Ular kobra jawa
LingkariNews — Sebuah studi baru-baru ini mengungkapkan bahwa ratusan spesies ular di berbagai belahan dunia mulai bergerak mendekati kawasan permukiman manusia. Yang mengkhawatirkan, sebagian dari spesies ular yang bermigrasi mendekati pemukiman manusia merupakan ular berbisa. Para peneliti menjelaskan bahwa fenomena ini disebabkan oleh peningkatan suhu Bumi yang semakin hangat akibat perubahan iklim.
Ular merupakan hewan berdarah dingin yang sangat bergantung pada suhu lingkungan untuk mengatur metabolisme tubuhnya. Ketika habitat asli mereka menjadi terlalu panas akibat pemanasan global, ular cenderung bermigrasi ke pemukiman manusia karena lebih cocok untuk bertahan hidup dan mencari makanan.
Alih Fungsi Lahan Turut Dorong Migrasi Ular
Alih fungsi lahan dan pergeseran sumber pakan turut mendorong banyak spesies ular bergerak lebih dekat ke lingkungan manusia, termasuk ular berbisa. Banyak habitat alami ular, seperti hutan, semak, dan lahan basah dialihfungsikan menjadi kawasan pertanian, perkebunan, maupun permukiman. Perubahan ini membuat berbagai spesies kehilangan tempat berlindung dan ruang hidupnya. Kondisi tersebut memaksa ular mencari lokasi baru untuk bertahan hidup, berkembang biak, dan memperoleh makanan.
Area pertanian dan permukiman menjadi tujuan yang menarik karena menyediakan mangsa seperti tikus dan ayam. Selain itu, kolam, saluran drainase, serta tumpukan material juga dapat menjadi tempat berlindung yang sesuai bagi ular.
Risiko Gigitan Ular Berbisa Kian Meningkat
Bergesernya ratusan spesies ular ke area yang lebih dekat dengan permukiman manusia meningkatkan potensi konflik antara manusia dan satwa tersebut. Dampaknya tidak hanya berupa perjumpaan yang lebih sering, tetapi juga meningkatnya risiko gigitan ular berbisa yang berbahaya bagi manusia.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal PLOS Neglected Tropical Diseases mencatat, sekitar 4 juta kasus gigitan ular terjadi setiap tahunnya. Dari jumlah itu, sekitar 138 ribu orang meninggal dunia. Sementara itu, sekitar 400 ribu orang mengalami cacat permanen. Angka tersebut diperkirakan lebih tinggi karena banyak kasus di wilayah terpencil tidak tercatat secara resmi.
Para peneliti juga menyebut wilayah miskin dan terpencil memiliki risiko gigitan ular yang lebih tinggi. Banyak warga di daerah tersebut masih bekerja tanpa alas kaki di lahan pertanian. Kondisi itu meningkatkan peluang kontak langsung dengan ular. Di sisi lain, akses terhadap fasilitas kesehatan dan serum antibisa sering kali terbatas.
Ketersediaan antibisa juga belum merata di banyak wilayah. Akibatnya, korban gigitan ular berbisa menghadapi risiko komplikasi hingga kematian yang lebih besar dibandingkan masyarakat di daerah dengan layanan kesehatan yang lebih baik.
Ancaman Gigitan Ular di Indonesia
Temuan diatas perlu menjadi perhatian serius. Fenomena ini berpotensi meningkatkan frekuensi pertemuan antara manusia dan ular, khususnya di Indonesia. Indonesia merupakan negara dengan jumlah spesies ular terbanyak ketiga di dunia. Tercatat ada sekitar 376 spesies ular yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. 77 diantaranya merupakan spesies ular berbisa.
Ahli toksikologi, dr Tri Maharani menyebut sedikitnya terdapat 135 ribu kasus gigitan ular setiap tahun dengan angka kematian mencapai sekitar 10 persen. Tingginya korban jiwa akibat kasus gigitan ular ini dipengaruhi oleh keterbatasan serum antibisa dan akses layanan kesehatan, terutama di daerah-daerah pelosok. Selain itu, masih banyak masyarakat yang mengandalkan pertolongan pertama tradisional yang tidak tepat.
Untuk mencegah meningkatnya konflik antara manusia dan ular akibat pergeseran habitat, diperlukan langkah pencegahan yang dilakukan secara terpadu. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah mengurangi laju deforestasi yang menghilangkan habitat alami satwa liar. Masyarakat juga perlu menjaga kebersihan lingkungan dan mengendalikan populasi tikus yang menjadi sumber pakan utama ular.
Selain itu, predator alami ular seperti biawak dan burung pemangsa perlu dilindungi agar keseimbangan ekosistem tetap terjaga. Di saat yang sama, edukasi mengenai pencegahan dan penanganan gigitan ular berbisa perlu diperkuat agar masyarakat lebih siap menghadapi potensi perjumpaan dengan ular di sekitar permukiman.
(KP/NY)