India Dorong Peningkatan Pencampuran Etanol untuk Kurangi Ketergantungan Minyak

Gula 08 Apr 2026 33 kali dibaca
Gambar Artikel

LingkariNews – Industri gula di India kini menunjukkan permintaan kepada pemerintah untuk meningkatkan rasio pencampuran etanol dalam bensi. Para ahli menilai bahwa kapasitas produksi etanol domestik saat ini jauh melebihi permintaan, sehingga peningkatan pencampuran tidak hanya melindungi perekonomian dari gejolak energi akibat ketidakstabilan geopolitik, tetapi juga membantu mengatasi surplus produksi pertanian.

Kapasitas Produksi Etanol Masih Belum Optimal

Menurut Atul Chaturvedi, CEO Shree Renuka Sugars, kapasitas distilasi etanol India saat ini mencapai sekitar 20 miliar liter per tahun. Namun, perusahaan pemasaran minyak (OMC) baru membeli sekitar 10,5 miliar liter, hanya setengah dari total kapasitas yang tersedia. Dengan kata lain, sebagian besar kapasitas produksi etanol di India masih belum dimanfaatkan secara maksimal.

Saat ini, India mempertahankan tingkat pencampuran etanol dalam bensin sekitar 20%. Pada musim pasokan 2024/25, lebih dari 10 miliar liter etanol digunakan, menghasilkan rasio pencampuran rata-rata 19,24%. Untuk musim 2025/26, perusahaan minyak dan gas milik negara telah mulai tender untuk pasokan sekitar 10,5 miliar liter etanol anhhidrat terdenaturasi. 

Brasil Sebagai Contoh: Bahan Bakar yang Fleksibel

Para ekonom menyoroti keberhasilan Brasil, di mana etanol menyumbang hampir 50% konsumsi bensin berkat popularitas kendaraan berbahan bakar fleksibel. Dengan banyak produsen mobil Brasil yang hadir di India, transisi teknologi ini dianggap sangat mungkin dilakukan dengan dukungan kebijakan pemerintah.

Manfaat Strategis Peningkatan Rasio Pencampuran 

Peningkatan rasio pencampuran etanol diyakini memiliki sejumlah manfaat strategis. Hal ini dapat menurangi ketergantungan India pada impor minyak dan membatasi dampak fluktuasi harga minyak mentah dunia, terutama dari Timur Tengah. 

Selain itu, kebijakan ini diperkirakan dapat menstabilkan pasar gula, karena industri gula mampu mengalihkan sekitar 7 hingga 8 juta ton gula per tahun untuk produksi etabol, jauh lebih tinggi dibandingkan tingkat saat ini hanya sekitar 3,1 hingga 3,2 juta ton. 

Peningkatan rasio pencampuran juga membantu menyeimbangkan penawaran dan permintaan gula, terutama mengingat proyeksi produksi gula untuk musim 2025/26 diperkirakan meningkat 12% menjadi 32,4 juta ton. 

Tantangan Ekonomi dan Bahan Baku

Meski potensinya besar, industri etanol India menghadapi sejumlah tantangan. Harga tebu terus meningkat karena kebijakan yang mendukung petani, tetapi harga jual etanol dan gula tidak naik sevara proporsional, sehingga margin keuntungan pabrik tertekan. 

Persaingan untuk mendapatkan bahan baku juga menjadi isu penting. Saat ini sekitar 9 juta kiloliter etanol diproduksi dari tebu, sementara 10 juta kiloliter lainnya berasal dari biji-bijian seperti beras dan jagung. Perbedaan harga antara etanol dari tebu dan biji-bijian menciptakan hambatan dalam pengembangan industri yang lebih terpadu. 

Di tengah ketidakpastian geopolitik global, para ahli menekankan pentingnya India untuk bertindak proaktif demi keamanan energi. Memaksimalkan pemanfaatan kapasitas etanol dari industri gula domestik menjadi strategi utama untuk mengurangi risiko dari pasokan eksternal sekaligus mendukung stabilitas ekonomi dan pertanian nasional.

 

(NY) 

Sumber

https://www.vietnam.vn/id/an-do-nganh-duong-de-xuat-tang-ty-le-pha-tron-ethanol-truoc-rui-ro-nguon-cung-dau-mo