Foto ilustrasi
LingkariNews – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) kembali terjadi di Kalimantan. Di tengah musim kemarau dan pengaruh El Niño yang sangat kuat, ribuan titik panas terpantau di wilayah tersebut.
Namun, apakah karhutla hanya dipicu oleh kondisi iklim? Lalu, mengapa kebakaran terus berulang di Kalimantan?
Ribuan Titik Panas Terpantau di Kalimantan
Citra sebaran titik panas pada laman Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan ribuan titik panas di wilayah Kalimantan.
Berdasarkan pembaruan data 23 Agustus 2026, tercatat 2.874 titik panas. Sebanyak 108 titik memiliki tingkat kepercayaan rendah, 2.674 titik kepercayaan sedang, dan 92 titik tingkat kepercayaan tinggi.
Data tersebut menunjukkan tingginya aktivitas titik panas di Kalimantan. Sementara wilayah tersebut berada dalam kondisi kemarau dan menghadapi pengaruh El Niño dengan intensitas sangat kuat.
El Niño Membuat Lahan Rentan Terbakar
Laporan BMKG menyatakan kondisi iklim yang sangat kering akibat El Niño menjadi salah satu faktor yang meningkatkan risiko karhutla. Kondisi kering membuat lahan lebih mudah terbakar dan dapat menghasilkan banyak asap.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menjelaskan bahwa hasil monitoring pada Dasarian I Agustus 2026 menunjukkan El Niño berada pada intensitas sangat kuat.
"Hasil monitoring pada Dasarian I Agustus 2026 menunjukkan indeks IOD dasarian (indeks bulanan) sebesarr +0.457 (Juli: +0.242). Sementara itu, nilai SSTA di region Nino3.4 secara dasian (ENSO bulanan) adalah sebesar +2.77 (Juli: +2.20), yang menunjukkan El Niño dengan intensitas sangat kuat,” jelasnya.
Pada periode yang sama, sebanyak 76,5 persen wilayah Indonesia atau 535 Zona Musim (ZOM) telah mengalami musim kemarau.
Namun, kondisi iklim bukan satu-satunya faktor dalam persoalan karhutla. Kebakaran juga dapat bermula dari aktivitas manusia, seperti pembukaan atau pembersihan lahan dengan cara membakar maupun pembakaran sampah ketika vegetasi sedang sangat kering.
Karhutla Berulang, WALHI Soroti Mitigasi
Karhutla yang terjadi di Kalimantan bukan yang pertama. Kebakaran yang terus berulang membuat upaya pemerintah dalam mencegah dan menanggulangi kabut asap turut menjadi sorotan.
Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Kalimantan Selatan periode 2016–2024, Kisworo Dwi Cahyono, menilai pemerintah lalai dan gagal menanggulangi bencana kabut asap karena karhutla masih marak terjadi di wilayah Kalimantan.
Kisworo menegaskan bahwa penanggulangan bencana tidak hanya mencakup tanggap darurat, tetapi juga mitigasi dan penanganan pascabenana atau rehabilitasi.
Menurutnya, pemerintah selama ini lebih banyak bertindak ketika bencana sudah terjadi atau pada tanggap darurat.
Kisworo juga menyoroti banyaknya izin monokultur atau sistem pertanian yang hanya menanam satu jenis tanaman. Ia mempertanyakan kebijakan pemerintah terkait mitigasi, rehabilitasi, dan alokasi anggaran untuk menangani kerusakan lingkungan.
Asap Karhutla Meluas hingga Malaysia
Dampak karhutla di Kalimantan kini tidak hanya dirasakan di wilayah Indonesia. Asap akibat karhutla dilaporkan telah meluas hingga melintasi Serawak, Malaysia.
Greenpeace Indonesia menyampaikan bahwa karhutla masih diperlakukan sebagai bencana musiman yang baru ditangani ketika api membesar dan asap memenuhi udara.
Dalam instruksi Presiden Prabowo Subianto melalui Menteri Sekretariat Negara pada 11 Agustus 2026, penanganan karhutla dilakukan melalui operasi modifikasi cuaca. Namun, Greenpeace Indoenesia menilai langkah tersebut belum cukup untuk menghentikan karhutla.
Peneliti senior Greenpeace Indonesia, Sapta Ananda Proklamasi, mengatakan modifikasi cuaca bukan solusi untuk mengantisipasi karhutla.
“Operasi modifikasi cuaca itu bukan jawaban yang pas. Negara punya sumber daya yang banyak bisa memberikan solusi-solusi yang nyata,” kata Sapta.
Menurut Sapta, antispasi seharusnya diarahkan pada akar persoalan, termasuk kondisi sumber daya air dan kerentanan kebakaran di wilayah rawa serta lahan gambut yang rusak.
“Seharusnya antisipasi lebih ke akar-akar masalah. Masalah sumber daya air, kekritisan air, kemudian kerentanan kebakaran di rawa, di daerah gambut yang rusak, itu yang seharusnya diperbaiki,” tuturnya.
Karhutla di Kalimantan terjadi ketika kondisi kemarau dan El Niño membuat lahan semakin rentan terbakar. Namun, kebakaran yang terus berulang juga memunculkan pertanyaan mengenai upaya mitigasi dan pengelolaan lingkungan.
Ketika asap bahkan telah meluas hingga Serawak, persoalannya bukan lagi sekadar bagaimana memadamkan api, tetapi juga bagaimana mencegah kebakaran yang sama agar tidak terulang.
(NY)
Sumber
https://www.bmkg.go.id/cuaca/satelit/polar-hotspot
https://www.kompas.tv/nasional/686826/eks-direktur-walhi-soroti-karhutla-kabut-asap-kalimantan-artinya-pemerintah-lalai-dan-gagal
https://news.detik.com/berita/d-8628464/bmkg-ungkap-penyebab-karhutla-di-kalimantan-iklim-kering-efek-el-nino