Ilustrasi terumbu karang
LingkariNews — Terumbu karang merupakan rumah bagi ribuan spesies laut dan penopang utama rantai kehidupan di lautan. Namun, ekosistem terumbu karang global tengah menghadapi ancaman serius akibat perubahan iklim. Data International Coral Reef Initiative (ICRI) menunjukan, selama rentang 1 Januari 2023 hingga 30 Maret 2025 sebanyak 84% terumbu karang di berbagai wilayah mengalami pemutihan (coral bleaching). Ilmuwan menduga, fenomena ini disebabkan oleh meningkatnya suhu air laut.
Pemutihan karang adalah kondisi ketika karang kehilangan alga zooxanthellae. Alga ini berperan penting dalam memberikan warna pada karang sekaligus menjadi sumber utama energi melalui proses fotosintesis. Ketika suhu air laut meningkat, alga tersebut keluar dari jaringan karang sehingga karang tampak berwarna putih. Akibatnya, karang bisa kekurangan energi, rentan terhadap penyakit, dan akhirnya mati. Coral Guardian bahkan memprediksi, 90% terumbu karang dunia berpotensi lenyap pada 2050.
Peran Terumbu Karang bagi Kehidupan Laut
Terumbu karang berperan penting dalam menopang sekitar seperempat kehidupan laut dunia. Ekosistem ini menjadi habitat, tempat berkembang biak, dan lokasi mencari makan bagi ribuan spesies laut. Selain itu, terumbu karang menjadi sumber pangan bagi masyarakat pesisir, melindungi garis pantai dari gelombang, serta menyediakan mata pencaharian bagi jutaan orang melalui sektor perikanan dan pariwisata.
Namun, kondisi terumbu karang terus menurun dalam beberapa dekade terakhir. Penangkapan ikan berlebihan, polusi, pembangunan pesisir, serta perubahan iklim menjadi penyebab utamanya. Tekanan tersebut memicu pemutihan karang dan menurunkan kemampuan ekosistem untuk pulih. Ilmuwan bahkan mengingatkan sebagian terumbu karang berisiko mengalami kerusakan permanen jika pemanasan global tidak segera ditekan.
Temuan Baru yang Memuka Harapan Terumbu Karang Dunia
Di tengah kondisi yang mengkhawatirkan ini, muncul secercah harapan bagi ekosistem laut dunia. Baru-baru ini, para ilmuwan menemukan sekitar 166.000 km² terumbu karang yang mampu bertahan hidup dan pulih dari dampak krisis iklim. Temuan ini diperoleh setelah ilmuwan menganalisis lebih dari 45 ribu survei terumbu karang. Data tersebut kemudian dipadukan dengan catatan iklim serta kondisi laut selama puluhan tahun.
Hasil pemetaan menunjukkan, kawasan terumbu karang yang mampu bertahan dari perubahan iklim ini tersebar di 71 negara dan lebih dari 100 titik wilayah. Selain berada di lokasi yang telah dikenal, terumbu karang ini juga ditemukan di Karibia serta beberapa bagian Samudra Pasifik dan Atlantik. Wilayah tersebut sebelumnya belum pernah diidentifikasi sebagai habitat karang yang memiliki tingkat ketahanan tinggi.
Temuan baru ini memberi sudut pandang baru terhadap masa depan ekosistem laut. Selama ini, terumbu karang kerap dipandang sebagai ekosistem yang semakin sulit diselamatkan akibat tekanan perubahan iklim. Namun, pengamatan terbaru menunjukkan masih ada kawasan yang memiliki kemampuan bertahan dan berpeluang pulih.
Bisa Jadi Pedoman Kebijakan Konservasi Laut
Direktur Konservasi Karang Wildlife Conservation Society (WCS), Emily Darling, menilai temuan ini harus dijadikan dasar dalam menetapkan prioritas perlindungan laut. Menurutnya, sebagian besar terumbu karang yang mampu bertahan dari perubahan iklim saat ini berada di luar area konservasi dan rentan terhadap berbagai tekanan. Tercatat, hanya 28 persen saja yang berada di kawasan lindung.
Karena itu, Darling mendorong pemerintah mengintegrasikan kawasan penting tersebut ke dalam wilayah konservasi yang memiliki perlindungan hukum. Langkah ini diharapkan mampu menjaga kelestarian terumbu karang, meningkatkan ketahanannya terhadap dampak perubahan iklim, serta melindungi keanekaragaman hayati laut.
(KP/NY)
Sumber
https://goodstats.id/article/sebanyak-84-terumbu-karang-dunia-alami-pemutihan-29PHD
https://www.coralguardian.org/en/coral-reefs-at-risk/