LingkariNews – Industri gula termutakhir tidak lagi hanya memproduksi gula. Negara-negara produsen gula terbesar dunia, seperti Thailand, menunjukkan bahwa industri ini dapat menjadi pusat energi terbarukan, dengan menciptakan nilai tambah ekonomi melalui pemanfaatan limbah tebu secara optimal untuk memproduksi bioenergi.
Ketua Umum Gabungan Produsen Gula Indonesia (Gapgindo), Syukur Iwantoro menyampaikan hal tersebut telah menjadi praktik umum pada industri gula di Thailand. Hal tersebut menjadi salah satu catatan penting Gapgindo setelah melakukan kunjungan benchmarking ke sejumlah fasilitas industri gula dan pendukungnya di Thailand.
“Salah satu yang dapat menjadi pelajaran kita adalah bagaimana Thailand memanfaatkan bagase dan daun tebu sebagai sumber energi. Industri gula di sana tidak hanya menghasilkan gula, tetapi juga listrik dan bahan baku etanol,” ungkap Syukur di Jakarta, Senin (16/2).
Syukur mencontohkan salah satu pabrik, yaitu Singburi Sugar Factory, sekitar 70% kebutuhan listrik pabrik tersebut telah dipenuhi dari pembangkit berbasis bagase dan daun tebu. Daun tebu tidak dibuang, namun dijadikan bahan baku untuk memproduksi energi. Singburi Sugar Factory bahkan telah menjual 30% listrik yang dihasilkan ke pemerintah.
Syukur menegaskan model seperti ini memungkinkan pabrik gula menjalankan siklus produksi penuh tanpa ada produk terbuang. Pabrik gula tidak hanya menjadi pusat produksi pangan, tetapi juga berkontribusi dalam sistem energi nasional.
Selain itu, Singburi juga menjual molases atau tetes tebu ke pabrik lain untuk diproses menjadi etanol. Pabrik juga memanfaatkan blotong yang telah dilayukan untuk digunakan petani sebagai amelioran yang dapat membantu memperbaiki struktur dan kesuburan tanah.
Thailand memiliki perusahaan-perusahaan enjinering yang berintegrasi dengan pabrik, untuk mendukung operasional produksi gula dan etanol. Perusahaan tersebut menyediakan perbaikan mesin, suku cadang, konsultasi teknis, hingga peralatan pengolahan bagas dan daun tebu.
“Ekosistem di Thailand terbangun secara utuh. Ada industri pupuk, pabrik gula, perusahaan enjinering, hingga R&D yang berjalan selaras dan bersamaan,” ungkap Syukur.
Menurutnya, Thailand telah menunjukkan bahwa kunci keberhasilan bukan hanya teknologi, tetapi juga komitmen bersama antara pemerintah, pelaku usaha, dan petani.
(DAZ/NY)