BMKG: Bibit Siklon Tropis 91B Terbentuk di Laut Andaman | Sumber foto: BMKG
LingkariNews — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menginformasikan adanya Bibit Siklon Tropis 91B di Laut Andaman, utara Aceh, pada 29 Oktober 2026 pukul 01.00 WIB. Fenomena ini memiliki peluang sedang untuk berkembang menjadi siklon tropis dan diprakirakan bergerak ke barat hingga barat laut, menjauhi Indonesia.
Meski diprakirakan menjauh, bibit siklon tersebut masih berpotensi menimbulkan dampak tidak langsung hingga 30 Oktober 2026 pukul 07.00. Dampak yang perlu diwaspadai, yakni berupa hujan dengan intensitas sedang hingga lebat di Aceh dan Sumatra Utara, serta gelombang laut setinggi 1,25–2,5 meter di Selat Malaka bagian utara.
Apa Itu Siklon Tropis?
Siklon tropis merupakan sistem badai bertekanan rendah yang terbentuk di atas perairan tropis atau subtropis yang hangat. Mengutip laman BMKG, fenomena ini ditandai oleh sirkulasi angin yang berputar mengelilingi pusat tekanan rendah dan disertai awan tebal.
Pembentukan siklon tropis berawal dari penguapan air laut yang intens akibat tingginya suhu permukaan laut. Udara hangat dan lembap kemudian naik, mendingin, lalu mengalami kondensasi. Proses ini melepaskan energi yang dapat memperkuat sistem badai.
Namun, tidak semua gangguan atmosfer berkembang menjadi siklon tropis. Pembentukannya membutuhkan kondisi lingkungan yang mendukung, antara lain suhu permukaan laut di atas 26,5 derajat Celsius, tekanan udara rendah, kelembapan tinggi, atmosfer yang tidak stabil, serta geseran angin vertikal yang lemah. Pengaruh rotasi bumi atau gaya Coriolis juga membantu pembentukan dan pergerakan sistem tersebut.
Dampak Siklon Tropis bagi Indonesia
Siklon tropis memiliki struktur yang terdiri atas mata siklon, dinding mata, dan pita hujan yang mengelilingi pusatnya. Mata siklon merupakan bagian yang relatif tenang, sedangkan dinding mata dapat mengalami angin paling kencang dan hujan lebat.
Fenomena ini dapat memicu berbagai dampak, mulai dari hujan lebat, banjir, angin kencang, gelombang tinggi, hingga tanah longsor. Siklon tropis juga dapat menyebabkan kerusakan infrastruktur serta mengganggu transportasi, jaringan listrik, dan komunikasi di wilayah terdampak.
Indonesia yang berada dekat garis khatulistiwa relatif jarang dilintasi langsung oleh siklon tropis. Meski demikian, dampak tidak langsungnya tetap dapat dirasakan, seperti peningkatan curah hujan, angin kencang, gelombang tinggi, dan perubahan pola cuaca regional.
Siklon tropis juga dapat melemah ketika bergerak menuju daratan atau memasuki lingkungan yang kurang mendukung perkembangannya. Berkurangnya pasokan energi dari laut hangat dan meningkatnya gesekan permukaan dapat menghambat kekuatan sistem badai.
Dengan keberadaan Bibit Siklon Tropis 91B di utara Aceh, BMKG mengimbau masyarakat, terutama pengguna transportasi laut dan wilayah yang berpotensi terdampak untuk tetap waspada dan memantau informasi cuaca serta peringatan dini yang dikeluarkan oleh lembaga resmi.
(NY)