Kearifan Lokal Nusantara: Sustainability Sudah Lama Hidup dalam Tradisi Masyarakat Indonesia

Sains 26 Mar 2026 102 kali dibaca
Gambar Artikel Jajanan tradisional Indonesia dibungkus menggunakan daun pisang

LingkariNews — Indonesia dikenal dengan keragaman budaya dan tradisinya. Hal itu tercermin dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk cara masyarakat mengolah dan menyajikan makanan. Hampir setiap daerah memiliki makanan tradisional yang masih dilestarikan hingga kini. Namun dari kekayaan kuliner tersebut, ada hal menarik yang kerap luput dari perhatian. Banyak makanan tradisional Indonesia dibungkus menggunakan daun pisang, daun jati, atau daun kelapa.

Sekilas, kebiasaan ini tampak seperti tradisi yang kuno dan ketinggalan zaman. Namun tanpa disadari, praktik tersebut mencerminkan prinsip keberlanjutan. Penggunaan daun sebagai pembungkus membuatnya mudah terurai (biodegradable), minim limbah (zero waste), serta memanfaatkan bahan alami yang tersedia di sekitar. Realitas ini menunjukkan bahwa sustainability sebenarnya telah lama hidup dalam tradisi masyarakat Indonesia.

Praktik keberlanjutan lain yang telah lama dilakukan adalah penggunaan bambu untuk berbagai peralatan rumah tangga. Keranjang, besek, tampah, hingga wadah penyimpanan hasil panen kerap dibuat dari anyaman bambu. Bahan ini kuat, mudah diperbarui, dan dapat terurai secara alami ketika tidak lagi digunakan.

Tradisi yang Penuh Filosofi

Masyarakat Indonesia zaman dulu memandang alam sebagai ruang kehidupan yang harus dijaga dan dihormati. Alam bukanlah sumber daya yang bisa dimanfaatkan secara terus-menerus. Oleh karena itu, mereka harus berhati-hati dalam memanfaatkan alam agar tetap mampu menopang kehidupan dari generasi ke generasi. Cara pandang ini pada dasarnya mencerminkan prinsip sustainability, yakni menjaga keseimbangan antara kebutuhan manusia dan kemampuan alam untuk pulih.

Di berbagai daerah, cara pandang tersebut menjadi budaya yang terus dijaga, diwariskan, dan dipraktikkan secara turun-temurun. Masyarakat Baduy di Banten punya tradisi adat yang disebut pikukuh. Dalam kehidupan masyarakat Baduy, pikukuh menjadi pegangan hidup yang mengajarkan bahwa manusia tidak boleh merusak alam. Mereka dilarang untuk menebang pohon sembarangan, mengubah bentang alam secara berlebihan, atau mengeksploitasi sumber daya tanpa batas. Nilai-nilai tersebut membuat masyarakat Baduy sangat menjaga hutan, memanfaatkan sumber daya secara terbatas, dan menghindari aktivitas yang berpotensi merusak lingkungan.

Di Maluku dan Papua, prinsip sustainability tercermin dalam tradisi yang disebut Sistem Sasi. Sistem Sasi adalah ketentuan adat yang mengatur kapan masyarakat boleh mengambil hasil alam dan kapan harus memberi waktu bagi alam untuk pulih. Para petani menerapkan pola tanam bergilir untuk menjaga kesuburan tanah. Sementara itu, nelayan tradisional mematuhi musim tangkap agar populasi ikan tetap terjaga. Praktik ini bertujuan untuk mencegah eksploitasi sumber daya secara berlebihan.

Prinsip keberlanjutan semacam ini juga dapat ditemukan di berbagai daerah lain dengan nama yang berbeda. Di Aceh, masyarakat pesisir mengenal sistem adat Panglima Laot. Di Bali dan Lombok, aturan serupa dikenal melalui Awig-Awig. Sementara di sejumlah wilayah Sumatra, masyarakat menyebutnya dengan Lubuk Larangan. Beragam kearifan lokal tersebut menunjukkan bahwa prinsip sustainability sebenarnya telah lama menjadi bagian dari budaya masyarakat Indonesia.

Saat Alam Dieksploitasi Tanpa Batas

Sangat disayangkan, cara pandang masyarakat zaman dulu yang menempatkan alam sebagai ruang hidup yang harus dijaga perlahan mulai dilupakan. Saat ini, alam kerap dipandang sebagai sumber daya yang dapat dimanfaatkan tanpa batas. Cara pandang ini membuat banyak aktivitas dilakukan tanpa mempertimbangkan aspek sustainability.

Penggunaan plastik sekali pakai untuk kemasan makanan menjadi contoh paling nyata. Laporan Making Oceans Plastic Free pada 2017 mencatat sekitar 182,7 miliar kantong plastik digunakan di Indonesia setiap tahun. Jika dihitung, total sampah yang dihasilkan dari kemasan plastik ini mencapai 1.278.900 ton per tahun. Tak heran, limbah plastik kini menjadi pemandangan yang semakin akrab di berbagai sudut kota.

Berbagai praktik lain yang merusak alam juga masih sering terjadi. Penebangan hutan tanpa kendali, pembukaan lahan secara masif, hingga aktivitas tambang liar terus meninggalkan jejak kerusakan. Sayangnya, alam tidak bisa menyembuhkan dirinya begitu saja. Dalam banyak kasus, kerusakan lingkungan tersebut turut memicu berbagai bencana seperti banjir, longsor, hingga menurunnya kualitas ekosistem.

Berbagai bencana alam yang belakangan melanda berbagai daerah di indonesia menjadi pengingat bahwa alam memiliki batas daya dukung yang tidak bisa diabaikan. Oleh karena itu, sudah selayaknya kita mulai memanfaatkan sumber daya alam secara lebih bijak dan bertanggung jawab. Terlebih, prinsip sustainability telah menjadi kearifan lokal masyarakat Nusantara sejak zaman dulu.

(KP/NY)

Sumber

https://makingoceansplasticfree.com/hidden-cost-plastic-bag-use-pollution-indonesia/