Kematian Massal Ikan di Gunung Batur Bukan Tanda Erupsi, Ini Penjelasannya

Sains 29 Jul 2026 18 kali dibaca
Gambar Artikel

LingkariNews — Sebanyak kurang lebih 37 ton ikan budidaya milik petani di Danau Batur dilaporkan mati dalam waktu singkat. Peristiwa ini disertai dengan letupan gas berbau belerang yang menyengat. Kepala Bidang Perikanan Dinas Peternakan dan Ketahanan Pangan Bangli I Wayan Agus Wirawan mengatakan, kematian massal ikan ini terjadi pada Senin (20/7/2026) sekitar pukul 03.30 WITA.

Penyebab Kematian Massal Ikan di Danau Batur

Badan Geologi menjelaskan bahwa kematian massal ikan di Danau Batur dipicu oleh proses alami. Fenomena ini berkaitan dengan dinamika limnologis dan sistem hidrotermal alami di kaldera Gunung Batur. Limnologis merupakan perubahan kondisi fisik dan kimia air danau. Sementara sistem hidrotermal alami adalah aktivitas panas bumi yang memengaruhi pergerakan air dan gas di bawah permukaan.

Air di Danau Batur memiliki karakteristik berbeda pada bagian permukaan dan dasarnya. Air di permukaan danau kaya akan oksigen sehingga mendukung kehidupan ikan dan organisme air. Sebaliknya, lapisan air di dasar danau mengandung sedikit oksigen. Air di dasar danau juga mengandung banyak bahan organik hasil pembusukan pakan, serta gas terlarut. 

Dalam kondisi tertentu seperti cuaca dingin dan angin kencang, terjadi percampuran massa air permukaan dan dasar danau. Air permukaan yang kaya oksigen terdorong ke bagian bawah danau. Sebaliknya, air dasar yang keruh, minim oksigen, serta mengandung gas terlarut seperti hidrogen sulfida (H₂S) naik ke permukaan. Fenomena ini dikenal sebagai overturn atau upwelling, yaitu naiknya air dari dasar menuju permukaan.

Saat percampuran terjadi, kadar oksigen terlarut di permukaan yang jadi lokasi budidaya ikan turun drastis sekaligus muncul bau belerang yang menyengat. Turunnya kadar oksigen terlarut ini membuat ikan dan biota air kesulitan bernapas. Akibatnya, terjadi fenomena kematian massal ikan.

Apakah Fenomena Serupa Pernah Terjadi di Tempat Lain?

Kepala Bidang Perikanan Dinas Peternakan dan Ketahanan Pangan Bangli, I Wayan Agus Wirawan, mengatakan fenomena kematian massal ikan akibat upwelling merupakan kejadian tahunan yang umum terjadi. Menurutnya, cuaca buruk kerap memicu belerang dari dasar danau naik ke permukaan air.

Fenomena serupa sudah berulang kali terjadi di berbagai wilayah. Pada 2018, sekitar sekitar 180 ton ikan budidaya di Danau Toba mati. Penyebabnya karena fenomena upwelling yang membuat kadar oksigen di permukaan turun drastis.

Peristiwa kematian massal ikan juga pernah terjadi Danau Maninjau pada tahun 2016. Saat itu, sekitar 20 ton ikan budidaya dilaporkan mati. Kejadian ini juga disertai dengan munculnya bau belerang yang menyengat.

Kemudian pada Desember 2025, sebanyak 1.428,73 ton ikan budidaya di Danau Maninjau kembali mengalami kematian massal. Penyebabnya sama, yaitu naiknya air dasar danau yang miskin oksigen serta mengandung gas dan bahan organik ke permukaan. Warga setempat menyebutnya sebagai fenomena Tubo Belerang.

Meski mekanismenya telah dipahami, waktu kemunculan, durasi, dan luas area terdampak tetap sulit diprediksi karena merupakan proses alami. Karena itu, Agus mengimbau pembudidaya memahami pola upwelling. Langkah tersebut dapat membantu mereka menunda penebaran benih ketika terjadi upwelling, atau mempercepat panen sebelum kondisi memburuk.

Bukan Tanda Gunung Batur Akan Erupsi

Badan Geologi menegaskan kematian massal ikan di Danau Batur merupakan dampak dinamika alami dan bukan indikasi awal erupsi Gunung Batur. Hasil pemantauan juga tidak menunjukkan peningkatan kegempaan vulkanik. Karena itu, tingkat aktivitas Gunung Batur masih berada pada Level I atau Normal. Meski demikian, warga dan wisatawan tetap diminta menjauhi area yang terdampak semburan gas.

Saat ini, semburan gas belerang dilaporkan telah berhenti. Namun, potensi semburan lanjutan masih dapat terjadi. Masyarakat diimbau tetap mengikuti informasi resmi dari pihak berwenang.

(KP/NY)

Berita Terpopuler

1
Indonesia Penghasil Sampah Terbesar Ke-5 Dunia: Produksi dan Jenis-Jenisnya
2
Kepolisian Ungkap Tambang Ilegal di Tahura Bukit Soeharto, Kerugian Negara Ditaksir Capai Rp1 Triliun
3
Perkembangan Industri Gula Tahun 2020 hingga 2025
4
Penyebab Banjir dan Longsor di Sumatera: Bencana Alam atau Kerusakan Alam?
5
Warga Sukatani Tolak Proyek Geotermal Gunung Gede Pangrango

Grafik Harga Gula

Raw Sugar: -
-
White Sugar: -
-
White Sugar: -
-