Belajar dari Thailand, Gapgindo Dorong Transformasi Industri Gula

Gula 12 Feb 2026 122 kali dibaca
Gambar Artikel Petani dan pendamping MithPhol di ladang yang mulai tanam dengan sistem drib irigation, setelah panen tebu.

LingkariNews — Upaya mencapai swasembada gula nasional tidak dapat dilakukan secara parsial. Gabungan Produsen Gula Indonesia (Gapgindo) menilai untuk dapat mencapai swasembada gula, diperlukan transformasi menyeluruh dari hulu hingga hilir. Indonesia perlu mencontoh praktik tersebut dari Thailand, produsen gula terbesar kelima dunia yang merupakan negara tetangga Indonesia.

Hal tersebut disampaikan Ketua Umum Gapgindo, Syukur Iwantoro, usai melaksanakan kegiatan studi benchmarking di Thailand pada 3–6 Februari 2026. Dalam kunjungan tersebut, tim Gapgindo melaksanakan observasi ke pabrik gula, pabrik pupuk, lahan petani mitra, serta perusahaan enjinering pendukung industri gula.

“Thailand membangun rantai industri gula secara terintegrasi dari petani, pabrik, hingga industri pendukungnya. Thailand telah sejak lama berkomitmen melaksanakan ini dan hal ini perlu kita pelajari secara serius,” ucap Syukur di Jakarta, Kamis (12/2).

Syukur menggarisbawahi bahwa Indonesia pernah menjadi salah satu eksportir gula dunia pada abad ke-18 hingga awal abad ke-19. Namun, Indonesia gagal mempertahankan posisi tersebut, bahkan saat ini merupakan salah satu negara pengimpor gula terbesar dunia.

Di sisi lain, Thailand justru menjadi salah satu produsen dan eksportir gula terbesar dunia. Selain itu, negara Gajah Putih tersebut saat ini merupakan produsen bioenergi terkemuka di Asia Tenggara.

Syukur memaparkan Thailand telah berhasil meningkatkan produktivitas dan rendemen tebu. Di Wilayah Singburi, misalnya, produktivitas petani tebu mitra mencapai rata-rata 80 ton/ha dengan rendemen mencapai 12%.

‘’Rendemen di atas 10% bukan cuma soal varietas, tetapi merupakan hasil kombinasi pemupukan yang tepat, pembongkaran ratoon yang sesuai SOP, pengairan yang efisien, mekanisasi, serta pendampingan teknis yang berkelanjutan,’’ ungkap Syukur.

Faktor lain yang juga penting, menurut Syukur, pemerintah Thailand memiliki kebijakan yang konsisten dalam pengembangan komoditas tebu. Kebijakan-kebijakan disusun dan diimplementasikan secara berkelanjutan. Dia menambahkan, sistem harga tebu berbasis rendemen disusun dan ditetapkan secara jelas. Petani akan mendapat insentif jika menghasilkan kualitas tebu yang baik.

Melalui aktivitas studi benchmarking di Thailand ini, Gapgindo berharap pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan dapat menyusun langkah strategis dan terintegrasi seluruh infrastruktur pendukungnya, untuk dapat mendukung produksi gula nasional.

(DAZ/NY)