BRIN Galang Kolaborasi Global untuk Percepat Pengembangan Pertanian Rendah Emisi

Gula 25 Jun 2026 46 kali dibaca
Gambar Artikel BRIN bersama FAO dan mitra internasional menggelar workshop di Bali pada 24 Juni.

LingkariNews, Bali – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama berbagai mitra internasional menggelar workshop regional guna mendorong transformasi sistem pangan rendah emisi. Workshop bertajuk “Knowledge on Frontier Technologies for Low-Emission Rice dan Livestock Systems: Advancing Farmer-Centred Innovation and Catalysing Climate Finance” itu berlangsung di Bali pada 24–26 Juni 2026. 

Kegiatan yang dilaksanakan di Prama Sanur Beach Hotel tersebut menjadi ajang pertukaran pengetahuan dan pengalaman guna mempercepat penerapan teknologi pertanian rendah emisi pada sektor padi dan peternakan. Upaya ini diharapkan mampu mendukung ketahanan pangan, meningkatkan produktivitas petani, sekaligus memperkuat ketahanan sektor pertanian terhadap dampak perubahan iklim.

Lokakarya tersebut diselenggarakan oleh Food and Agriculture Organization (FAO) Regional Ofice for Asia and the Pasific sebagai koordinator utama bersama BRIN, Mekong Institute selaku sekretariat ASEAN Climate Resilience Network (ASEAN-CRN), GEF-8 Food Systems Integrated Programme (FSIP), CCAC FARMER’s First Network/UNEP, serta Program Midori Infinity dari Kementerian Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Jepang (MAFF).

Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan BRIN, Puji Lestari, mengatakan forum tersebut tidak hanya membahas perkembangan teknologi, tetapi juga mempercepat implementasi berbagai solusi pertanian dan peternakan rendah emisi yang dapat diterapkan langsung oleh petani.

“Lokakarya ini bukan hanya untuk membahas teknologi, tetapi untuk mempercepat terwujudnya solusi di bidang pertanian dan peternakan yang rendah emisi sekaligus meningkatkan produktivitas bagi petani,” ujarnya.

Emisi Metana dari Pertanian Jadi Perhatian Global

Sektor produksi padi dan peternakan memiliki peran penting dalam menjaga ketahanan pangan dan mendukung mata pencaharian masyarakat pedesaan. Namun, kedua sektor tersebut juga menjadi penyumbang utama emisi metana dari sektor pertanian. 

Emisi berasal dari sawah tergenang, proses fermentasi enterik pada ternak, serta pengelolaan limbah peternakan. Secara global, ketiga sumber tersebut diperkirakan menyumbang sekitar 42 persen emisi gas rumah kaca dari sektor pertanian, dengan konsentrasi terbesar berada di kawasan Asia dan Afrika Sub-Sahara.

Sejumlah komitmen internasional, seperti Global Methane Pledge yang disepakati pada COP-26, FAO Agrifood Systems Roadmap, serta target Nationally Determined Contributions (NCD) dan Long-Term Strategies (LTS) di berbagai negara, telah mendorong upaya penurunan emisi sektor pertanian. 

Meski demikian, masih terdapat kesenjangan antara target kebijakan dan tingkat adopsi teknologi rendah emisi oleh petani di lapangan.

Tantangan Adopsi Teknologi dan Pembiayaan Iklim

Salah satu tantangan utama adalah masih terbatasnya pemahaman dan kapasitas petani maupun pembuat kebijakan terkait penerapan teknologi rendah emisi. Selain itu, sistem Measurement, Reporting and Verification (MRV) antarnegara juga belum sepenuhnya harmonis. 

Akses terhadap pembiayaan iklim dan insentif pasar juga masih menjadi hambatan. Padahal, sektor pertanian, kehutanan, dan penggunaan lahan menyumbang sekitar 22 persen emisi global. Namun, sektor tersebut hanya menerima sekitar 4 persen dari total pembiayaan iklim dunia.

Kondisi tersebut dinilai menjadi salah satu faktor yang memperlambat penerapan teknologi pertanian rendah karbon secara luas.

Teknologi Pertanian Rendah Emisi Jadi Fokus Pembahasan

Dalam lokakarya tersebut, peserta mendiskusikan berbagai teknologi mutakhir yang dinilai memiliki potensi besar untuk diterapkan pada sistem produksi padi dan peternakan rendah emisi.

Beberapa teknologi yang menjadi fokus pembahasan antara lain metode Alternate Wetting and Drying (AWD), Direct-Seeded Rice (DSR) yang didukung mesin tanam presisi dan drone, formulasi pupuk generasi baru, serta aditif pakan ternak untuk menekan emisi metana.

Selain itu, peserta juga membahas pemanfaatan kecerdasan buatan untuk sistem penyuluhan pertanian, penggunaan teknologi penginderaan jauh, hingga perangkat MRV yang dapat diterapkan oleh petani skala kecil.

Workshop turut mengedepankan pendekatan farmer-centred innovation, yakni memastikan teknologi yang dikembangkan tidak hanya unggul secara ilmiah, tetapi juga sesuai dengan kondisi sosial, ekonomi, dan lingkungan petani.

Melalui pendekatan tersebut, petani ditempatkan sebagai aktor utama dalam tranformasi sistem pangan rendah emisi.

Mendorong Investasi dan Kerja Sama Selatan-Selatan 

Selain membahas teknologi, forum tersebut juga menjadi ruang dialog antara pengembang inovasi, pemerintah, dan lembaga pembiayaan internasional untuk meyusun paket investasi yang layak mendapatkan dukungan pendanaan.

Kegiatan tersebut sekaligus memperkuat kerja sama Selatan-Selatan (South-South Cooperation) antara komunitas petani di Asia Tenggara dan Afrika melalui kolaborasi ASEAN Climate Resilience Network dan CCAC FARMERS’s First Network.

Kolaborasi tersebut diharapkan mampu mempercepat pertukaran pengalaman, pembelajaran bersama, serta replikasi berbagai inovasi pertanian rendah emisi yang telah berhasil diterapkan di sejumlah negara.

Sebagai hasil akhir, lokakarya menargetkan penyusunan empat hingga enam paket konsep investasi yang siap ditelaah lembaga pembiayaan internasional, penyusunan GEF FSIIP Project Roadmap, pembentukan kerangka kerja sama Selatan-Selatan, serta penyusunan Pernyataan Bersama (Joint Statement of Intent) yang didukung seluruh institusi penyelenggara.

Belajar dari Sistem Subak di Jatiluwih

Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan, para peserta mengunjungi kawasan Terasering Sawah Jatiluwih di Kabupaten Tabanan, Bali, yang telah ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO. 

Kunjungan lapangan tersebut memberikan kesempatan bagi peserta untuk melihat langsung praktik pertanian berkelanjutan berbasis sistem subak yang selama ini dikenal mampu memadukan produktivitas pertanian, pengelolaan sumber daya air, dan pelestarian lingkungan.

Kepala Pusat Riset Tanaman Pangan BRIN, Dr. Yudhistira Nugraha, SP., MSi, menilai sistem subak menjadi contoh nyata praktik berkelanjutan yang telah bertahan selama ratusan tahun.

“Sistem subak di Balik membuktikan tiga pilar yaitu petani, pemerintah, dan agama dapat menjadi penopang pertanian rendah emisi selama berabad-abad,”ujarnya. 

Melalui penyelenggaraan workshop ini, BRIN menegaskan komitmennya dalam mendukung pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi untuk mewujudkan sistem pangan rendah emisi, berketahanan iklim, dan berkelanjutan. Forum tersebut juga memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat kolaborasi regional dalam pengembangan teknologi pertanian rendah emisi di kawasan Asia-Pasifik.

(NY)

Berita Terpopuler

1
Indonesia Penghasil Sampah Terbesar Ke-5 Dunia: Produksi dan Jenis-Jenisnya
2
Kepolisian Ungkap Tambang Ilegal di Tahura Bukit Soeharto, Kerugian Negara Ditaksir Capai Rp1 Triliun
3
Perkembangan Industri Gula Tahun 2020 hingga 2025
4
Penyebab Banjir dan Longsor di Sumatera: Bencana Alam atau Kerusakan Alam?
5
Indonesia Penyumbang Sampah Laut Terbesar Kedua Dunia

Grafik Harga Gula

Raw Sugar: -
-
White Sugar: -
-
White Sugar: -
-