Pesut Mahakam terancam kekeringan dan karhutla | Sumber: Yayasan RASI
LingkariNews – Yayasan RASI (Rare Aquatic Species of Indonesia) menyoroti sejumlah dampak kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Timur terhadap kelangsungan hidup Pesut Mahakam.
Kemarau telah menyebabkan danau-danau di daerah aliran sungai (DAS) Mahakam menyusut, sementara kabut asap karhutla mengancam habitat pesut. Padahal, populasi Pesut Mahakam diperkirakan hanya tersisa 60 hingga 80 individu. Dengan demikian, kondisi ini menambah daftar ancaman terhadap satwa langka tersebut.
Kekeringan Membatasi Ruang Hidup Pesut Mahakam
Kemarau ekstrem menyebabkan permukaan air di sejumlah danau di DAS Mahakam menyusut. Padahal, danau-danau tersebut merupakan kawasan penting bagi Pesut Mahakam untuk mencari makan, melahirkan, dan mengasuh anaknya.
Ketika perairan mengering, ruang gerak pesut semakin terbatas. Menyusutnya habitat juga mengancam ketersediaan sumber pakan yang dibutuhkan untuk bertahan hidup.
Ancaman lain datang dari kebakaran hutan dan lahan yang masih berlangsung hingga kini. Berdasarkan pemantauan rutin, tim pemantauan RASI menemukan sejumlah titik api di kawasan sempadan sungai dan rawa gambut. Kedua ekosistem tersebut berperan penting bagi kehidupan Pesut Mahakam, termasuk dalam mendukung ketersediaan sumber pakannya.
Karhutla yang telah berlangsung selama empat bulan ini telah menimbulkan kabut asap. Tidak hanya mengurangi jarak pandang dan menghambat proses pemantauan, kabut asap berpotensi memengaruhi pesut ketika muncul ke permukaan sungai untuk bernapas.
Kabut Asap Berpotensi Memapar Pesut Mahakam
Pesut Mahakam merupakan mamalia air tawar yang bernapas menggunakan paru-paru. Satwa ini hanya dapat bertahan sekitar 8–10 menit di bawah air. Oleh karena itu, pesut perlu muncul ke permukaan secara berkala untuk mengambil napas.
Ketika kabut asap menyelimuti permukaan sungai, pesut berpotensi terpapar asap saat bernapas. Namun, dampak paparan tersebut terhadap Pesut Mahakam, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang, masih memerlukan pengamatan lebih lanjut.
Kondisi ini menambah daftar ancaman bagi Pesut Mahakam yang habitatnya bergantung pada kondisi perairan dan ekosistem di sekitarnya. Karena itu, kebakaran yang terjadi di sekitar sungai tidak hanya menjadi persoalan hilangnya vegetasi, tetapi juga berpotensi mengganggu kehidupan satwa yang bergantung pada ekosistem tersebut.
Sempadan Sungai Menopang Ekosistem Mahakam
Sempadan sungai merupakan kawasan di sepanjang tepi sungai yang ditumbuhi dengan vegetasi. Karena itu, kawasan tersebut memiliki peran penting dalam menjaga ekosistem perairan serta keanekaragaman hayati.
Pepohonan di kawasan ini memberikan naungan untuk membantu menstabilkan suhu air agar tidak terlalu panas. Vegetasi juga mengurangi sedimentasi dan menjadi sumber makanan bagi ikan melalui daun serta buah yang jatuh ke sungai.
Selain itu, akar tumbuhan di sempadan sungai menjadi tempat ikan berpijah. Dengan demikian, kawasan ini membentuk mikrohabitat yang mendukung keberlangsungan hidup berbagai jenis ikan.
Ketika sempadan sungai terbakar, habitat dan sumber makanan ikan terancam rusak. Dampaknya dapat mengganggu keseimbangan ekosistem Sungai Mahakam, termasuk ketersediaan sumber pakan dan habitat yang dibutuhkan Pesut Mahakam.
Kekeringan dan karhutla yang masih berlangsung menunjukkan bahwa ancaman terhadap ekosistem sungai tidak hanya berasal dari menyusutnya perairan, tetapi juga dari kerusakan kawasan di sekitarnya. Perlindungan sempadan sungai dan rawa gambut menjadi penting untuk menjaga ekosistem yang menopang kehidupan pesut mahakam dan keanekaragaman hayati Sungai Mahakam.
(NY)