LingkariNews — Produktivitas industri gula Indonesia menghadapi persoalan efisiensi yang mengkhawatirkan. Berdasarkan laporan Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, total produksi gula nasional pada 2025 mencapai 2,67 juta ton. Capaian tersebut juga menjadi yang tertinggi sejak tahun 2019, dan lebih besar dibanding produksi tahun 2024 yang tercatat sebanyak 2,47 juta ton.
Di atas kertas, peningkatan ini tampak sebagai perkembangan positif. Namun, kenaikan produksi pada 2025 juga dibarengi perluasan lahan tebu yang signifikan. Jika dibedah lebih dalam, industri gula nasional sebenarnya mengalami penurunan efisiensi yang mengkhawatirkan.
Saat negara-negara penghasil gula kompetitif lain punya tingkat rendemen atau Commercial Cane Sugar (CCS) di kisaran 12-13%, Indonesia masih tertahan di angka rata-rata 7,5%. Kesenjangan ini menunjukkan bahwa pertumbuhan produksi gula nasional lebih ditopang bertambahnya lahan, bukan karena meningkatnya kemampuan mengolah tebu menjadi gula.
CCS adalah tingkat rendemen gula yang dihasilkan dari tebu di pabrik gula. Dengan CCS 7,5%, setiap 100 ton tebu yang digiling di pabrik gula hanya menghasilkan sekitar 7-8 ton gula. Angka ini tergolong rendah. Sebagai pembanding, Thailand yang merupakan salah satu eksportir gula terbesar dunia mencatat CCS 12,7% dalam lima tahun terakhir. Brazil dan Australia bahkan mencapai CCS 13,5%. Selisih ini menunjukan bahwa tingkat efisiensi produksi gula nasional masih jauh tertinggal dari negara-negara produsen utama lain.
Menurut Ketua Gapgindo, Syukur Iwantoro, rendahnya produktivitas gula nasional disebabkan oleh sejumlah persoalan. Di antaranya usia tanaman yang sudah tua, terbatasnya bibit unggul, praktik budidaya yang belum maksimal, serta minimnya pengairan dan akses pembiayaan.
Di lapangan, petani sering terlambat menanam tebu. Padahal, idealnya tebu ditanam di awal musim hujan agar masak saat kemarau tiba. Dalam hal pemupukan, banyak petani memupuk dengan dosis yang tidak proporsional dengan kebutuhan agronomis tebu, karena keterbatasan modal. Penggunaan varietas yang tidak sesuai dengan karakteristik lahan dan waktu panen turut membatasi potensi rendemen.
Secara teknis, komposisi varietas tebu di Indonesia juga masih sangat timpang. Idealnya, varietas dibagi berdasarkan waktu masaknya dengan porsi 30%, 40%, dan 30% untuk masak awal, tengah, dan lambat. Namun, varietas masak awal baru sekitar 7,5 persen. Akibatnya, tebu masak serentak di waktu tertentu dan pabrik kewalahan menggiling. Sebagian tebu akhirnya digiling terlalu lama atau saat belum optimal. Kondisi ini menekan rendemen dan membuat produksi gula tidak maksimal.
Di sektor hilir, banyak pabrik gula, terutama di lingkup BUMN yang masih mengoperasionalkan mesin berusia tua. Peralatan yang sudah renta tidak mampu mengekstraksi nira secara optimal. Hal itu membuat tingkat rendemen rendah. Mesin tua juga menyebabkan kualitas gula yang dihasilkan tidak optimal, sehingga warnanya cenderung putih kusam atau kuning.
Penyebab lain adalah minimnya peremajaan tanaman tebu. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebut, 70-80 persen tebu ratoon tidak layak atau bahkan rusak. Sistem ratoon banyak dipilih karena lebih hemat bagi petani. Padahal, ratoon yang terlalu tua membuat produktivitas tanaman cenderung menurun.
Sejatinya, Indonesia memiliki potensi besar untuk meningkatkan rendemen gula hingga CCS 9–10%. Namun, pencapaian target tersebut membutuhkan penguatan manajemen budidaya, modernisasi pabrik, perbaikan varietas, dan pembenahan manajemen industri. Jika perbaikan-perbaikan tersebut dilakukan secara konsisten, CCS 11–12% juga berpeluang dicapai dalam jangka menengah.
Peningkatan CCS dapat memperbesar peluang Indonesia mencapai swasembada gula nasional yang telah dicanangkan. Setiap kenaikan CCS sebesar 1% saja berpotensi menambah produksi gula nasional sekitar 1,3–1,5 juta ton per tahun. Jika Indonesia berhasil mencapai CCS 9–10%, produksi gula berpotensi meningkat sekitar 2–3,5 juta ton per tahun, dengan asumsi volume tebu yang diolah tetap. Peningkatan ini dapat mengurangi ketergantungan pada impor, memperkuat pasokan domestik, dan meningkatkan pendapatan petani.
(KP/NY)