Proses pemadaman karhutla di Sumatera
LingkariNews — Kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera kini memasuki ranah hukum. Badan Reserse Kriminal Kepolisian Republik Indonesia (Bareskrim Polri) menetapkan 72 tersangka perorangan terkait Karhutla Sumatera. Mereka diduga sengaja membuka lahan dengan cara membakar sehingga menyebabkan sedikitnya 1.006,67 hektare lahan terbakar.
Penetapan status tersangka ini dilakukan setelah polisi melakukan penyelidikan mendalam di lapangan. Sejumlah barang bukti telah berhasil diamankan, di antaranya 35 korek api, botol dan jerigen berisi bahan bakar, serta 21 parang. Selain itu, ditemukan juga dua kapak, cangkul, dua unit chainsaw, sampel tanah terbakar, bibit sawit, hingga batang kayu bekas terbakar.
Meskipun berulang kali menyebabkan karhutla, pembukaan lahan dengan cara dibakar masih saja terus dilakukan. Dalam praktiknya, lahan yang sebelumnya ditebang dibakar untuk membersihkan sisa vegetasi secara cepat. Cara ini banyak dipilih karena biayanya jauh lebih murah dibandingkan metode pembukaan lahan lain. Selain murah, ada anggapan bahwa abu hasil pembakaran dapat menyuburkan tanah.
Meskipun murah, metode pembakaran lahan beresiko menyebabkan kebakaran seperti yang terjadi saat ini. Api yang digunakan untuk membersihkan lahan sering kali sulit dikendalikan. Hembusan angin dapat membawa bara ke area sekitar, sehingga api dengan cepat merembet. Dalam kasus karhutla Sumatera, risiko ini diperparah oleh kemarau panjang dan El Nino yang sedang terjadi.
Mirisnya, anggapan bahwa abu pembakaran dapat menyuburkan tanah tidak sepenuhnya benar. Secara ilmiah, pembakaran memang melepaskan sejumlah unsur hara seperti kalium dan fosfor secara instan ke permukaan tanah. Namun, proses ini juga menghanguskan bahan organik dan mematikan mikroorganisme yang berperan menjaga kesuburan tanah dalam jangka panjang
Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat, per 24 Agustus 2026 pukul 07.00 WIB terdapat 2.945 titik panas (hotspot) karhutla Sumatera yang tersebar di berbagai wilayah. Sumatera Selatan menjadi provinsi dengan jumlah hotspot terbanyak, yaitu mencapai 1.429 titik. Karena jumlah hotspot yang tinggi, Sumatera Selatan ditetapkan sebagai salah satu wilayah prioritas penanganan karhutla.
Hingga kini, tim Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) masih melanjutkan operasi pemadaman baik dari darat maupun udara. Di lapangan, petugas melakukan patroli rutin guna mendeteksi titik api sedini mungkin. Upaya pemadaman turut didukung water bombing menggunakan helikopter untuk menjangkau area yang sulit diakses. Selain itu, operasi modifikasi cuaca juga diterapkan untuk memicu hujan buatan di wilayah terdampak.
Akibat banyaknya titik panas karhutla Sumatera, sejumlah wilayah diselimuti kabut asap tebal dalam beberapa hari terakhir. Kondisi ini menyebabkan kualitas udara di berbagai kota memburuk secara drastis. Palembang mencatat indeks kualitas udara (AQI) sebesar 237 dengan konsentrasi PM2.5 mencapai 162 mikrogram/m3. Angka tersebut masuk kategori sangat tidak sehat.
Jambi juga berada pada kategori sangat tidak sehat dengan AQI 225 dan PM2.5 sebesar 149,3 mikrogram per meter kubik. Sementara itu, Pekanbaru mencatat AQI 165 dengan PM2.5 mencapai 75,8 mikrogram per meter kubik. Kondisi ini menunjukkan paparan asap karhutla masih menjadi persoalan serius.
Kualitas udara yang buruk tersebut berpotensi memicu berbagai gangguan pernafasan. Paparan PM2.5 juga dapat memperburuk asma dan meningkatkan risiko gangguan jantung serta paru-paru. Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita penyakit pernapasan menghadapi risiko lebih besar.
Selain sebabkan pencemaran udara, karhutla Sumatera juga menimbulkan kabut asap yang mempersempit jarak pandang. Kondisi ini turut mengancam kelangsungan keanekaragaman hayati di kawasan terdampak. Oleh karena dampaknya yang begitu luas, masyarakat dihimbau untuk tidak membuka lahan dengan cara dibakar.
(KP/NY)