FAO memperkirakan pasar gula dunia mencatat surplus 3,9 juta ton pada musim 2025/2026
LingkariNews – Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) memperkirakan pasar gula dunia akan kembali mencatat surplus pada musim 2025/2026. Kondisi ini terjadi seiring meningkatnya produksi gula global yang diproyeksikan melampaui pertumbuhan konsumsi dunia.
Dalam laporan Food Outlook edisi Juni 2026, FAO memperkirakan produksi gula dunia mencapai 183,2 juta ton pada musim 2025/2026 (Oktober–September). Angka tersebut meningkat 3,5 persen atau sekitar 6,1 juta ton dibandingkan musim sebelumnya.
Sementara itu, konsumsi gula global diperkirakan mencapai 179,3 juta ton. Dengan demikian, pasar gula internasional diproyeksikan mencatat surplus sekitar 3,9 juta ton.
"Pasar gula internasional diperkirakan beralih menuju surplus produksi pada musim 2025/26, mencerminkan pemulihan produksi global dan hanya pertumbuhan konsumsi yang moderat," tulis FAO dalam laporannya.
Produksi Gula Asia Diperkirakan Meningkat
FAO menyebut peningkatan produksi terutama berasal dari kawasan Asia. Setelah mengalami penurunan selama tiga musim berturut-turut, produksi gula di kawasan tersebut diperkirakan kembali meningkat pada musim 2025/2026.
China diproyeksikan mencatat kenaikan produksi sebesar 12,3 persen berkat peningkatan hasil tebu. Produksi gula India juga diperkirakan meningkat meskipun curah hujan berlebih sempat memengaruhi produktivitas tebu di sejumlah wilayah utama. Sementara itu, Thailand diperkirakan membukukan pertumbuhan produksi yang kuat didukung kondisi cuaca yang menguntungkan.
"Produksi gula di Asia pada 2025/26 diperkirakan meningkat setelah tiga musim berturut-turut mengalami penurunan, didorong oleh kenaikan produksi di China, India, Pakistan, dan Thailand," tulis FAO.
Produksi Brasil Diproyeksikan Menurun
Berbeda dengan tren di Asia, produksi gula Brasil diperkirakan turun untuk tahun kedua berturut-turut. Menurut FAO, kondisi tersebut dipengaruhi meningkatnya alokasi tebu untuk produksi etanol seiring menguatnya permintaan bahan bakar nabati.
"Produksi gula Brasil diperkirakan menurun karena porsi tebu yang dialokasikan untuk produksi gula berkurang di tengah permintaan etanol yang lebih kuat," tulis FAO.
Meski demikian, penurunan produksi di Brasil diperkirakan belum cukup untuk mengubah prospek pasokan gula global yang melimpah.
Pertumbuhan Konsumsi Gula Melambat
Di sisi permintaan, FAO memperkirakan konsumsi gula dunia hanya tumbuh 0,9 persen menjadi 179,3 juta ton selama musim 2025/2026.
Menurut FAO, perlambatan pertumbuhan konsumsi dipengaruhi melemahnya aktivitas ekonomi global yang berdampak pada permintaan dari industri makanan dan minuman, dua sektor pengguna gula terbesar di dunia.
"Pertumbuhan konsumsi yang melambat terutama mencerminkan aktivitas ekonomi global yang lebih lemah, yang diperkirakan menekan permintaan dari sektor minuman dan pengolahan makanan," tulis FAO.
Harga Gula Internasional Cenderung Menurun
Prospek pasokan yang lebih melimpah turut memengaruhi pergerakan harga gula dunia. FAO mencatat harga gula internasional secara umum bergerak menurun sejak November 2025.
"Sejak November 2025, harga gula internasional secara umum bergerak menurun karena ekspektasi pasokan global yang melimpah pada musim ini," tulis FAO.
FAO juga mencatat harga gula kembali turun pada Mei 2026. Penurunan tersebut menjadi penurunan bulanan ketiga secara berturut-turut.
"Penurunan harga gula internasional pada Mei 2026 terutama didorong oleh membaiknya prospek panen 2026/27 di negara produsen utama, termasuk Brasil dan India," tulis FAO.
Selain itu, membaiknya kondisi logistik di Brasil turut mendukung penurunan harga.
"Penurunan harga gula juga didukung oleh meredanya kemacetan logistik di pelabuhan Brasil serta pelemahan nilai tukar real Brasil terhadap dolar AS yang mendorong peningkatan ekspor," tulis FAO.
Impor Gula Indonesia Diperkirakan Meningkat
Di tengah proyeksi surplus gula global, Indonesia diperkirakan akan meningkatkan impor gula pada musim 2025/2026. FAO menyebut peningkatan impor dari Indonesia dan China diperkirakan dapat mengimbangi penurunan pembelian gula oleh India.
"Di Asia, peningkatan impor dari China dan Indonesia diperkirakan akan lebih dari cukup untuk mengimbangi penurunan pembelian oleh India," tulis FAO.
Meski tidak merinci volume impor Indonesia, FAO menilai kebutuhan impor masih diperlukan untuk memenuhi permintaan domestik yang terus meningkat.
Secara global, perdagangan gula diperkirakan tumbuh 0,6 persen menjadi 64,1 juta ton. Kenaikan tersebut didukung tambahan pasokan ekspor dari Thailand yang diperkirakan mampu menutupi penurunan ekspor dari Uni Eropa.
Konflik Timur Tengah dan Prospek Pasar Gula
FAO juga menyoroti konflik yang terjadi di Timur Tengah sepanjang 2026 yang sempat mengganggu arus perdagangan gula dunia melalui Selat Hormuz.
"Konflik 2026 di Timur Tengah telah mengganggu arus perdagangan gula melalui Selat Hormuz, jalur maritim penting bagi pengiriman gula menuju dan dari pusat pemurnian gula di kawasan Teluk," tulis FAO.
Namun, gangguan tersebut mulai mereda setelah aktivitas pelayaran kembali stabil menjelang akhir Mei.
Ke depan, FAO menilai pasar gula dunia masih akan dipengaruhi sejumlah faktor, antara lain perkembangan produksi etanol di Brasil, potensi kemunculan El Niño yang dapat memengaruhi produksi gula di India dan Thailand, serta dinamika harga energi global yang berpengaruh terhadap biaya produksi dan transportasi gula.
(NY)