Abrasi Pantura Capai 65,8 Persen, Pesisir Utara Jawa Terancam Krisis

Pesisir 07 Mei 2026 24 kali dibaca
Gambar Artikel Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Tubagus Solihuddin, dalam Expose Organisasi Riset Kebumian dan Maritim (ORKM) dan Focus Group Discussion (FGD), di Jakarta (30/4). (Dok. BRIN)

LingkariNews – Abrasi Pantura menjadi ancaman serius bagi kawasan pesisir utara Jawa. Berdasarkan riset terbaru Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN, sepanjang 2000 hingga 2024, sebanyak 65,8 persen garis pantai Pantura mengalami pengikisan.

Abrasi pantai adalah proses terkikisnya daratan pesisir akibat tenaga laut, terutama gelombang dan arus. Dalam kajian ilmiah, proses ini juga sering disebut sebagai erosi pantai. Jika berlangsung cepat, abrasi dapat membuat garis pantai mundur, menghilangkan lahan, dan mengancam permukiman warga.

Kondisi ini menunjukkan bahwa krisis pesisir Pantura bukan sekadar persoalan lingkungan. Dampaknya sudah menyentuh kehidupan masyarakat, ekonomi lokal, tambak, sawah, hingga infrastruktur publik.

Penyebab Abrasi Pantura Semakin Parah 

Peneliti BRIN, Tubagus Solihuddin, menjelaskan bahwa kondisi geologi Pantura menjadi salah satu faktor utama yang membuat wilayah ini rentan terhadap abrasi.

Sebagian besar kawasan Pantura tersusun oleh endapan yang belum terkonsolidasi kuat. Artinya, material tanah di kawasan ini belum padat sehingga lebih mudah terkikis dan mengalami pemampatan.

“Jadi, 84 persen Pantai Utara Jawa itu tersusun oleh endapan pluvial dan endapan delta. Secara geologi, endapan yang menyusun Pantai Utara Jawa masih unconsolidated. Masih belum terkompaksi dengan kuat sehingga sangat mudah mengalami erosi dan pemampatan,” paparnya.

Selain itu, Pantura didominasi dataran rendah dengan elevasi kurang dari 10 meter. Kondisi ini membuat wilayah pesisir lebih mudah terdampak perubahan garis pantai, banjir rob, dan genangan air laut.

Kerusakan mangrove, alih fungsi lahan, pembangunan pesisir, serta pengambilan air tanah juga turut memperparah abrasi Pantura di sejumlah wilayah.

Dampak Abrasi Pantura bagi Masyarakat 

Dampak abrasi Pantura sudah terlihat di berbagai daerah. Di Tanjung Pontang, Serang, daratan tercatat hilang hingga 1,72 kilometer persegi.

Di Pantai Bahagia, Muaragembong, Bekasi, air laut masuk hingga 4 kilometer ke daratan dan merendam lebih dari 1.000 hektare tambak. Kondisi ini berdampak langsung pada masyarakat yang bergantung pada sektor perikanan dan budidaya tambak.

Kondisi serupa juga terjadi di Subang, Indramayu, hingga Demak. Di Demak, air laut bahkan telah merangsek sejauh 5–6 kilometer ke daratan. Sawah, permukiman, fasilitas publik, dan jalan desa ikut terdampak akibat garis pantai yang terus mundur.

Diperparah Banjir Rob dan Penurunan Tanah 

Krisis pesisir Pantura semakin berat karena dipengaruhi kenaikan muka air laut dan penurunan muka tanah.

Data menunjukkan kenaikan muka air laut mencapai sekitar 0,41–0,42 sentimeter per tahun. Sementara itu, penurunan tanah di beberapa wilayah seperti Demak dapat mencapai 16 sentimeter per tahun.

Kombinasi antara abrasi pantai, banjir rob, kenaikan muka air laut, dan penurunan tanah membuat kawasan Pantura semakin rentan terhadap kehilangan lahan, kerusakan infrastruktur, dan gangguan ekonomi masyarakat.

Solusi Mengatasi Abrasi Pantura

Penanganan abrasi Pantura tidak bisa dilakukan secara parsial. Setiap wilayah memiliki kondisi geologi, dinamika gelombang, penggunaan lahan, serta tingkat penurunan tanah yang berbeda.

Karena itu, solusi perlu disesuaikan dengan karakteristik tiap daerah. Upaya yang dapat dilakukan antara lain rehabilitasi mangrove, pengendalian penurunan tanah, pengelolaan daerah aliran sungai, serta pembangunan infrastruktur pesisir yang adaptif.

Tubagus menegaskan bahwa persoalan Pantura harus dilihat sebagai isu nasional karena kawasan ini memiliki peran penting bagi perekonomian Indonesia.

“Pantura Jawa sedang menghadapi krisis nyata. Tantangannya bukan hanya erosi, abrasi, banjir, tapi juga kenaikan muka air laut dan amblasan tanah. Dan itu bukan isu lokal, itu isu nasional. Mengingat Pantura Jawa sebagai tulang punggung perekonomian nasional,” tegas Tubagus.

Dengan strategi berbasis data dan penanganan lintas sektor, krisis abrasi Pantura masih dapat ditekan. Namun, langkah mitigasi perlu dilakukan secara serius agar ekosistem pesisir, infrastruktur, dan kehidupan masyarakat Pantura tetap terlindungi.

(NY/AP)

Sumber

https://brin.go.id/news/127920/brin-ungkap-658-persen-garis-pantai-pantura-jawa-alami-erosi