Gempa Susulan Terus Mengguncang NTT, Apa Penyebabnya?

Sains 26 Agus 2026 77 kali dibaca
Gambar Artikel Foto Ilustrasi

LingkariNews — Sejak gempa bermagnitudo 7,7 mengguncang Nusa Tenggara Timur pada Sabtu, 15 Agustus 2026 pukul 04.58 WIB, sudah terjadi 6.407 kali gempa susulan. Beberapa di antaranya bahkan memiliki magnitudo di atas 5. Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat, per 24 Agustus 2026 pukul 05.00 WIB terdapat 33 gempa susulan dengan magnitudo di atas 5. Yang terbesar bahkan mencapai magnitudo 6,2. 

Aktivitas seismik yang masih berlangsung ini kemudian menimbulkan pertanyaan dan kekhawatiran, mengapa gempa susulan pascagempa NTT masih terus terjadi?

Mekanisme Terjadinya Gempa Bumi

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Eko Yulianto, menjelaskan bahwa gempa susulan merupakan fenomena normal. Peristiwa tersebut merupakan bagian dari proses alamiah bumi setelah gempa utama terjadi.

Secara teknis, gempa bumi terjadi akibat tumbukan atau pergerakan lempeng tektonik yang saling mendorong. Ketika lempeng bumi terus bergerak, tekanan di sekitar batas lempeng semakin besar dan membuat batuan mengalami strain atau regangan. 

Tegangan yang terus terakumulasi pada satu titik akan melampaui kekuatan batuan. Akibatnya, batuan mengalami patahan atau pergeseran secara tiba-tiba di sepanjang bidang sesar. Energi yang dilepaskan dalam bentuk gelombang seismik ini menimbulkan getaran dan kita sebut sebagai gempa. Proses ini jugalah yang menyebabkan terjadinya gempa NTT.

Mengapa Gempa Susulan Terus Terjadi?

Pasca gempa utama, tegangan di sekitar patahan tidak langsung kembali seimbang dan stabil. Perubahan posisi batuan ketika gempa terjadi membuat daerah di sekitar sesar mengalami penyesuaian dan redistribusi tegangan. Lempeng yang sebelumnya saling menekan juga secara perlahan merenggang kembali. Penyesuaian ini membuat bidang patahan kembali bergeser dan melepaskan energi. Fenomena inilah yang menyebabkan getaran dan gempa lanjutan.

Jadi, fenomena gempa susulan pada hakikatnya merupakan mekanisme alami bumi untuk mencari keseimbangannya kembali. Bidang patahan terus bergeser perlahan hingga menemukan posisi yang stabil. Selama kondisi di sekitar bidang patahan belum stabil, gempa lanjutan masih berpotensi terus terjadi.

Sampai Kapan Gempa Susulan Terjadi?

Eko Yulianto menjelaskan gempa susulan bisa berlangsung dalam rentang waktu yang panjang. Bisa dalam hitungan minggu, bulan, bahkan tahun. Ia mencontohkan gempa dan tsunami Pangandaran pada 2006, gempa susulannya masih terus terjadi hingga beberapa tahun setelah kejadian. Dengan demikian, apa yang terjadi di NTT merupakan hal yang normal.

Gempa susulan umumnya memiliki kekuatan lebih kecil dibandingkan gempa utamanya. Meski demikian, beberapa diantaranya dapat terasa kuat jika terjadi dekat permukaan atau wilayah permukiman. Frekuensi gempa susulan juga biasanya terus menurun seiring waktu. Pola tersebut secara ilmiah dijelaskan melalui Hukum Omori-Utsu.

Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, mengungkapkan bahwa rentetan gempa susulan di NTT dapat diperkirakan berlangsung selama 3-4 minggu sejak gempa utama terjadi. Oleh karena itu, masyarakat di wilayah terdampak diminta tetap waspada. Gempa susulan bermagnitudo cukup besar masih berpotensi terjadi dan merusak bangunan yang sebelumnya telah mengalami kerusakan.

(KP/NY)

Berita Terpopuler

1
Indonesia Penghasil Sampah Terbesar Ke-5 Dunia: Produksi dan Jenis-Jenisnya
2
Kepolisian Ungkap Tambang Ilegal di Tahura Bukit Soeharto, Kerugian Negara Ditaksir Capai Rp1 Triliun
3
Perkembangan Industri Gula Tahun 2020 hingga 2025
4
Penyebab Banjir dan Longsor di Sumatera: Bencana Alam atau Kerusakan Alam?
5
Warga Sukatani Tolak Proyek Geotermal Gunung Gede Pangrango

Grafik Harga Gula

Raw Sugar: -
-
White Sugar: -
-
White Sugar: -
-