Pembangunan Data Center Jatiluhur dan Ancaman terhadap Ketersediaan Air

Sungai 28 Sep 2026 25 kali dibaca
Gambar Artikel

LingkariNews — Tepat sepekan lalu, proyek data center Jatiluhur, Purwakarta, resmi dimulai. Proyek yang berlokasi sekitar lima kilometer dari Bendungan Jatiluhur ini dibangun di atas lahan seluas 8.000 meter persegi. Nilai investasinya disebut mencapai Rp3,5 triliun. Fasilitas ini diharapkan menjadi salah satu pusat komputasi artificial intelligence (AI) berkapasitas besar di Indonesia. 

Namun di tengah manfaatnya bagi perkembangan teknologi AI di Indonesia, masyarakat khawatir proyek data center Jatiluhur dapat menekan ketersediaan air bersih.

Data Center dan Kebutuhan Air Bersih

Data center merupakan fasilitas tempat menyimpan server yang mengolah data dan menunjang berbagai layanan digital, termasuk AI. Karena terus beroperasi sepanjang hari, server-server ini menghasilkan panas yang sangat tinggi. Agar dapat bekerja optimal, perangkat server ini membutuhkan sistem pendinginan. 

Kebanyakan data center, termasuk yang akan dibangun di Jatiluhur, memakai air bersih sebagai media pendingin. Teknologi ini disebut direct-to-chip liquid cooling. Air dialirkan lewat pipa kecil ke pelat logam yang menempel langsung pada chip. Air tersebut kemudian akan menyerap panas dari chip server.

Melansir Nowdots, dokumen desain AI Campus 2 (CGK4) menyebut fasilitas data center Jatiluhur membutuhkan 18.000 meter kubik air per hari untuk sistem pendinginan. Kebutuhan itu bahkan bisa diperluas hingga 36.000 meter kubik, atau 36 juta liter per hari. Jumlah tersebut setara dengan konsumsi air bersih 53.000 hingga 62.500 rumah tangga di perkotaan Indonesia setiap hari. Meski demikian, angka itu belum menjadi konsumsi harian aktual yang dipastikan saat pusat data beroperasi.

Peran Vital Waduk Jatiluhur Bagi Masyarakat

Meski konsumsi air aktual untuk operasional data center Jatiluhur belum dapat dipastikan, lokasi proyek yang berdekatan dengan Bendungan Jatiluhur tetap memunculkan kekhawatiran di masyarakat. Pasalnya, Waduk Jatiluhur merupakan bendungan serbaguna yang selama ini menopang berbagai kebutuhan masyarakat di Jakarta dan Jawa Barat. 

Bendungan Jatiluhur merupakan salah satu sumber utama air baku untuk masyarakat Jakarta. Pasokan air dari Jatiluhur mencapai sekitar 18.000 liter per detik, atau setara 1,56 miliar liter air per hari. Jumlah tersebut menjadikan Jatiluhur sebagai bagian penting dari sistem penyediaan air PAM Jaya yang melayani kebutuhan sekitar 1,2 juta warga Jakarta. 

Bendungan Jatiluhur juga menjadi sumber irigasi yang mengairi 237.790 hektare lahan pertanian di Bekasi, Karawang, Subang, dan Indramayu. Karena perannya yang sangat vital, pembangunan data center Jatiluhur dikhawatirkan dapat mengganggu pasokan air bersih masyarakat. Terlebih, pasokan air makin rentan di tengah ancaman krisis air akibat perubahan iklim dan fenomena El Niño.

Kebangkrutan Air dan Fenomena AI

Awal 2026, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan dunia tengah memasuki masa kebangkrutan air. Istilah ini merujuk pada kondisi dimana konsumsi air baku melampaui pasokan alami yang mampu diperbarui alam. Menurut data World Bank, hampir separuh populasi bumi kini mengalami kelangkaan air parah setidaknya sebulan dalam setahun. Bila pola konsumsi air tidak dibenahi, krisis air bisa semakin parah dan meluas.

Perkembangan AI dan industri data center menjadi perhatian utama dalam isu ini. Alasannya karena fasilitas data center di berbagai belahan dunia telah mengkonsumsi air dalam jumlah besar untuk sistem pendinginan dan pembangkit listrik mereka. Menurut perkiraan PBB, konsumsi air data center di seluruh dunia mencapai 4,5 triliun liter per tahun dan berpotensi naik menjadi 9,3 triliun liter pada 2030. Karena itu, pembangunan data center Jatiluhur harus tetap memperhatikan dampaknya bagi ketersediaan air bersih disana.

(KP/NY)

Sumber

https://www.reuters.com/business/energy/ai-double-data-centre-power-water-consumption-by-2030-un-researchers-say-2026-06-03/

https://news.un.org/en/story/2026/01/1166800

https://wmo.int/news/media-centre/from-drought-deluge-wmo-report-highlights-increasingly-erratic-water-cycle

Berita Terpopuler

1
Indonesia Penghasil Sampah Terbesar Ke-5 Dunia: Produksi dan Jenis-Jenisnya
2
Kepolisian Ungkap Tambang Ilegal di Tahura Bukit Soeharto, Kerugian Negara Ditaksir Capai Rp1 Triliun
3
Perkembangan Industri Gula Tahun 2020 hingga 2025
4
Penyebab Banjir dan Longsor di Sumatera: Bencana Alam atau Kerusakan Alam?
5
Warga Sukatani Tolak Proyek Geotermal Gunung Gede Pangrango

Grafik Harga Gula

Raw Sugar: -
-
White Sugar: -
-
White Sugar: -
-