Badak Kalimantan
LingkariNews — Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur berencana melakukan prosedur bayi tabung kepada Badak Kalimantan (Dicerorhinus sumatrensis harrissoni) yang kini hanya tersisa dua ekor. Upaya ini dilakukan karena kedua individu yang masih bertahan, yakni Pahu dan Pari Mahulu, sama-sama berjenis kelamin betina. Kondisi tersebut membuat perkembangbiakan secara alami tidak mungkin terjadi.
Kasubdit Pengawetan Spesies dan Genetik Direktorat Konservasi Spesies dan Genetik Kementerian Kehutanan, Budi Mulyanto menjelaskan bahwa tanpa prosedur bayi tabung ini spesies Badak Kalimantan berpotensi punah dalam 10 tahun ke depan. Dengan kata lain, program bayi tabung ini menjadi satu-satunya harapan untuk mencegah kepunahan mereka. “Kalau kita tidak bertindak sekarang, mungkin 10 tahun lagi kita hanya bisa melihatnya di buku sejarah,” ujar Budi.
Saat ini, Pahu telah berada dalam pengelolaan konservasi di Suaka Badak Kelian, Kalimantan Timur. Sementara itu, Pari Mahulu masih hidup di habitat alaminya di Kabupaten Mahakam Ulu.
Pari Mahulu Segera Dipindahkan ke Suaka Badak Kelian
Untuk mendukung rencana program bayi tabung, pemerintah bersama lembaga konservasi dan para peneliti sepakat memindahkan Pari Mahulu ke Suaka Badak Kelian. Langkah ini dinilai penting karena kawasan konservasi tersebut memiliki sistem pengelolaan yang lebih terkendali.
Setelah tiba di Suaka Badak Kelian, Pari Mahulu direncanakan akan menjalani masa adaptasi serta serangkaian pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh. Tahapan ini dilakukan untuk memastikan kesiapan Pari Mahulu menjalani prosedur bayi tabung.
Berdasarkan evaluasi awal, usia Pari Mahulu yang masih relatif muda dan kondisi fisiknya yang dinilai baik memiliki peluang reproduksi yang lebih besar dibandingkan Pahu. Pahu sendiri diperkirakan telah berusia lebih dari 30 tahun. Kondisi itu memberikan harapan baru bagi upaya pelestarian Badak Kalimantan yang populasinya kini berada pada tingkat sangat kritis.
Saat ini, tim BKSDA Kalimantan Timur masih mematangkan berbagai kebutuhan teknis untuk proses pemindahan Pari Mahulu dari hutan Mahakam Ulu. Sejumlah fasilitas termasuk kandang karantina, paddock, dan kandang eksklosur berukuran besar tengah disiapkan. Selain itu, tim juga menyusun standar pemindahan dengan tingkat keamanan tinggi untuk meminimalisir risiko terhadap satwa. Rencana yang tengah dikaji adalah penggunaan helikopter agar perjalanan berlangsung lebih cepat, sekaligus mengurangi stres selama proses perjalanan.
Habitat Asli Tetap Dijaga
Meski Pari Mahulu akan dipindahkan ke Suaka Badak Kelian, BKSDA Kalimantan Timur berkomitmen untuk tetap menjaga kawasan hutan Mahakam Ulu. Bahkan, kawasan ini diusulkan menjadi kawasan preservasi agar bisa menjadi habitat bagi keturunan Badak Kalimantan di masa mendatang.
Upaya ini tidak kalah penting dari program bayi tabung itu sendiri. Jika habitat alami Badak Kalimantan rusak, keberhasilan reproduksi lewat bayi tabung akan sia-sia. Sebab tanpa ekosistem yang terjaga, peluang spesies ini untuk bertahan dalam jangka panjang akan tetap terancam.
"Kita tidak mengambil badak lalu meninggalkan hutannya begitu saja. Hutan ini tetap dijaga agar tidak rusak karena diusulkan menjadi kawasan preservasi," kata Kepala BKSDA Kalimantan Timur, Ari Wibawanto.
Harapan Menyelamatkan Populasi
Upaya translokasi, program bayi tabung, dan perlindungan habitat diharapkan mampu menyelamatkan Badak Kalimantan dari kepunahan. Melalui langkah-langkah ini, pemerintah dan lembaga konservasi berharap spesies yang kini hanya tersisa dua ekor ini dapat kembali berkembang biak dan kembali menjadi bagian dari ekosistem hutan Kalimantan di masa depan.
(KP/NY)