LingkariNews — Prof. Samsudin Anis dari Universitas Negeri Semarang (UNNES) berhasil menciptakan alat inovatif yang mampu mengubah udara menjadi air bersih. Teknologi ini diberi nama Atmospheric Water Maker (AWM). Tidak hanya mampu menghasilkan air, AWM diklaim mampu menghasilkan air yang aman untuk diminum. Inovasi tersebut menjadi perhatian di tengah ancaman krisis air di berbagai wilayah.
Prof. Anis menjelaskan, mesin ini dapat digunakan di berbagai sektor, baik di sektor publik maupun lingkungan medis. Dalam lingkup kesehatan, AWM mampu menghasilkan air yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan terapeutik dan klinis. Sementara bagi masyarakat umum, AWM bisa menjadi sumber air minum alternatif, terutama di wilayah dengan keterbatasan akses air bersih.
Cara Kerja AWM
AWM bekerja dengan mengekstraksi kelembapan udara melalui proses filtrasi dan kondensasi. Udara atmosfer dihisap lalu didinginkan hingga di bawah titik embun. Proses ini membuat uap air yang terkandung dalam udara berubah menjadi cairan.
Air yang dihasilkan dari proses tersebut kemudian dimurnikan melalui beberapa tahap filtrasi. Proses ini memastikan air yang dihasilkan memenuhi standar air minum yang aman dikonsumsi. Setelah melalui serangkaian proses tersebut, AWM mampu menghasilkan air yang layak digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Inovasi ini menjadi teknologi pertama di Indonesia yang mampu menghasilkan air bersih langsung dari udara.
Prof. Anis menjelaskan, AWM bekerja optimal pada kondisi panas dan lembap. Alasannya karena pada dua kondisi tersebut, kadar uap air di udara lebih tinggi. Titik embun juga mendekati suhu udara membuat proses kondensasi jadi lebih efisien. Hal ini membuat produksi air bersih jadi lebih maksimal.
Berangkat dari Masalah di Masyarakat
Prof. Anis menjelaskan, ide awal membuat AWM berangkat dari masalah kekeringan yang kerap dialami wilayah pesisir seperti selatan Jawa, Kalimantan, dan Indonesia Timur. Menurutnya, daerah-daerah tersebut sebenarnya punya ketersediaan air yang melimpah. Namun, air yang ada sebagian besar berupa air payau sehingga tidak layak konsumsi. “Ide ini berasal dari masalah nyata yang dihadapi masyarakat. Di beberapa daerah pesisir, termasuk Kalimantan, air memang banyak tetapi berupa air payau,” ujarnya.
Berangkat dari masalah tersebut, Prof. Anis mengembangkan teknologi yang mampu menghasilkan air bersih dari sumber alternatif. Setelah melakukan serangkaian riset dan pengujian awal, ia melihat bahwa udara bisa menjadi sumber air potensial yang belum dimanfaatkan secara optimal. Di atmosfer, diperkirakan terdapat sekitar 13.000 km³ cadangan air dalam bentuk uap.
Lebih lanjut, Prof. Anis menjelaskan bahwa pengembangan AWM telah dilakukan secara bertahap sejak 2019. Tahap awal dimulai dari Proto-1 yang berfokus pada riset dasar. Selanjutnya pada 2021, dilakukan pengujian performa melalui pengembangan Proto-2. Pada tahun 2022, pengembangan berlanjut ke Proto-3 untuk uji produksi dan kualitas air bersih. Kemudian sejak 2023, teknologi ini mulai diterapkan di lapangan. Hal tersebut disampaikan dalam “Simposium Air” di FISIP Unnes pada Oktober 2025.
Pengembangan Lanjutan Teknologi AWM
Prof. Anis berharap AWM dapat menjadi solusi bagi masyarakat yang menghadapi krisis air bersih di berbagai wilayah. Saat ini, AWM masih dalam tahap pengembangan lanjutan agar nantinya bisa diproduksi secara massal. Prof. Anis berkata bahwa pihaknya telah bekerja sama dengan perusahaan elektronik. Kolaborasi ini diharapkan mampu mempercepat distribusi teknologi kepada masyarakat.
Ke depan, inovasi ini diharapkan menjadi bagian dari solusi lingkungan berkelanjutan. Pemanfaatan udara sebagai sumber air dinilai mampu menjadi alternatif dalam mengatasi kekeringan dan kekurangan air bersih. Prof. Anis juga berharap teknologi ini menjadi percontohan yang dapat mendorong lahirnya inovasi serupa dari para peneliti di Indonesia.
(KP/NY)