Jadi Harapan Baru, Mangrove Dunia Mulai Pulih Setelah Puluhan Tahun Tergerus

Pesisir 20 Okt 2026 44 kali dibaca
Gambar Artikel

LingkariNews – Kabar baik datang dari ekosistem pesisir global. Setelah puluhan tahun mengalami penurunan drastis akibat alih fungsi lahan dan eksploitasi, tutupan hutan mangrove di berbagai belahan dunia dilaporkan mulai menunjukkan tren pemulihan.

Meskipun peningkatannya masih terbatas, perkembangan ini menjadi titik balik penting bagi kelestarian vegetasi pesisir. Sebab, mangrove memegang peranan vital dalam menjaga keseimbangan iklim global, mulai dari menyerap karbon dalam jumlah besar, menyediakan habitat bagi ribuan spesies laut, hingga menjadi benteng alami dari ancaman abrasi dan gelombang badai.

Sebagaimana dilansir dari Mongabay, berdasarkan data terbaru Global Mangrove Watch (GMW), luas tutupan mangrove dunia mencatatkan kenaikan bersih sebesar 477 kilometer persegi atau sekitar 0,3 persen dalam rentang waktu empat dekade terakhir (1985–2025). Temuan ini juga didukung oleh studi independen terpisah yang mengonfirmasi adanya pertumbuhan positif pada tutupan vegetasi pesisir global tersebut.

Akurasi Data Perkuat Langkah Konservasi

Pemantauan yang dilakukan oleh konsorsium Global Mangrove Alliance ini memanfaatkan pemetaan citra satelit beresolusi tinggi 10 meter berbasis pembelajaran mesin (machine learning). Teknologi tersebut digunakan untuk mengevaluasi dinamika tutupan mangrove di 108 negara selama periode 39 tahun.

Lammert Hilarides, Pimpinan Program GMW dari organisasi Wetlands International yang berbasis di Belanda, menjelaskan bahwa ketersediaan data historis yang akurat sangat krusial untuk menentukan langkah konservasi. Ia menegaskan bahwa kunci utama untuk menghentikan kerusakan dan melakukan restorasi secara efektif adalah ketersediaan data yang presisi. 

Dalam laporan tersebut, India tercatat sebagai negara dengan peningkatan tutupan mangrove tertinggi setelah berhasil menambah hingga 1.180 kilometer persegi. Ekspansi signifikan juga terjadi di beberapa negara lain, seperti Australia, Pakistan, Senegal, dan Filipina.

Indonesia: Penurunan Melambat, Tren Positif Menguat

Meski tren global menunjukkan pemulihan, proses rehabilitasi belum sepenuhnya merata. Sejumlah negara masih mencatatkan penurunan bersih dalam kurun 39 tahun terakhir, di antaranya Indonesia, Myanmar, Malaysia, Nigeria, dan Kuba. 

Sebagai pemilik sekitar seperlima dari total luasan mangrove dunia, Indonesia mencatatkan pengurangan terbanyak sejak 1985, yakni mencapai 2.043 kilometer persegi. 

Meski demikian, data GMW menunjukkan sinyal optimisme baru bagi Indonesia. Hilarides menyampaikan kepada Mongabay bahwa sejak 2010, laju penurunan luasan mangrove di tanah air melambat secara signifikan. Bahkan sejak 2015, Indonesia berhasil masuk dalam jajaran tiga besar negara dengan laju pertumbuhan tutupan mangrove tertinggi di dunia.

Mangrove: Benteng Alami Lawan Krisis Iklim

Kerusakan ekosistem mangrove membawa dampak langsung terhadap keberlanjutan wilayah pesisir. Hilangnya vegetasi ini terbukti meningkatkan kerentanan masyarakat pesisir terhadap ancaman bencana alam. Dampak ini juga semakin terasa berat karena adanya ancaman perubahan iklim, yang memicu badai dan banjir air laut ekstrem.

Di Indonesia dan Myanmar, konversi lahan pesisir selama puluhan tahun telah memperbesar dampak kerusakan akibat siklon dan gelombang pasang. Hal serupa terjadi di kawasan Delta Niger, Nigeria, di mana pencemaran minyak mentah serta pembukaan lahan membuat pemukiman warga kian terancam banjir rob dan erosi pantai.

Ogulande Olamide Martins dari organisasi Corporate Accountability and Public Participation Africa, menyampaikan bahwa hilangnya mangrove membuat masyarakat kehilangan benteng alami pelindung permukiman. Sebab, sistem perakaran mangrove yang rapat dapat berfungsi menahan sedimen, menyerang polutan darat, serta menjaga kebersihan air di sekitar terumbu karang.

Pendekatan Berbasis Komunitas dan Regulasi Ketat Jadi Kunci Keberhasilan Restorasi

Upaya pemulihan mangrove tidak sekadar berfokus pada kuantitas bibit yang ditanam. Pengalaman di berbagai negara menunjukkan bahwa proyek penanaman massal tanpa memperhitungkan aspek ekologi kerap berakhir dengan kegagalan. 

India menjadi salah satu contoh sukses rehabilitasi melalui pendekatan terpadu. Peneliti dari M.S. Swaminathan Research Foundation, Ramasubramanian R., menyebutkan bahwa keberhasilan India didukung oleh regulasi pemerintah yang melarang penebangan liar, pembuatan saluran hidrologi khusus untuk sirkulasi air laut, serta program pemberdayaan masyarakat lokal dan keterlibatan kelompok perempuan.

Atas dasar itu, Global Mangrove Alliance menekankan pentingnya pendekatan Restorasi Mangrove Ekologis Berbasis Komunitas (Community-Based Ecological Mangrove Restoration). Metode ini menempatkan masyarakat lokal sebagai pemiliki program serta berfokus pada pemulihan kondisi lingkungan tumbuh, bukan sekadar mengejar target kuota penanaman pohon semata. 

(NY/AP)

Sumber

https://news.mongabay.com/2026/10/mangroves-gain-ground-globally-marking-turnaround-after-decades-of-loss/

Berita Terpopuler

1
Indonesia Penghasil Sampah Terbesar Ke-5 Dunia: Produksi dan Jenis-Jenisnya
2
Kepolisian Ungkap Tambang Ilegal di Tahura Bukit Soeharto, Kerugian Negara Ditaksir Capai Rp1 Triliun
3
Perkembangan Industri Gula Tahun 2020 hingga 2025
4
Cerita Sejarah, Fakta Menarik, dan Peran Ekologis Sungai Brantas
5
Penyebab Banjir dan Longsor di Sumatera: Bencana Alam atau Kerusakan Alam?

Grafik Harga Gula

Raw Sugar: -
-
White Sugar: -
-
White Sugar: -
-