihindari, pengelolaan sampah tetap diarahkan melalui pemilahan.
Tidak berhenti di area belanja, pengunjung juga dapat membawa minyak jelantah, kemasan produk perawatan kulit, sampah elektronik, serta pakaian yang sudah tidak layak pakai untuk disalurkan kepada mitra pengelola. Ada pula mitra yang membantu memperbaiki pakaian yang masih bisa digunakan.
Bersaling Silang jadi Ruang Memperpanjang Usia Barang
Ruang konsumsi sirkular tersebut semakin lengkap melalui kolaborasi Pasar Baik dengan Bersaling Silang di Jakarta. Kegiatan yang diinisiasi komunitas Lyfe With Less ini menyediakan ruang bagi masyarakat untuk bertukar barang yang sudah tidak digunakan, tetapi masih layak pakai.
Peserta dapat membawa pakaian, buku preloved, sepatu, tas, hingga barang elektronik untuk melalui proses kurasi. Barang yang diterima akan ditukar dengan token, yang kemudian digunakan sebagai tiket untuk memilih barang lain di area free market. Peserta memiliki waktu sekitar 15 menit untuk memilih barang yang ingin dibawa pulang.
Menurut Nurul, kegiatan ini memberi kesempatan bagi barang yang sudah tidak dibutuhkan pemilik sebelumnya untuk kembali dimanfaatkan orang lain.
“Diharapkan orang punya wadah untuk memperpanjang usia pakainya dengan memberikan ke orang yang sekiranya lebih membutuhkan. Kemudian ditukar dengan barang orang lainnya yang kita lebih butuhkan,” ujarnya.
Mendorong Kebiasaan Konsumsi yang Lebih Terencana
Dengan adanya ruang alternatif ini, Pasar Baik dan Bersaling Silang berharap dapat mendorong kesadaran pengunjung untuk lebih bijak dalam memenuhi kebutuhan. Sebagian pengunjung bahkan sudah mengumpulkan minyak jelantah selama berbulan-bulan, memilah pakaian dari rumah, hingga menyisihkan anggaran untuk berbelanja sebelum acara berlangsung.
Kebiasaan menunggu acara tersebut dinilai dapat membantu masyarakat lebih berkesadaran dalam berkonsumsi. Dengan mempersiapkan barang yang ingin ditukar dan anggaran yang akan digunakan, pengunjung dapat lebih mempertimbangan kebutuhannya. Harapannya, kebiasaan ini juga dapat mengurangi keinginan untuk berbelanja secara impulsif atau membeli barang yang sebenarnya tidak terlalu diperlukan.
Pasar Baik berharap kegiatan serupa dapat berlangsung secara rutin dan menjangkau lebih banyak kota. Melalui ruang yang menghubungkan belanja produk lokal, pengumpulan sampah, perbaikan barang, dan pertukaran barang, Pasar Baik ingin mendorong terbentuknya komunitas yang saling mendukung praktik konsumsi sirkular.
Di tengah kebiasaan konsumsi masyarakat urban yang serba cepat, memilih produk secara lebih sadar dan memberi kesempatan kedua bagi barang yang masih layak digunakan bisa menjadi bagian dari perubahan kecil dalam keseharian yang baik untuk diri juga lingkungan.
(NY)