20 Tahun Berlalu, Lumpur Lapindo Hasilkan 100.000 Ton Gas Metana Setiap Tahun

Iklim 23 Jun 2026 53 kali dibaca
Gambar Artikel Lumpur lapindo dari area pengeboran gas milik PT Lapindo Brantas di Desa Renokenongo, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur.

LingkariNews - Senin, 29 Mei 2006, material lumpur panas menyembur dari area pengeboran gas milik PT Lapindo Brantas di Desa Renokenongo, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Peristiwa itu segera menggegerkan masyarakat dan kemudian dikenal sebagai lumpur Lapindo. Dua dekade sejak kejadian tersebut, lumpur panas masih terus menyembur dari perut bumi. Semburan tersebut tidak hanya merendam ribuan rumah dan fasilitas umum, tetapi juga memicu ancaman serius bagi bumi. 

Penelitian berjudul Relevant Methane Emission to the Atmosphere from a Geological Gas Manifestation dari Scientific Reports menyebut, emisi gas metana dari semburan lumpur Lapindo mencapai 100.000 ton per tahun. Emisi itu setara dengan kebocoran 6.250 truk tangki gas setiap tahunnya. Angka ini juga menempatkan Lapindo dalam kategori super emitter, sekaligus menjadikan Sidoarjo sebagai penghasil emisi metana besar di tingkat global. 

Bahaya Emisi Gas Metana Lapindo

Metana (CH4) adalah gas rumah kaca terbesar kedua setelah karbon dioksida (CO2). Meski jumlahnya di atmosfer lebih kecil, daya rusak metana jauh lebih besar dinanding karbondioksida. Data Climate and Clean Air Coalition menyebut, efek rumah kaca metana 86 kali lebih kuat dibandingkan CO2 dalam periode 20 tahun.

Kepala Divisi Advokasi dan Kampanye Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Jawa Timur, Lucky Wahyu Wardhana juga menjelaskan bahwa gas metana memiliki kemampuan memerangkap panas 28 kali lebih kuat dibandingkan karbon dioksida. Artinya, setiap ton emisi metana lumpur Lapindo yang terlepas ke atmosfer dapat mempercepat peningkatan suhu bumi dan memperburuk perubahan iklim.

Ancaman Lingkungan dan Kesehatan

Emisi metana dari semburan lumpur Lapindo tidak hanya menjadi ancaman iklim global, tetapi juga menjadi teror bagi ribuan warga yang hidup berdampingan dengan kolam lumpur raksasa tersebut. Warga yang tinggal di sekitar lokasi semburan mengeluhkan udara yang semakin panas, bau menyengat, tanah yang mengering, dan air sumur menjadi keruh. 

Kondisi ini bukan suatu kebetulan. Gas metana memiliki sifat alami untuk memerangkap panas di atmosfir. Hal ini membuat suhu di sekitar lokasi semburan lumpur meningkat, kelembaban tanah berkurang, dan terganggunya kualitas air tanah.

Emisi gas metana yang dihasilkan lumpur Lapindo juga meningkatkan risiko kesehatan bagi masyarakat. Beberapa penelitian menemukan adanya kandungan logam berat seperti timbal (Pb) dan kadmium (Cd) pada material semburan. Kedua zat ini bersifat toksik dan dapat dapat memicu iritasi kulit dan gangguan pernapasan. Parahnya, timbal dan kadmium dapat terakumulasi di dalam tubuh sehingga paparan jangka panjang berpotensi meningkatkan risiko gangguan organ dan kanker.

Tantangan Mitigasi yang Tidak Mudah

Dampak emisi lumpur Lapindo yang masif menuntut penanganan segera agar tidak terus memperparah krisis iklim global. Namun, upaya itu dihadapkan dengan tantangan teknis yang tidak sederhana. Pemantauan satelit TROPOMI menunjukkan bahwa gas metana Lapindo dilepaskan dari empat jalur sekaligus, yaitu dua kawah semburan utama, rembesan di permukaan lumpur, retakan tanah, dan ribuan titik semburan kecil yang tersebar di area sekitar 7km². Banyaknya titik sumber emisi membuat sistem penangkapan gas menjadi sangat kompleks dan tidak ekonomis untuk dijalankan.

Sejumlah pendekatan mitigasi lainnya juga sebenarnya telah diusulkan. Mulai dari pemanfaatan metana sebagai energi alternatif, hingga bioremediasi menggunakan bakteri metanotrof yang mampu mengoksidasi metana menjadi senyawa lebih stabil. Namun semua opsi masih menghadapi hambatan teknis dan pendanaan yang besar. 

Sekarang dua puluh tahun sudah berlalu dan semburan lumpur Lapindo masih belum berhenti. Solusi konkret tak kunjung dihasilkan. Tragedi ini menjadi peringatan bahwa kelalaian industri dapat menimbulkan dampak lingkungan dan sosial yang terus dirasakan hingga puluhan tahun kemudian.

(KP/NY) 

Sumber

https://www.ccacoalition.org/short-lived-climate-pollutants/methane 

Berita Terpopuler

1
Indonesia Penghasil Sampah Terbesar Ke-5 Dunia: Produksi dan Jenis-Jenisnya
2
Kepolisian Ungkap Tambang Ilegal di Tahura Bukit Soeharto, Kerugian Negara Ditaksir Capai Rp1 Triliun
3
Perkembangan Industri Gula Tahun 2020 hingga 2025
4
Penyebab Banjir dan Longsor di Sumatera: Bencana Alam atau Kerusakan Alam?
5
Indonesia Penyumbang Sampah Laut Terbesar Kedua Dunia

Grafik Harga Gula

Raw Sugar: -
-
White Sugar: -
-
White Sugar: -
-