LingkariNews — Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat, ditetapkan sebagai penyumbang emisi gas metana terbesar kedua di dunia. Temuan ini terungkap dalam laporan yang dirilis UCLA School of Law pada 20 April 2026. Dalam laporan berjudul “Spotlight on the Top 25 Methane Plumes in 2025: Landfills” itu, TPST Bantargebang tercatat menghasilkan sekitar 6,3 juta ton gas metana setiap jam.
Data ini diperoleh melalui pemantauan Carbon Mapper. Pemantauan dilakukan dengan memanfaatkan satelit Tanager-1 milik Planet Labs serta instrumen EMIT milik NASA di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS). Teknologi ini memungkinkan identifikasi sumber emisi secara lebih akurat dan terukur.
Produksi metana di TPST Bantargebang jauh melampaui rata-rata emisi metana di tempat pembuangan akhir (TPA) dunia. Umumnya, setiap TPA hanya menghasilkan metana dalam kisaran puluhan kilogram per jam. Itu artinya, emisi metana di Bantargebang ribuan kali lebih tinggi dibanding rata-rata global.
Tingkat persistensi emisi di Bantargebang juga mencapai 100 persen. Artinya, gas metana selalu terdeteksi setiap kali satelit melintas. Pada pertengahan 2025, lonjakan emisi bahkan menembus lebih dari 12 ton per jam. Angka ini menunjukkan pelepasan gas yang konsisten dan tinggi. Situasi tersebut menjadikan Bantargebang sebagai titik emisi metana terburuk di Asia.
Gas metana (CH4) adalah gas yang terbentuk dari penguraian bahan organik tanpa oksigen. Proses ini banyak terjadi di tumpukan sampah seperti di TPST Bantargebang, limbah makanan, dan kotoran hewan. Dalam jumlah kecil, metana tidak
beracun dan tidak langsung membahayakan tubuh. Namun, gas ini menjadi berbahaya saat terakumulasi dalam jumlah besar.
Metana merupakan gas rumah kaca yang kuat dengan potensi pemanasan global yang sangat tinggi. UCLA menyebut, emisi 5 ton metana per jam setara dengan satu juta mobil SUV atau pembangkit listrik batu bara berkapasitas 500 megawatt. Laporan Methane Tracker tahun 2021 dari International Energy Agency (IEA) juga menyebut, metana memiliki potensi pemanasan global hingga 28–36 kali CO2 dalam 100 tahun. Dalam 20 tahun, dampaknya melonjak hingga 84–87 kali.
Selain itu, akumulasi metana dalam jumlah besar juga dapat meningkatkan risiko kebakaran dan ledakan. Mekanismenya mirip tabung gas yang bocor lalu terkena percikan api. Gas yang terperangkap akan memicu tekanan dan mudah menyala. Kondisi ini juga dapat terjadi di tempat pembuangan sampah terbuka seperti di TPST Bantargebang. Laporan Aliansi Zero Waste Indonesia pada 2023 mencatat, ada sekitar 38 TPA terbakar akibat ledakan metana saat cuaca panas.
Disamping itu, metana juga berperan dalam pembentukan ozon troposfer yang berbahaya. Ozon di lapisan bawah atmosfer dapat merusak sistem pernapasan manusia. Paparan jangka pendek dapat memicu iritasi dan batuk. Dalam jangka panjang, risiko penyakit seperti ISPA dan asma meningkat. Paparan tinggi bahkan dapat menyebabkan kerusakan paru-paru permanen. Zat ini juga dapat menghambat pertumbuhan tanaman yang berdampak pada produktivitas dan hasil panen.
Pengelolaan sampah di TPST Bantargebang telah lama menjadi sorotan. Setiap hari, kawasan seluas 117 hektare ini menerima sekitar 7.300 ton sampah dari Jakarta. Akibatnya, tumpukan sampah terus menjulang hingga setara gedung 16–20 lantai. Kondisi ini menunjukkan bahwa pengelolaan sampah di sana masih belum optimal.
Jika terus dibiarkan, TPST Bantargebang berpotensi mencapai kapasitas maksimum. Jika kondisi ini terjadi, Jakarta berpotensi menghadapi darurat sampah. Selain itu, timbunan sampah yang semakin tinggi juga berisiko longsor dan menimbulkan korban jiwa seperti yang pernah terjadi sebelumnya.
(KP/NY)
Sumber
https://www.epa.gov/ghgemissions/understanding-global-warming-potentials
https://unece.org/sustainable-energy/about-methane-management-0