Tag Satelit Ungkap Paus Biru Kerdil Jelajahi 2.000 Km Perairan Indonesia dalam 9 Hari

Kelautan 17 Feb 2026 33 kali dibaca
Gambar Artikel Ilustrasi paus biru kerdil

LingkariNews – Ekspedisi Spesies Laut Bermigrasi 2025 di bentang Laut Sunda Kecil mencatat terobosan penting dalam riset paus biru kerdil dan konservasi megafauna laut. Tim peneliti berhasil memasang tag satelit berbasis drone pada paus biru kerdil di Laut Sawu. Hasil pelacakan awal menunjukkan mamaliat laut tersebut menempuh jarak lebih dari 2.000 kilometer hanya dalam sembilan hari pemantauan. 

Paus biru kerdil ditandai 13 Oktober 2025 dan sinyal terakhir diterima pada 22 Oktober 2025. Data pergerakan ini memberikan gambaran nyata tentang luasnya jalur migrasi paus biru kerdil, sekaligus menegaskan pentingnya kebijakan perlindungan berbasis data ilmiah dan kolaborasi lintas wilayah. 

Menurut Iqbal Herwata dari Konservasi Indonesia, metode pemasangan tag satelit menggunakan drone terbukti lebih minim risiko dibanding teknik konvensional. Meski hanya satu dari empat tag satelit yang berhasil terpasang, pendekatan less-invansif ini membuka peluang baru dalam penelitian mamalia laut besar. 

Bentang Laut Sunda Kecil, Jalur Strategis Migrasi Paus

Bentang Laut Sunda Kecil merupakan koridor penting yang menghubungkan Samudra Hindia dan Pasifik, serta berada di kawasan Segitiga Terumbu Karang. Karakter arus dan topografi bawah lautnya menjadikan wilayah ini sangat produktif sekaligus jalur migrasi utama bagi paus, lumba-lumba, dan hiu paus. 

Selama ini, keterbatasan data migrasi menyebabkan kebijakan pengelolaan satwa laut belum sepenuhnya berbasis informasi komprehensif. Jalur migrasi, area istirahat, dan lokasi mencari makan paus masih membutuhkan pemetaan lebih detail. 

Ekspedisi ini melibatkan kolaborasi berbasis lembaga, temasuk Elasmobranch Institute Indonesia, James Cook University, Universitas Muhammadiyah Kupang, dan Universidade Nacional Timor Lorosa’e. Kerja sama ini bertujuan memperkuat kapasitas riset kelautan serta pertukaran pengetahuan antar negara. 

Teknologi Tag Satelit LIMPET untuk Pelacakan Paus Biru

Dalam penelitian ini, tim menggunakan tag satelit tipe LIMPET untuk melakukan satelite tracking paus biru kerdil. Tag ini dirancang dengan dampak minimal dan memiliki duna anak panah sepanjang sekitar tujuh sentimeter yang menancap di bawah kulit paus. 

Tantangan terbesar pemasangan tag satelit adalah presisi dan waktu. Area tubuh paus yang dapat dipasangi tag hanya muncul sekitar dua detik di permukaan laut. Posisi ideal pemasangan berada di belakang blowhole dan di depan dorsal fin, sehingga faktor angin, gelombang, dan pergerakan paus sangat menentukan keberhasilan. 

Selain pelacakan paus biru kerdil di Laut Sawu, tim juga mencatat variasi perilaku paus di sejumlah lokasi. Di tenggara Pulau Wetar, paus teramati melakukan logging atau beristirahat di permukaan. Sementara di Laut Sawu, paus cenderung terus bergerak kecuali di area seamount tertentu. Temuan ini memperkaya pemahaman tentang penggunaan habitat paus biru di perairan timur Indonesia. 

Data Migrasi untuk Kebijakan dan Ekonomi Biru 

Ekspedisi ini juga turut mendokumentasikan sekitar 10–12 spesies megafauna laut, seperti perilaku kawin spinner dolphin dan melon-headed whale. Informasi tersebut penting untuk memahami musim biologis serta kebutuhan habitat spesies migrasi.

Data pergerakan paus biru kerdil memiliki implikasi langsung terhadap kebijakan konservasi. Jalur migrasi dapat dianalisis bersama jalur pelayaran, area penangkapan ikan, dan lokasi rumpon untuk mengidentifikasi potensi risiko. Wilayah dengan tingkat perjumpaan tinggi berpotensi memerlukan pengelolaan khusus, termasuk pengaturan wisata pengamatan paus agar tetap berkelanjutan. 

Ke depan, data tag satelit di bentang Laut Sunda Kecil diharapkan menjadi dasar identifikasi area penting bagi paus biru kerdil, termasuk jalur migrasi utama dan kawasan prioritas perlindungan. Pendekatan berbasis sains dan teknologi ini dinilai krusial dalam mendukung kebijakan konservasi sekaligus pengembangan ekonomi biru yang berkelanjutan di kawasan Indonesia dan Timor Leste. 

(NY)

 

Sumber

https://konservasi-id.org/tag-satelit-ungkap-perjalanan-2-000-km-paus-biru-kerdil-di-indonesia/