Kondisi terumbu karang polewali mandar yang rusak
LingkariNews — Terumbu karang hasil restorasi di perairan Polewali Mandar, Sulawesi Barat, dilaporkan mengalami kerusakan parah. Hal ini terungkap melalui unggahan video di akun Instagram @wid.ya.sa. Dalam rekaman tersebut, sejumlah penyangga besi tempat karang-karang rehabilitasi menempel dan tumbuh tampak terlepas dan berserakan di dasar laut.
Penyangga-penyangga itu seharusnya terikat dengan kawat yang mengaitkannya ke struktur jangkar di dasar perairan. Namun, kawat-kawat tersebut ditemukan dalam kondisi terpotong. Akibatnya penyangga terlepas dan merusak karang-karang yang sedang dalam proses rehabilitasi.
Diduga Dirusak Secara Sengaja
Hingga artikel ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari aparat maupun instansi terkait mengenai penyebab kerusakan ini. Namun, pengelola restorasi menduga kerusakan dilakukan secara sengaja oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
Dugaan itu muncul setelah mereka menemukan kawat pengikat penyangga terumbu karang terpotong di beberapa titik. Kondisi yang mengindikasikan bahwa kerusakan bukan disebabkan oleh faktor alam.
Jejak Rehabilitasi Karang di Polewali Mandar
Program rehabilitasi karang di perairan Polewali Mandar disebut telah berjalan selama dua tahun terakhir. Kegiatan ini dilakukan oleh Pesisir Laut Biru bersama lembaga perlindungan laut. Upaya rehabilitasi dilakukan karena kawasan tersebut sebelumnya hancur. Tercatat, tutupan karang di perairan itu hanya tersisa 20%, itupun mayoritas dalam kondisi buruk.
Kerusakan terumbu karang di perairan Polewali Mandar ini pernah diungkap dalam penelitian Rizqa Audian Pratiwi yang berjudul "Evaluasi Kebijakan Pelestarian Terumbu Karang di Polewali Mandar pada 2012". Dalam laporan tersebut, disebutkan bahwa tingkat degradasi terumbu karang di Polewali Mandar termasuk yang tertinggi di Indonesia. Banyak nelayan setempat masih menggunakan bom dan racun untuk menangkap ikan akibat minimnya pemahaman tentang pentingnya ekosistem karang. Ironisnya, praktik tersebut justru merugikan nelayan sendiri dalam jangka panjang.
Bukan yang Pertama
Selama 2023–2024, Komunitas Laut Biru bersama para mitra sebenarnya telah menurunkan 30 rak secara berkala. Setiap rak berisi 15 bibit terumbu karang, jadi total sebanyak 450 bibit telah mereka tanam di perairan Polewali Mandar. Upaya itu menunjukkan hasil positif, dimana sekitar 85 persen karang yang ditanam dilaporkan tumbuh dengan baik.
Namun, upaya rehabilitasi tersebut menghadapi hambatan. Pada 2024, sebanyak 30 rak terumbu karang yang sudah tumbuh baik dirusak dan diduga dicuri oleh nelayan. Jadi, dugaan kerusakan penyangga besi rehabilitasi yang terjadi baru-baru ini bukanlah kejadian yang pertama.
Rehabilitasi Tetap Lanjut
Meski mengalami kerusakan berat, Laut Biru memastikan program rehabilitasi tetap berlanjut. Kegiatan itu direncanakan kembali berjalan pada Juni atau Juli mendatang. Upaya rehabilitasi ini dipandang penting karena Masyarakat pesisir Polewali Mandar menjadikan sektor perikanan sebagai aktivitas ekonomi utama setelah pertanian.
Terumbu karang berfungsi sebagai rumah dan kawasan pembesaran bagi banyak biota laut. Ekosistem ini membantu menjaga stok ikan bagi nelayan. Karang juga berperan menahan gelombang dan mengurangi abrasi pesisir. Selain itu, keberadaannya penting bagi keseimbangan ekosistem laut. Kerusakan karang berpotensi menurunkan hasil tangkapan ikan nelayan.
Lebih dari itu, Indonesia merupakan rumah bagi Coral Triangle. Sekitar 18 persen kawasan segitiga terumbu karang terbesar di dunia ada di Indonesia. Posisi itu menempatkan Indonesia sebagai salah satu pusat keanekaragaman hayati laut global. Karena itu, menjaga ekosistem karang menjadi langkah penting untuk melindungi pesisir, sumber pangan, dan keberlanjutan kehidupan laut.
(KP/NY)