LingkariNews — Bagi kamu yang mulai serius menjalani konsep zero waste, kamu pasti sering melihat kampanye Plastic Free July berseliweran di media sosial dalam beberapa hari terakhir. Kampanye ini kerap dikaitkan dengan gaya hidup minim sampah dan gerakan untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.
Jika diterjemahkan secara sederhana, kampanye tersebut berarti "Juli Bebas Plastik". Tapi sebenarnya, apa sih kampanye ini? Bagaimana gerakan ini bermula, dan seperti apa penerapannya di kehidupan sehari-hari?
Apa Itu Plastic Free July?
Plastic Free July adalah gerakan yang mengajak masyarakat mengurangi penggunaan plastik sekali pakai selama bulan Juli. Gerakan ini dipelopori Rebecca Prince-Ruiz bersama komunitas lingkungan di Australia Barat pada 2011. Selama satu bulan penuh, peserta didorong untuk mengurangi penggunaan plastik melalui kebiasaan-kebiasaan sederhana. Mulai dari membawa tas belanja sendiri, botol minum isi ulang, wadah makan, serta menolak sedotan plastik.
Semangat utama dari gerakan ini adalah ”choose to refuse”, yaitu memilih menolak plastik sekali pakai sebagai langkah kecil yang dapat mengurangi timbulan sampah dari aktivitas sehari-hari.
Mengapa Gerakan Plastic Free July Penting?
Sampah plastik telah menjadi masalah global. Data United Nations Environment Programme (UNEP) menyebut setiap tahunnya, dunia menghasilkan sekitar 400 juta ton sampah plastik. Sayangnya, hanya sekitar 10 persen yang berhasil didaur ulang. Sisanya mencemari sungai, tanah, hingga laut.
Permasalahan serupa juga terjadi di Indonesia. Menurut data World Bank tahun 2025, Indonesia menghasilkan sekitar 7,8 juta ton sampah plastik setiap tahun. Sebanyak 4,9 juta ton di antaranya belum dikelola dengan baik sehingga berpotensi mencemari lingkungan. Padahal, sampah plastik menjadi penyumbang timbunan sampah terbesar kedua di Indonesia. Data Sistem Informasi Manajemen Limbah Nasional (SIPSN) mencatat, sampah plastik menyumbang 19,76 persen timbulan sampah di Indonesia.
Yang lebih mengkhawatirkan, Data Asosiasi Industri Olefin dan Plastik Indonesia (INAPLAS) menunjukan sekitar 65 persen konsumsi plastik nasional masih berasal dari produk sekali pakai. Ketergantungan pada plastik sekali pakai yang tinggi ini berpotensi membuat volume sampah plastik terus bertambah dan meningkatkan tekanan terhadap lingkungan. Oleh karena itu, Plastic Free July menjadi gerakan yang sangat relevan di Indonesia.
Perubahan yang Dihasilkan
Seiring waktu, gerakan yang awalnya diinisiasi oleh sekitar 40 pegiat lingkungan di Australia Barat telah berkembang menjadi gerakan global. Semakin banyak orang di berbagai belahan dunia mulai menyadari dampak plastik sekali pakai dan mulai mengurangi penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari. Laporan tahunan Plastic Free Foundation 2025 mencatat, lebih dari 174 juta orang telah berpartisipasi dalam gerakan ini.
Gerakan ini juga telah berhasil menginspirasi pemerintah, perusahaan, dan organisasi lingkungan di berbagai negara. Di Toronto misalnya, terdapat Single-Use Plastic Free Day. Senat Negara Bagian New York menetapkan Juli sebagai Bulan Bebas Plastik. Sedangkan Bandara Gatwick, London, rutin dilakukan kegiatan Plastic Free July. Selain itu masih banyak kota, pelaku usaha, sekolah, hingga pemerintahan di berbagai belahan dunia yang menjalankan inisiatif serupa dalam berbagai bentuk kegiatan.
Plastic Free July telah menghasilkan dampak nyata. Selama Juli 2025, gerakan ini berhasil mengurangi konsumsi plastik hingga 290 ribu ton. Kampanye Plastic Free July juga berhasil mengurangi 1,4 juta ton sampah yang sulit didaur ulang, dan 900 ribu ton sampah yang dapat didaur ulang selama tahun 2025. Dalam tujuh tahun terakhir, gerakan ini berhasil mencegah timbulnya sekitar 15 juta ton sampah.
Langkah Kecil yang Menghasilkan Perubahan Besar
Perubahan besar yang dihasilkan gerakan Plastic Free July berawal dari tindakan sederhana setiap pesertanya. Seperti menolak kantong plastik, memilih produk isi ulang, menghindari kemasan yang tidak diperlukan, serta menggunakan barang yang dapat dipakai berulang kali. Kebiasaan ini mungkin terlihat kecil jika dilakukan sendiri. Namun ketika diterapkan secara kolektif, kebiasaan ini mampu mengurangi penggunaan plastik sekali pakai secara signifikan.
Apakah kamu siap menjadi bagian dari gerakan ini? Mulailah dari dirimu sendiri dari sekarang.
(KP/NY)