BRIN Kembangkan Teknologi Pangan Berbasis Plasma dan Nuklir

Inovasi Pertanian 11 Feb 2026 80 kali dibaca
Gambar Artikel

LingkariNews - Dalam upaya mendukung ketahanan pangan nasional, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Badan Pangan Nasional (Bapanas), sejumlah perguruan tinggi serta pihak terkait lainnya menjalin kolaborasi membahas pemanfaatan teknologi pangan berbasis iradiasi. Kerja sama ini diarahkan untuk menjawab tantangan keamanan dan daya simpan bahan pangan di Indonesia.

Melalui kolaborasi tersebut, BRIN berhasil mengembangkan inovasi teknologi pangan yang dinilai mampu memperkuat ketahanan pangan nasional di masa depan. Ada dua inovasi teknologi yang berhasil dikembangkan, yaitu food saver plasma dan teknologi pengawetan makanan berbasis nuklir. Seluruh inovasi tersebut telah dipatenkan dan disiapkan untuk dimanfaatkan oleh industri serta lembaga pemerintah.

Inovasi Teknologi Plasma

Salah satu inovasi teknologi pangan yang berhasil dikembangkan BRIN adalah teknologi plasma. Teknologi ini memanfaatkan gas berenergi tinggi yang mampu mengendalikan lingkungan penyimpanan pangan. Dalam penerapannya, teknologi plasma mampu menghambat pertumbuhan mikroba dan mengatur kelembaban menggunakan molecular sieve. Proses ini membuat bahan pangan lebih awet tanpa tambahan bahan kimia, sehingga aman dikonsumsi.

Berdasarkan hasil uji coba, teknologi plasma yang dikembangkan BRIN terbukti mampu memperpanjang umur simpan berbagai komoditas. Telur misalnya, bisa tetap terjaga kualitasnya meski sudah disimpan hingga dua bulan. Bawang merah mampu disimpan hingga tiga bulan, sementara bawang putih bertahan sampai enam bulan. Uji coba pada beras menunjukkan hasil yang lebih signifikan dimana kualitas beras tetap terjaga setelah disimpan hingga dua tahun.

Saat ini, BRIN telah mengembangkan teknologi plasma dalam berbagai bentuk agar sesuai kebutuhan pengguna. Salah satunya adalah food saver plasma container yang bisa digunakan untuk menyimpan daging, sayur, dan buah dalam satu wadah. BRIN juga sudah merancang gudang food saver beras dan food saver silo plasma.

Teknologi Pangan Berbasis Nuklir

Selain teknologi plasma, BRIN juga berhasil mengembangkan teknologi nuklir yang dapat memperpanjang masa simpan makanan. Teknologi ini bekerja melalui proses iradiasi dengan dosis terkontrol guna menonaktifkan mikroorganisme penyebab pembusukan. Berdasarkan pengamatan peneliti, inovasi ini mampu menurunkan beban mikrobiologi hingga 95 persen. Teknologi ini juga mampu menekan pembusukan dalam rantai pasok hingga 24 persen.

Meski menggunakan istilah nuklir, teknologi pangan ini aman. Proses iradiasi tidak membuat pangan menjadi radioaktif karena tidak mengubah struktur inti atom sehingga makanan aman dikonsumsi. Teknologi ini bahkan diklaim telah digunakan lebih dari 50 persen pengguna global. Selain aman, teknologi nuklir juga ramah lingkungan karena menghasilkan zero residual toxicity (tanpa limbah berbahaya).

Dibandingkan metode pengawetan lain seperti pemanasan atau fumigasi, proses pengolahan makanan dengan teknologi nuklir jauh lebih cepat dan efisien. Proses sterilisasi dapat dilakukan dalam hitungan detik. Teknologi ini juga efektif membasmi hama produk pertanian.

Dari sisi kapasitas, inovasi teknologi nuklir ini mampu mengolah bahan pangan hingga 50 ton per hari. Secara ekonomis, biaya sterilisasi juga 20-30 persen lebih murah dibandingkan metode konvensional. Hal ini membuat teknologi pangan berbasis nuklir ini cocok diterapkan di skala industri ataupun nasional.

Harapan Atasi Masalah Pangan Nasional

Food loss and food waste (penyusutan dan pemborosan makanan) selama ini menjadi persoalan serius bagi Indonesia. Riset Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) tahun 2021 mencatat total food loss and waste Indonesia mencapai 23-48 juta ton per tahun. Angka ini setara 115-184 kilogram per kapita per tahun. Padahal, jika dikelola optimal, jumlah pangan yang terbuang ini dapat mencukupi konsumsi hingga 125 juta penduduk.

Tingginya tingkat food loss and waste Indonesia juga berdampak langsung pada lingkungan. Bahan pangan yang terbuang meningkatkan emisi gas rumah kaca dari proses produksi yang sia-sia. Disisi lain, limbah pangan yang membusuk turut menghasilkan metana. Kondisi ini memperburuk tekanan terhadap ekosistem dan sumber daya alam. 

Dari sisi ekonomi, food loss and waste yang tinggi menimbulkan kerugian negara sekitar Rp213-p551 triliun per tahun. Karena itu, pengembangan teknologi pangan dinilai sebagai tonggak penting dalam memperkuat rantai pasok dan fondasi ketahanan pangan Indonesia ke depan.

(KP/NY)

Sumber

https://badanpangan.go.id/blog/post/grasp-2030-nfa-ajak-semua-pihak-kolaborasi-tekan-food-loss-and-waste-flw