Komitmen Pulihkan Pesisir Muaragembong, GAPGINDO Kembali Tanam Mangrove

Pesisir 26 Jun 2026 36 kali dibaca
Gambar Artikel Penanaman 500 bibit mangrove di pesisir Muaragembong

LingkariNews, Bekasi – Gabungan Produsen Gula Indonesia (GAPGINDO) kembali menunjukkan komitmennya terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan penanaman mangrove di pesisir Muaragembong, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Sebanyak 500 bibit mangrove jenis Rhizopora sp. ditanam pada Sabtu, 20 Juni 2026 sebagai bagian dari program rehabilitasi kawasan pesisir yang dilakukan secara berkelanjutan.

Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara GAPGINDO, Lingkari Institute, dan Yayasan Rawat Bumi Indonesia yang melibatkan masyarakat setempat. Penanaman tersebut menjadi kelanjutan dari program serupa yang telah dilakukan pada Maret 2026 dengan jumlah penanaman 360 bibit mangrove. 

Secara bertahap, program ini menargetkan penanaman hingga 5.000 pohon mangrove pada 2028 sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan ekosistem pesisir Muaragembong.

Pesisir Muaragembong Hadapi Berbagai Ancaman Lingkungan

Pemulihan pesisir Muaragembong menjadi penting, mengingat kawasan ini menghadapi berbagai tekanan lingkungan yang semakin serius. Dalam beberapa tahun terakhir, wilayah tersebut terus mengalami abrasi pantai, banjir rob, serta penurunan muka tanah (land subsidence) yang mengancam permukiman dan aktivitas masyarakat.

Selain itu, kawasan ini juga kerap terdampak luapan Sungai Citarum akibat tanggul yang jebol saat debit air meningkat. Kondisi tersebut menyebabkan genangan berkepanjangan dan memperparah kerusakan lingkungan pesisir.

Berbagai ancaman tersebut tidak hanya mengurangi luas daratan, tetapi juga mengganggu aktivitas ekonomi masyarakat yang sebagian besar bergantung pada sektor perikanan dan sumber daya pesisir.

Mengapa Mangrove Menjadi Pilihan Pemulihan Pesisir?

Mangrove dipilih sebagai solusi berbasis alam karena peranannya yang pentig dalam menjaga keseimbagan ekosistem pesisir. Sistem perakaran mangrove yang rapat mampu menahan sedimen, mengurangi laju abrasi, serta meredam energi gelombang laut sebelum mencapai daratan.

Selain berfungsi sebagai pelindung alami pantai, mangrove juga menjadi habitat penting bagi berbagai jenis ikan, kepiting, udang, dan satwa pesisir lainnya. Ekosistem ini bahkan dikenal sebagai salah satu penyerap karbon paling efektif di dunia, sehingga berkontribusi dalam mitigasi perubahan iklim.

Jenis mangrove yang ditanam dalam kegiatan ini adalah Rhizopora sp., salah satu kelompok mangrove yang banyak digunakan dalam program rehabilitasi pesisir karena kemampuannya yang adaptif terhadap kondisi pasang surut dan mampu memperkuat struktur pantai.

Mangrove Juga Menyimpan Potensi Ekonomi Masyarakat

Selain manfaat ekologis, kawasan mangrove di Muaragembong juga menyimpan potensi ekonomi yang dapat dikembangkan masyarakat secara berkelanjutan.

Salah satunya berasal dari buah pidada atau Sonneratia caseolaris yang dapat diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah, seperti dodol mangrove, sirup mangrove, jus mangrove, hingga keripik.

Pengembangan ekonomi berbasis mangrove dinilai penting karena dapat mendorong masyarakat untuk turut menjaga dan melestarikan kawasan pesisir yang menjadi sumber penghidupan mereka.

Kolaborasi Jangka Panjang untuk Pemulihan Pesisir

Melalui program penanaman mangrove di muaragembong, GAPGINDO bersama Lingkari dan Yayasan Rawat Bumi Indonesia berharap dapat memperkuat upaya rehabilitasi kawasan pesisir secara berkelanjutan.

Program ini tidak hanya berfokus pada penanaman pohon, tetapi juga menjadi bagian dari komitmen GAPGINDO dalam mendukung pembangunan berkelanjutan yang mencakup aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi masyarakat. Upaya rehabilitasi pesisir diharapkan mampu  meningkatkan ketahanan ekosistem sekaligus memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat yang menggantungkan hidup pada sumber daya pesisir.  

Komitmen tersebut juga sejalan dengan visi perusahaan-perusahaan yang tergabung dalam GAPGINDO untuk terus mendorong terwujudnya industri hijau, berkelanjutan, dan bertanggung jawab terhadap lingkungan. Selain menjaga kelestarian alam, industri gula nasional juga terus memperkuat kemitraan dengan petani sebagai bagian penting dalam menciptakan rantai pasok yang berkelanjutan. 

Karena itu, penanaman mangrove tidak hanya menjadi kegiatan konservasi semata, tetapi juga simbol kolaborasi antara lembaga, industri, organisasi lingkungan, dan masyarakat dalam menghadapi berbagai tantangan perubahan iklim. Dengan target penanaman 5.000 mangrove hingga 2028, diharapkan pesisir Muaragembong semakin tangguh menghadapi berbagai ancaman lingkungan di masa depan.

(NY)

Berita Terpopuler

1
Indonesia Penghasil Sampah Terbesar Ke-5 Dunia: Produksi dan Jenis-Jenisnya
2
Kepolisian Ungkap Tambang Ilegal di Tahura Bukit Soeharto, Kerugian Negara Ditaksir Capai Rp1 Triliun
3
Perkembangan Industri Gula Tahun 2020 hingga 2025
4
Penyebab Banjir dan Longsor di Sumatera: Bencana Alam atau Kerusakan Alam?
5
Indonesia Penyumbang Sampah Laut Terbesar Kedua Dunia

Grafik Harga Gula

Raw Sugar: -
-
White Sugar: -
-
White Sugar: -
-