Gempa Megathrust DIY: Ancaman, Penyebab, dan Kesiapsiagaan

Sains 23 Apr 2026 27 kali dibaca
Gambar Artikel Peta potensi gempa megathrust | Sumber foto: BMKG

LingkariNews – Indonesia merupakan negara yang memiliki tingkat kerentanan tinggi terhadap bencana alam, terutama gempa bumi dan tsunami. Kondisi ini tidak terlepas dari letak geografis Indonesia yang berada di kawasan pertemuan tiga lempeng tektonik utama, yaitu Lempeng Indo-Australia, Lempeng Eurasia, dan Lempeng Pasifik.  

Salah satu ancaman geologis yang paling diperhatikan adalah potensi gempa megathrust di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), yaitu gempa besar yang berasal dari zona subduksi di selatan Pulau Jawa. Zona ini menyimpan energi besar yang dapat dilepaskan sewaktu-waktu dalam bentuk gempa bumi bermagnitudo tinggi, bahkan berpotensi memicu tsunami.  

Apa Itu Gempa Megathrust? 

Gempa megathrust adalah gempa bumi yang terjadi di zona megathrust, yaitu wilayah pertemuan lempeng tektonik pada zona subduksi. Posisi ini terjadi ketika lempeng samudra bergerak dan menyusup ke bawah lempeng benua, sehingga menimbulkan akumulasi tekanan yang sangat besar di sepanjang bidang pertemuan tersebut. 

Zona megathrust memiliki karakteristik penyimpanan energi dalam jangka waktu yang sangat panjang. Di Indonesia, zona megathrust membentang dari pantai barat Sumatera, selatan Jawa, Bali, Nusa Tenggara, hingga Maluku. Hal inilah yang membuat gempa megathrust DIY menjadi satu skenario risiko yang perlu diwaspadai, terutama karena kedekatannya dengan zona subduksi di selatan Jawa. 

Ancaman Gempa Megathrust DIY: Siklus 200 Tahunan

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi gempa bumi besar. Berdasarkan kajian kebencanaan, gempa megathrust diperkirakan memiliki siklus ulang sekitar 200 tahun, dan saat ini disebut telah memasuki fase sekitar 30 tahun terakhir.

Kepala Pelaksana BPBD DIY, Agustinus Rurus Haryata menjelaskan bahwa pihaknya tengah melakukan kajian mikrozonasi, yaitu teknik pemetaan wilayah bedasarkan karakteristik tanah dan tingkat kerentanan seismik. Kajian ini bertujuan untuk memetakan potensi guncangan secara lebih rinci, mengidentifikasi wilayah rawan, serta mendukung pembangunan bangunan tahan gempa agar risiko korban jiwa dapat ditekan. 

Selain itu, BPBD DIY juga tengah mengusulkan Surat Edaran Gubernur terkait pelaksanaan simulasi bencana. Surat edaran tersebut akan ditujukan kepada organisasi perangkat daerah (OPD), instansi swasta, serta masyarakat luas, sekaligus menjadi momentum 20 tahun gempa besar Yogyakarta 2006 sebagai pengingat kolektif akan pentingnya kesiapsiagaan.

Upaya Mitigasi Gempa Megathrust

Sebagai bagian dari mitigasi, BPBD DIY mendorong peningkatan kesiapsiagaan masyarakat melalui simulasi evakuasi gempa bumi. Simulasi ini bertujuan memberikan pemahaman praktis mengenai langkah penyelamatan diri ketika gempa terjadi, sehingga masyarakat dapat merespons secara cepat dan tepat. 

BPBD DIY juga bekerja sama dengan Badan Otoritas Borobudur (BOB) untuk melaksanakan simulasi skenario gempa megathrust di wilayah selatan. Masyarakat diimbau untuk tidak panik, tetapi tetap meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan secara berkelanjutan. 

“Simulasi terkait dengan bagaimana kita melakukan evakuasi dari gempa bumi supaya ada semacam kesiapsiagaan bagi masyarakat,” ungkapnya pada Senin (20/4) dikutip melalui Jawa Pos.  

Dari sisi mitigasi fisik, pemerintah daerah juga mendorong pembangunan infrastruktur yang tahan terhadap gempa bumi. Standar bangunan tahan gempa menjadi bagian penting dalam perizinan bangunan, terutama untuk fasilitas umum dan gedung perkantoran. 

“Supaya tingkat keselamatan penghuni dari bangunan itu persentasenya menjadi lebih besar ketika kemudian bangunan itu masuk dalam kategori bangunan tahan gempa,” tegasnya. 

Pasca gempa besar yang pernah melanda Yogyakarta, kesadaran masyarakat terhadap konstruksi bangunan yang lebih kuat semakin meningkat. Penerapan elemen struktur seperti sloof, kolom beton bertulang, hingga penggunaan pondasi yang lebih stabil kini semakin umum dilakukan.

Oleh karena itu, kombinasi antara penyuluhan masyarakat, simulasi kebencanaan, pemetaan risiko, serta pembangunan infrastruktur tahan gempa menjadi kunci penting dalam mengurangi dampak apabila bencana tersebut tejadi di masa mendatang. 

Sebab, dengan karakteristik energi besar dan siklus yang panjang, ancaman gempa ini memerlukan perhatian serius dan upaya mitigasi berkelanjutan. 

(NY)

Sumber

https://radarjogja.jawapos.com/amp/jogja/2604200019/ancaman-gempa-megathrust-diy-masuk-fase-30-tahun-terakhir-simulasi-kebencanaan-hingga-imbauan-peningkatan-konstruksi-bangunan-dipersiapkan

https://bpbd.jogjaprov.go.id/berita/waspadai-potensi-bencana-di-zona-megathrust-lebih-siap-hadapi-potensi-bahaya-tsunami