BRIN Temukan 18 Ikan Coelacanth di Pulau Talise Sulawesi Utara, Spesies Purba yang Bertahan Selama 400 Juta Tahun

Kelautan 14 Agus 2026 32 kali dibaca
Gambar Artikel Ilustrasi ikan Coelacanth di Pulau Talise

LingkariNews – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) temukan 18 individu ikan purba Coelacanth (Latimera menadoensis) di perairan Pulau Talise, Sulawesi Utara. Temuan tersebut memperkuat bukti bahwa Indonesia merupakan salah satu habitat penting bagi spesies laut langka yang telah bertahan selama sekitar 400 juta tahun.

Hasil riset tersebut juga memberikan pijakan ilmiah untuk memperkuat upaya konservasi Coelacanth, termasuk rencana pembentukan kawasan konservasi khusus di habitatnya.

Penelitian Coelacanth Berlangsung Lebih dari 20 Tahun 

Temuan mengenai Coelacanth di Pulau Talise dipaparkan Prof. Alex Masengi dari Universitas Sam Ratulangi bersama Prof. Augy Syahailatua, peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, dalam Simposium Marine Futures Unlocked 2: From Insight to Impact di Grand Ballroom BRIN Gatot Subroto, di Jakarta pada Juli lalu. 

Penelitian Coelacanth di Indonesia telah berlangsung lebih dari dua dekade. Sejak dimulai pada 2004, tim peneliti telah mengidentifikasi sedikitnya 52 individu Coelacanth di perairan Indonesia. Melalui kolaborasi internasional, peneliti juga menemukan empat individu di Afrika Selatan.

Rangkaian ekspedisi tersebut dilakukan untuk mengungkap habitat, persebaran, serta karakteristik biologis Coelacanth yang masih belum banyak diketahui.

“Selama 20 tahun penelitian, kami terus berupaya memahami kehidupan Coelacanth di habitat alaminya. Temuan-temuan terbaru menunjukkan bahwa Indonesia memiliki peran yang sangat penting dalam upaya konservasi spesies ini,” ujar Alex. 

18 Coelacanth Ditemukan di Gua Bawah Laut

Salah satu pencapaian penting dalam penelitian tersebut diperoleh melalui ekspedisi kolaboratif BRIN, OceanX, dan NHK. Tim kembali mengeksplorasi gua bawah laut di Pulau Talise yang sebelumnya telah diteliti pada 2009. 

Pada penelitian sebelumnya, lokasi tersebut hanya mencatat empat individu Coelacanth. Sementara dalam survei terbaru, tim berhasil mendokumentasikan 18 individu, termasuk 11 ekor yang ditemukan hidup dalam satu gua.

Temuan ini memberikan gambaran yang lebih lengkap mengenai pemanfaatan habitat oleh Coelacanth. Peneliti juga mendokumentasikan seekor Coelacanth juvenil berukuran sekitar 26 sentimeter di Teluk Amurang.

Keberadaan individu muda tersebut memberikan petunjuk baru bagi peneliti untuk memahami proses reproduksi dan keberlanjutan populasi Coelacanth di Indonesia.

Habitat Coelacanth Membentang dari Sulawesi hingga Papua

Penelitian yang dilakukan selama lebih dari 20 tahun turut mengonfirmasi luasnya persebaran habitat Coelacanth di Indonesia. Spesies tersebut diketahui memiliki habitat yang membentang dari Biak, Papua, hingga Buol, Sulawesi Tengah. 

Sebaran tersebut semakin menunjukkan pentingnya perairan Indonesia bagi kelangsungan hidup Coelacanth. Untuk mempelajari aspek biologinya, peneliti menggunakan sejumlah teknologi modern, termasuk pendekatan environmental DNA (eDNA). 

Metode eDNA memungkinkan keberadaan spesies diindentifikasi melalui jejak genetik yang terdapat di lingkungan perairan. Selain itu, peneliti melakukan pemindaian CT Scan terhadap salah satu spesimen dan menemukan 22 butir telur di dalam tubuh ikan tersebut.

“Keberhasilan menemukan 11 individu Coelacanth dalam satu gua dan hasil CT Scan yang menunjukkan adanya 22 telur merupakan pencapaian yang sangat berharga untuk memahami biologi dan reproduksi spesies ini,” jelas Alex.

Pulau Talise Disiapkan untuk Konservasi

Prof. Augy Syahailatua mengatakan kawasan tersebut tengah dipersiapkan menjadi kawasan konservasi khusus melalui konsultasi publik, pembahasan bersama pemerintah daerah, serta koordinasi dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Menurut Augy, perlindungan Coelacanth tidak hanya berkaitan dengan keberlangsungan spesies langka, tetapi juga dapat mendukung kegiatan penelitian, pendidikan, dan ekowisata berbasis konservasi.

“Konservasi Coelacanth tidak hanya bertujuan melindungi spesies langka, tetapi juga mendukung pengembangan riset ilmiah, pendidikan, dan ekowisata berbasis konservasi. Keberadaan Coelacanth memberikan peluang besar bagi Indonesia untuk memperkuat posisinya sebagai pusat penelitian biodiversitas laut dunia,” ujar Augy.

Pulau Talise Diusulkan Menjadi Kawasan Konservasi

Upaya pembentukan kawasan konservasi habitat Coelacanth di Pulau Talise telah memasuki tahap penting. Pada Juli 2026, Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara menyerahkan dokumen persetujuan kepada Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk menetapkan perairan Pulau Talise sebagai kawasan konservasi atau taman suaka habitat Coelacanth. 

Setelah penetapan kawasan konservasi nasional selesai, pemerintah bersama para peneliti berencana mengusulkan habitat Coelacanth Pulau Talise sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO. 

Kawasan tersebut berada di wilayah Segitiga Terumbu Karang (Coral Triangle), salah satu kawasan dengan keanekaragaman hayati laut penting di dunia.

Rangkaian penelitian Coelacanth selama lebih dari dua dekade menunjukkan pentingnya riset ilmiah dalam memahami spesies dan habitatnya. Informasi mengenai populasi, persebaran, serta reproduksi Coelacanth dapat menjadi dasar dalam penyusunan kebijakan konservasi.

Temuan di Pulau Talise sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu kawasan penting bagi Coelacanth. Perlindungan spesies tersebut perlu berjalan beriringan dengan upaya menjaga ekosistem laut dalam yang menjadi habitatnya. 

Dengan demikian, penelitian Coelacanth tidak hanya menghasilkan pengetahuan baru mengenai ikan purba tersebut, tetapi juga menyediakan bukti ilmiah yang dapat mendukung perlindungan biodiversitas laut Indonesia secara berkelanjutan.

(NY) 

Sumber

https://www.brin.go.id/news/129579/temuan-18-ikan-purba-di-pulau-talise-perkuat-dasar-ilmiah-konservasi-laut-indonesia

Berita Terpopuler

1
Indonesia Penghasil Sampah Terbesar Ke-5 Dunia: Produksi dan Jenis-Jenisnya
2
Kepolisian Ungkap Tambang Ilegal di Tahura Bukit Soeharto, Kerugian Negara Ditaksir Capai Rp1 Triliun
3
Perkembangan Industri Gula Tahun 2020 hingga 2025
4
Penyebab Banjir dan Longsor di Sumatera: Bencana Alam atau Kerusakan Alam?
5
Warga Sukatani Tolak Proyek Geotermal Gunung Gede Pangrango

Grafik Harga Gula

Raw Sugar: -
-
White Sugar: -
-
White Sugar: -
-