PBB Sebut Dunia Memasuki Era Kebangkrutan Air, 4 Miliar Orang Alami Krisis Air Parah

Iklim 04 Feb 2026 317 kali dibaca
Gambar Artikel

LingkariNews — Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebut bahwa saat ini dunia sedang memasuki era kebangkrutan air (water bankruptcy). Pernyataan tersebut disampaikan dalam laporan Global Water Bankruptcy Report yang dirilis baru-baru ini. Istilah kebangkrutan air merujuk pada kondisi dimana penggunaan air oleh manusia sudah melampaui kemampuan alam untuk menyediakannya kembali. Sederhananya, jumlah air yang disediakan alam baik dari sungai, danau, air tanah, atau gletser semakin tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan air bersih. Menurut catatan PBB, kondisi ini telah membuat sekitar 4 miliar orang mengalami krisis air yang parah setidaknya selama satu bulan dalam setahun.

Pasokan Air Dunia Kian Menyusut

Kaveh Madani, Direktur Institut Universitas PBB untuk Air, Lingkungan, dan Kesehatan, menilai situasi saat ini jauh lebih serius dibanding gambaran krisis air global yang selama ini dibahas publik. Menurut Madani, kerusakan sumber daya air di banyak wilayah sudah berada pada tingkat yang sulit dipulihkan. Sungai, danau, serta cadangan air tanah tidak lagi mampu diperbaiki ke kondisi alaminya. Sementara itu, volume air yang digunakan terus mengalami peningkatan. Kondisi ini diperparah dengan masalah perubahan iklim yang masih belum diatasi. Akibatnya, pasokan air terus menipis dan memicu kelangkaan jangka panjang. 

Dalam lima dekade terakhir, sekitar 410 juta hektar lahan basah alami tercatat telah mengering. Selain itu, sekitar 70 persen sumber air tanah (akuifer) utama dunia terus mengalami penurunan. Artinya, volume air yang tersimpan di dalam tanah semakin menyusut karena volume air yang diambil lebih besar dibanding kemampuan alam untuk mengisinya kembali.

“Laporan ini menyampaikan kebenaran yang menyakitkan, banyak wilayah hidup melampaui kemampuan hidrologisnya dan banyak sistem air yang krusial sudah berada dalam kondisi bangkrut,” ungkap Madani.

Dampak Nyata Kebangkrutan Air di Berbagai Wilayah

Kebangkrutan air yang terjadi di berbagai wilayah telah memicu permasalahan serius bagi masyarakat dan lingkungan. Di Amerika Serikat, krisis air yang parah membuat permintaan jauh melampaui pasokan dari Sungai Colorado. Padahal, Sungai Colorado merupakan sumber air minum dan irigasi utama yang selama ini memenuhi kebutuhan air di tujuh negara bagian. Sementara itu Kabul yang merupakan ibu kota Afghanistan dilaporkan terancam menjadi kota modern pertama yang benar-benar kehabisan cadangan air. Berbagai wilayah di belahan dunia lain seperti São Paulo, Teheran, dan Cape Town bahkan pernah mengalami “Day Zero”. Day Zero adalah fenomena dimana pasokan air hampir benar-benar habis.

Kebangkrutan air juga mengancam ketahanan pangan dunia. Lebih dari 170 juta hektar lahan pertanian irigasi kini tidak lagi memiliki pasokan air yang cukup untuk menjaga produktivitas tanaman. Kondisi ini meningkatkan risiko terjadinya gagal panen, menurunkan hasil produksi, serta mengancam stabilitas pasokan pangan dalam jangka panjang.

Selain itu, kebangkrutan air juga berdampak pada penurunan kualitas air, penyusutan persediaan air bersih, serta penurunan permukaan tanah akibat pengambilan air tanah yang berlebihan. Di sejumlah wilayah pesisir, kadar garam dalam sumber air meningkat sehingga tidak lagi layak dikonsumsi. Kondisi ini memperparah krisis air dan memperbesar ancaman terhadap kesehatan masyarakat, stabilitas sosial, serta kondisi ekonomi dalam jangka panjang.

Upaya Menghadapi Krisis Air Global

Meskipun kerusakan sumber daya air tidak bisa dipulihkan ke kondisi awal, Madani menegaskan dunia tidak seharusnya pasrah. Menurutnya, masih banyak langkah yang bisa dilakukan untuk menekan dampak krisis air yang semakin meluas. “Kita tidak bisa mengembalikan gletser yang sudah hilang. Tapi kita bisa mencegah kerusakan lebih jauh dan belajar hidup dalam batas kemampuan air yang baru,” ujar Madani.

Para peneliti PBB mendorong upaya berhenti merusak dengan melindungi sisa akuifer, lahan basah, dan gletser yang masih ada. Pembagian air juga perlu diatur ulang agar hak dan kebutuhan sesuai dengan ketersediaan yang semakin terbatas. Selain itu, para ilmuan mengungkapkan bahwa sektor pertanian yang menyerap sekitar 70 persen air tawar dunia perlu bertransformasi. Isu air juga dinilai harus menjadi jembatan kerja sama global. Tanpa kolaborasi lintas negara, krisis air berisiko terus memburuk dan sulit dikendalikan.

Baca berita terkini seputar lingkungan hidup, pertanian, serta kelautan dan perairan lainnya di LingkariNews.

(KP/NY)

Sumber:

https://news.un.org/en/story/2026/01/1166800

https://collections.unu.edu/eserv/UNU:10445/Global_Water_Bankruptcy_Report__2026_.pdf