Gubernur Jakarta Perintahkan Pembasmian Sapu-Sapu, Ini Bahayanya bagi Ekosistem Sungai

Sungai 15 Apr 2026 35 kali dibaca
Gambar Artikel Penangkapan ikan sapu-sapu | Dok. Arif Kamarudin

LingkariNews — Belakangan, nama Arief Kamarudin viral di media sosial. Pemuda asal Lenteng Agung itu adalah seorang konten kreator yang aktif membagikan aktivitasnya menangkap dan membasmi ikan sapu-sapu di Sungai Ciliwung. Hampir setiap hari, ia turun ke Sungai Ciliwung dengan perlengkapan sederhana, menangkap sapu-sapu, dan kerap kali mengambil telur sapu-sapu dari sarang. 

Bagi Arief, aksinya tersebut bukan hanya sebagai bahan konten saja. Ia tumbuh di bantaran Sungai Ciliwung sejak kecil. Masa kecilnya dihabiskan dengan berenang dan menangkap ikan disana. Ia bercerita bahwa dulu, dia bisa menemukan banyak jenis ikan dan udang ditemukan di Ciliwung. Kini, Ciliwung didominasi sapu-sapu, sementara ikan lokal semakin sulit ditemukan. Aksinya ini pun perlahan mendapat perhatian dan dukungan dari berbagai pihak.

Mengenal Sapu-Sapu, Ikan Invasif dari Amerika Selatan

Sapu-sapu merupakan spesies ikan invasif yang berasal dari Amerika Selatan. Kemampuannya berkembang biak tergolong sangat cepat. Seekor induk mampu menghasilkan 200-400 telur dalam satu kali pemijahan, dan satu induk sapu-sapu bisa bertelur beberapa kali dalam setahun. Pola reproduksinya ini membuat ikan sapu-sapu dengan cepat memperbanyak populasi dan mendominasi perairan.

Selain itu, sapu-sapu juga tergolong sebagai ikan omnivora. Ia memakan alga, sisa organik, hingga telur ikan lain. Karekateristiknya itu membuat sapu-sapu menjadi ikan invasif yang mengancam populasi ikan lokal di habitat barunya.

Di habitat aslinya, ikan sapu-sapu punya banyak predator alami seperti berang-berang, aligator, burung air, dan ikan predator besar. Namun di Sungai Ciliwung, predator alami ikan ini sangat minim. Hal ini membuat populasi sapu-sapu bisa berkembang dengan pesat tanpa kendali. Akibatnya, ikan lokal kalah bersaing dan lama-kelamaan hilang.

Dalam buku “Yuk Mengenal Ikan Sapu-sapu Sungai Ciliwung” karya Dewi Elfidasari, tercatat ada 187 jenis ikan hidup di Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung pada tahun 1910. Tapi pada 2009, jumlah ikan lokal disana tinggal 20 jenis. Dari jumlah itu, 5di antaranya merupakan ikan asing, termasuk sapu-sapu. Secara jumlah, populasi sapu-sapu juga sangat mendominasi.

Selain mengancam populasi ikan lokal, ikan sapu-sapu juga disebut merusak lingkungan perairan sekitar. Mereka memiliki kebiasaan menggali lubang di tepian sungai untuk bertelur. Lubang-lubang yang terbentuk mempercepat erosi di bantaran sungai. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi memperparah kerusakan ekosistem perairan.

Bukan Hanya Masalah Ciliwung

Ancaman ikan sapu-sapu tidak hanya terjadi di Sungai Ciliwung. Mayoritas perairan di Jakarta dan berbagai daerah lain juga menghadapi persoalan serupa. Populasi sapu-sapu terus meningkat dan sulit dikendalikan. Gubernur Jakarta, Pramono Anung, sampai menginstruksikan Pemerintah Provinsi Jakarta untuk penangkapan dan pembasmian sapu-sapu di berbagai wilayah perairan Jakarta. 

Langkah tersebut diambil karena populasi sapu-sapu dinilai sudah sangat masif dan berpotensi mengganggu ekosistem perairan lokal. Ia menegaskan, operasi pembersihan harus dilakukan di seluruh wilayah terdampak. ”Saya meminta bukan hanya di Jakarta Pusat, melainkan di semua wilayah yang ikan sapu-sapunya banyak, agar dilakukan operasi pembersihan,” ujar Pramono.

Bukan Penyebab Utama

Meski kerap dianggap merusak ekosistem, Anton, pegiat komunitas ikan sapu-sapu, memiliki pandangan berbeda. Ia menilai sapu-sapu bukan penyebab utama rusaknya ekosistem sungai di Jakarta. Menurutnya, faktor terbesar justru berasal dari kondisi perairan yang tercemar. 

Pencemaran membuat ikan lokal yang memiliki daya adaptasi rendah semakin tertekan. Populasinya terus menurun dari waktu ke waktu. Sementara itu, sapu-sapu mampu bertahan karena daya adaptasinya tinggi. Meski begitu, Anton tidak menampik populasinya yang berlebih tetap berdampak negatif. Karena itu, ia menekankan penanganan harus dibarengi upaya serius mengatasi pencemaran sungai.

(KP/NY)