Ilustrasi polusi plastik di lautan
LingkariNews — Indonesia dinobatkan sebagai negara penyumbang sampah plastik ke laut terbanyak kelima di dunia. Data tersebut mengacu pada laporan World Population Review tahun 2021. Sebanyak 56,3 ton limbah plastik dari Indonesia diperkirakan berakhir di lautan. Sebagian besar sampah ini tidak hanya mencemari perairan domestik, tetapi juga terbawa arus hingga terdampar di garis pantai negara-negara lain.
Masalah Sampah Plastik di Indonesia
Indonesia masih sangat bergantung pada plastik sekali pakai. Kemasan makanan dan minuman, kantong belanja, botol plastik, sedotan, hingga bungkus belanja masih banyak digunakan karena murah dan praktis. Akibatnya, volume limbah plastik terus meningkat setiap tahun.
Dalam sensus sampah plastik yang dilakukan Badan Riset Urusan Sungai Nusantara (BRUIN) mencatat Indonesia menghasilkan sekitar 3,2 juta ton limbah plastik setiap tahun. Hampir 60 persen di antaranya berasal dari industri makanan dan minuman cepat saji (FMCG).
Masalah ketergantungan ini diperparah oleh rendahnya kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah. Masih banyak limbah plastik yang dibuang sembarangan, termasuk ke sungai dan perairan. Data BRUIN dari Sensus Sampah Plastik di 35 sungai di 30 provinsi sepanjang 2022-2024 mengungkap fakta mengejutkan. Tidak satu pun sungai yang benar-benar bebas dari limbah plastik. Temuan ini menegaskan bahwa pencemaran plastik sudah merata di hampir seluruh wilayah perairan Indonesia.
Ancaman Nyata bagi Ekosistem, Satwa, dan Manusia
Pencemaran laut oleh limbah plastik menimbulkan dampak serius bagi ekosistem, satwa, dan manusia. Sifat plastik yang sulit terurai dapat merusak terumbu karang, padang lamun, dan kawasan pesisir yang menjadi habitat serta tempat berkembang biak berbagai biota laut. Selain itu, berbagai satwa laut seperti penyu, ikan, dan burung laut juga sering salah mengira plastik sebagai makanan. Akibatnya, banyak yang menelan atau terjerat plastik hingga mengalami luka, kelaparan, bahkan kematian.
Sampah plastik yang terurai menjadi mikroplastik juga berpotensi masuk ke rantai makanan. Partikel tersebut dapat terkonsumsi oleh manusia melalui hasil laut. paparan ini berisiko memicu gangguan kesehatan serius, mulai dari peradangan kronis hingga masalah kardiovaskular.
Selain mengancam kesehatan, sampah plastik turut menurunkan hasil perikanan serta mengganggu sektor pariwisata. Berbagai dampak ini menunjukkan bahwa pencemaran plastik bukan hanya menjadi masalah lingkungan, tetapi juga mengancam kesehatan manusia dan keberlangsungan ekonomi masyarakat pesisir.
Empat Negara dengan Kontribusi Lebih Besar dari Indonesia
Selain Indonesia, ada empat negara lain yang menyumbang lebih banyak sampah plastik ke lautan. Filipina menempati peringkat pertama dengan 356.371 ton, disusul India sebesar 126.513 ton. Malaysia berada di posisi ketiga dengan 73.098 ton, sedangkan China menempati peringkat keempat dengan 70.707 ton.
Menurut data United Nations Environment Programme (UNEP), sekitar 11 juta metrik ton limbah plastik mencemari lautan setiap tahun. Tanpa upaya pengendalian yang lebih serius, jumlah tersebut diperkirakan meningkat hingga tiga kali lipat dalam dua dekade mendatang. Artinya, pada tahun 2040 diperkirakan ada sekitar 23-37 juta metrik ton plastik yang mencemari laut. Jumlah itu setara dengan 50 kilogram plastik yang menumpuk di setiap meter garis pantai di seluruh dunia.
Karena itu, kita harus mulai mengurangi pencemaran plastik dari kebiasaan sehari-hari. Langkah sederhana seperti mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, memilah sampah dari rumah, dan membawa wadah sendiri saat berbelanja dapat membantu menekan jumlah sampah plastik di lingkungan. Upaya kecil yang dilakukan bersama akan memberi dampak besar bagi kelestarian bumi.
(KP/NY)
Sumber
https://databoks.katadata.co.id/lingkungan/statistik/47263d1e6fb747b/10-negara-penyumbang-sampah-plastik-terbanyak-ke-laut-ri-peringkat-berapa
https://timesindonesia.co.id/peristiwa-daerah/544275/peneliti-bruin-luncurkan-buku-sensus-sampah-plastik-perjalanan-tiga-tahun-telusuri-perairan
https://www.unep.org/interactives/pollution-to-solution/?lang=ID