Kabar Terkini Kebakaran TPA Jatiwaringin

Kawasan Urban 06 Jul 2026 16 kali dibaca
Gambar Artikel Proses pemadaman TPA Jatiwaringin | Sumber kehutanan.go.id

LingkariNews — Selasa (30 Juni), kebakaran hebat melanda Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang. Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) menduga kebakaran dipicu cuaca panas yang memunculkan titik api di tengah timbunan sampah. Api kemudian menjalar hingga membakar sekitar 70 persen dari seluruh area TPA Jatiwaringin.

Memasuki hari ketujuh sejak titik api pertama muncul, upaya pemadaman masih terus dilakukan. Menteri Lingkungan Hidup, Moh Jumhur Hidayat, melaporkan bahwa titik kebakaran kini tinggal tersisa sekitar 3,6 persennya saja. Ia menargetkan seluruh titik api dapat dipadamkan pada Senin sore (6 Juli), atau paling lambat Selasa (7 Juli). Jumhur menjelaskan upaya pemadaman dilakukan melalui berbagai metode, mulai dari water bombing, injeksi air ke lapisan bawah timbunan sampah, hingga pemadaman darat.

Tantangan Pemadaman dan Ancaman Gangguan ISPA

Bara api yang terus bermunculan dari dalam tumpukan sampah membuat proses pemadaman di TPA Jatiwaringin berjalan lambat. Kondisi ini diperparah oleh tiupan angin kencang yang membuat api terus menjalar. Akibatnya, kebakaran meluas hingga membakar area seluas 15 hektare.

Lamanya proses pemadaman ini turut berdampak pada kualitas udara di sekitar lokasi kebakaran. Berdasarkan hasil pemantauan, konsentrasi PM2,5 sempat melonjak cukup tinggi selama beberapa hari. Memasuki hari kelima, angka partikel berukuran 2,5 mikrometer tersebut mulai mengalami penurunan. Meski begitu, kualitas udara di beberapa titik masih tergolong tidak sehat bagi warga sekitar.

Kepulan asap tebal di sekitar lokasi kebakaran berdampak pada kesehatan warga sekitar. Sebanyak 72 warga dilaporkan mengalami Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Untuk mencegah dampak yang lebih luas, sebanyak 231 orang telah diungsikan dari area terdampak asap. Hingga kini, Dinas Kesehatan setempat masih berjaga di posko pengungsian guna menangani warga yang mengalami gangguan kesehatan akibat asap kebakaran.

Potensi Kebakaran Lain Masih Bisa Terjadi

Meski kebakaran di TPA Jatiwaringin hampir padam sepenuhnya, Jumhur mengingatkan cuaca panas akibat El Nino masih berpotensi memicu kebakaran baru. Ia menghimbau pemerintah daerah segera mengambil langkah antisipasi guna mencegah kejadian serupa terulang di TPA lain. Beberapa langkah yang disarankan meliputi menghindari aktivitas berisiko memicu kebakaran di sekitar TPA, menyiapkan sumber air yang memadai, serta melakukan mitigasi sejak dini. 

Sebagai langkah konkret, KLH telah menerbitkan Surat Edaran Menteri Lingkungan Hidup Nomor 11 Tahun 2026 tentang Kesiapsiagaan dan Antisipasi Kebakaran di TPA pada Kondisi Cuaca Panas Ekstrem. Surat edaran tersebut ditujukan kepada seluruh pemerintah daerah agar segera menyiapkan langkah pencegahan serupa di wilayah masing-masing.

Sistem Open Dumping Dinilai Sudah Tak Relevan 

Wakil Ketua MPR, Eddy Soeparno menyebut kebakaran di TPA Jatiwaringin jadi pengingat bahwa sistem open dumping tidak lagi bisa diterapkan. Kapasitas TPA yang sudah hampir penuh menjadi alasan utamanya. Setiap hari, sekitar 1.366 hingga 2.700 ton sampah dikirim ke Jatiwaringin. Jumlah tersebut setara 498.590 hingga 985.500 ton per tahun. Padahal, itu baru mencakup sekitar 59 persen dari total timbulan sampah di Kabupaten Tangerang.

Eddy menjelaskan Indonesia menghasilkan sekitar 56 juta ton sampah setiap tahun. Sebagian besar sampah masih berakhir di TPA. Kondisi itu meningkatkan risiko kebakaran akibat akumulasi gas metana. Metode penimbunan juga memperbesar potensi pencemaran lingkungan. Karena itu, ia menilai pengelolaan sampah perlu beralih menuju mekanisme Waste-to-Energy (WTE).

Senada dengan Eddy, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) menilai kebakaran TPA Jatiwaringin membuktikan sistem pengelolaan sampah nasional belum efektif. Pengkampanye Urban Berkeadilan WALHI Nasional, Wahyu Eka Setyawan, menjelaskan bahwa open dumping memicu produksi gas metana yang tinggi. Jika metode ini terus digunakan, potensi kebakaran akan terus berulang. Hal serupa telah terjadi di sejumlah TPA lain seperti Sarimukti, Kabupaten Bandung, Rawa Kucing, Kota Tangerang, dan Suwung, Denpasar.

(KP/NY)

Berita Terpopuler

1
Indonesia Penghasil Sampah Terbesar Ke-5 Dunia: Produksi dan Jenis-Jenisnya
2
Kepolisian Ungkap Tambang Ilegal di Tahura Bukit Soeharto, Kerugian Negara Ditaksir Capai Rp1 Triliun
3
Perkembangan Industri Gula Tahun 2020 hingga 2025
4
Penyebab Banjir dan Longsor di Sumatera: Bencana Alam atau Kerusakan Alam?
5
Indonesia Penyumbang Sampah Laut Terbesar Kedua Dunia

Grafik Harga Gula

Raw Sugar: -
-
White Sugar: -
-
White Sugar: -
-