Krisis Sampah Semakin Parah, Bali Dijuluki 'Island of Trash'

Kawasan Urban 16 Jul 2026 17 kali dibaca
Gambar Artikel Ilustrasi tumpukan sampah

LingkariNews — Selama bertahun-tahun, Bali dikenal sebagai surga bagi wisatawan internasional. Pulau berjuluk "Island of Gods" ini dikenal karena keindahan pantainya, sawahnya yang asri, kekayaan budayanya, serta keramahan masyarakatnya. Namun, wajah Bali yang memesona itu kini tercoreng karena masalah krisis sampah yang tak kunjung teratasi. Timbunan sampah yang ditemukan di berbagai sudut Bali membuatnya mendapat predikat baru sebagai "Island of Trash".

Masalah Krisis Sampah di Bali

Julukan "Island of Trash" muncul setelah sejumlah media dan influencer mancanegara menyoroti buruknya pengelolaan sampah di Bali. Penelusuran ABC Australia mengungkap adanya penumpukan sampah dan pembuangan liar di sejumlah wilayah yang sebenarnya bukan tempat pembuangan sampah resmi. ABC juga menyebut semakin banyak warga Bali yang membakar sampah mereka. 

Salah satu lokasi yang menjadi sorotan adalah Desa Buduk di Badung. Di tengah lingkungan pedesaan Bali yang masih asri itu, terlihat tumpukan sampah membentang hingga puluhan meter. Padahal, lokasi tersebut bukan tempat pembuangan sampah resmi.

Permasalahan serupa juga ditemukan di kota-kota lain seperti Gianyar, Tabanan, dan Denpasar yang merupakan ibu kota Bali. Di Denpasar, tumpukan sampah terlihat di dekat waduk kota dan beberapa ruas jalan hingga menimbulkan bau tidak sedap serta merusak keindahan kawasan perkotaan.

Penutupan TPA Suwung Memperparah Masalah Sampah di Bali

Masalah krisis sampah di Bali sebenarnya telah berlangsung lama. Namun, masalah ini semakin memburuk setelah adanya pembatasan penerimaan sampah di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Suwung. TPA terbesar di Bali itu setiap hari menampung sekitar 800 ton sampah dari Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan. Namun, volume sampah yang terus meningkat membuat TPA Suwung mengalami overkapasitas. Kondisi ini mendorong Pemprov Bali membatasi penerimaan sampah organik di Suwung, dan berencana menutupnya secara penuh pada Agustus 2026.

Sayangnya, penutupan ini tidak dibarengi fasilitas pengolahan alternatif yang siap beroperasi. Warga yang bingung membuang sampah akhirnya melakukan pembuangan liar dan memicu tumpukan sampah di sejumlah titik. Tak sedikit pula yang membakar sampah hingga menimbulkan kepulan asap di jalanan Bali. 

Akibat masalah ini,  Pemprov sempat membuka kembali Suwung untuk sampah organik selama dua hari dalam seminggu pada Juli lalu. Namun, langkah ini tidak mampu menyelesaikan masalah krisis sampah yang terjadi.

Plastik dan Beban Pariwisata yang Tak Terkelola

Pertumbuhan pariwisata yang pesat turut mendorong peningkatan volume sampah di Bali. Laporan ABC menyebut setiap hari, Bali menghasilkan sekitar 3.500 ton sampah. Sekitar 15 persen di antaranya adalah plastik yang sulit terurai.

Sebenarnya, tingginya kunjungan wisatawan bukan akar masalah dari krisis sampah yang terjadi. Sektor pariwisata justru menyumbang sekitar 70 persen perekonomian Bali. Namun, peningkatan volume sampah yang dihasilkan tidak diimbangi dengan sistem pengelolaan sampah yang optimal. 

Di sisi lain, masyarakat juga belum terbiasa memilah sampah dari sumbernya. Akibatnya, sebagian besar sampah langsung dikirim ke TPA Suwung tanpa proses pemilahan terlebih dahulu. Hal ini memperparah penumpukan sampah di TPA Suwung.

Upaya Mengatasi Masalah Sampah di Bali

Sebagai upaya mengatasi krisis sampah di Bali, pemerintah bersama Danantara Indonesia telah memulai pembangunan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Denpasar. Fasilitas ini digadang-gadang mampu mengurangi 1.500 ton sampah yang dikirim ke TPA Suwung setiap harinya.

Namun, banyak pengamat menilai PSEL tidak bisa jadi solusi tunggal. Pemerintah tetap perlu membangun sistem pengelolaan sampah jangka panjang yang lebih baik. Disamping itu, pemerintah juga harus membangun kebiasaan masyarakat untuk memilah sampah dari sumbernya. Tanpa langkah ini, masalah krisis sampah di Bali berpotensi tetap berlanjut meski PSEL sudah beroperasi.

Wisatawan dan para pelaku usaha juga diharapkan turut berkontribusi mengurangi timbulan sampah. Beberapa tindakan sederhana yang bisa dilakukan antara lain mengurangi penggunaan plastik, membatasi penggunaan kemasan makanan sekali pakai, serta membawa botol minum dan tas belanja yang dapat digunakan kembali.

(KP/NY)

Sumber

https://www.abc.net.au/news/2026-06-28/tourists-are-turning-bali-into-a-trash-island/106831162 

Berita Terpopuler

1
Indonesia Penghasil Sampah Terbesar Ke-5 Dunia: Produksi dan Jenis-Jenisnya
2
Kepolisian Ungkap Tambang Ilegal di Tahura Bukit Soeharto, Kerugian Negara Ditaksir Capai Rp1 Triliun
3
Perkembangan Industri Gula Tahun 2020 hingga 2025
4
Penyebab Banjir dan Longsor di Sumatera: Bencana Alam atau Kerusakan Alam?
5
Indonesia Penyumbang Sampah Laut Terbesar Kedua Dunia

Grafik Harga Gula

Raw Sugar: -
-
White Sugar: -
-
White Sugar: -
-