Tangerang Darurat Sampah, Ini Penyebab dan Solusi Pengelolaan Sampah yang Disiapkan Pemerintah

Kawasan Urban 24 Des 2025 271 kali dibaca
Gambar Artikel Tumpukan sampah yang ditutup terpal di bawah flyover Ciputat | Dok. Humas Tangsel

LingkariNews Sebagai kota urban yang dekat dengan Ibu Kota Jakarta, Tangerang Selatan (Tangsel) seharusnya menjadi kota yang rapi, bersih, dan modern. Namun kenyataan di lapangan justru berbanding terbalik. Tumpukan sampah terlihat berserakan di trotoar, bahu jalan, dan fly over Pasar Ciputat. Sampah-sampah tersebut hanya dibungkus plastik. Sebagian ditutup terpal seadanya. Beberapa waktu lalu, sebuah video yang viral di media sosial bahkan menunjukan penyemprotan parfum ke tumpukan sampah di pinggir jalan kota Tangsel. Berdasarkan narasi yang beredar, penyemprotan itu dilakukan untuk menutupi bau busuk yang timbul, alih-alih dibenahi melalui pengelolaan sampah yang layak dan berkelanjutan.

Kondisi ini menjadi ironi karena Tangsel juga punya julukan sebagai Kota Seribu Anggrek. Julukan itu seharusnya disematkan untuk kota yang asri dan indah. Namun kenyataannya, wajah kota Tangsel justru dipenuhi sampah. Tumpukan sampah membuat wajah Tangsel tampak kumuh dan bau. 

Situasi ini kondisi ini mengganggu kenyamanan dan mengganggu aktivitas warga. Sejumlah pedagang kaki lima bahkan mengaku dagangannya jadi sepi karena pembeli enggan datang akibat bau tak sedap. Warga berharap pemerintah segera memberikan solusi pengelolaan sampah yang nyata.

Akar Masalah Tumpukan Sampah di Tangerang Selatan

Fenomena darurat sampah di Tangsel dipicu oleh penutupan sementara TPA Cipeucang. Pada tanggal 10 Desember 2025, Pemerintah Kota Tangsel menutup TPA Cipeucang karena sudah kelebihan kapasitas. Kepala Dinas Lingkungan Hidup Tangsel menjelaskan bahwa sistem pengelolaan di lokasi tersebut sedang dialihkan dari open dumping ke control landfill. Namun akibat penutupan itu, sampah rumah tangga hingga sampah pasar dari daerah Tangsel tidak bisa dibuang. Alhasil, sampah yang seharusnya terangkut justru menumpuk di berbagai titik.

Wali Kota Tangerang Selatan, Drs. H. Benyamin Davnie, mengatakan penataan TPA ditargetkan rampung dalam waktu dekat. Untuk sementara, Pemkot Tangsel mengupayakan kerja sama pembuangan ke daerah lain. Namun realisasinya terkendala jarak dan kuota penerimaan. Akibatnya, banyak sampah tidak terangkut tepat waktu. Tumpukan di jalan dan permukiman pun tak terhindarkan.

KLH Buka Kembali TPA Cipeucang

Menanggapi darurat sampah di Tangsel, Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) membuka kembali operasional TPA Cipeucang. Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, menyebut keputusan itu diambil karena tumpukan sampah di berbagai sudut kota dinilai sudah mengganggu lingkungan dan aktivitas warga. Hanif menegaskan langkah ini bersifat darurat.

Namun,  Meski kembali dibuka, Hanif mengingatkan bahwa ini bukanlah solusi final. Pasalnya, TPA Cipeucang hanya mampu menampung sekitar 400 ton sampah per hari. Padahal, produksi sampah Kota Tangsel mencapai 1.100 ton per hari. Artinya, masih ada lebih dari 600 ton sampah yang belum bisa ditampung setiap harinya. Karena kondisi ini, Menteri Hanif berpesan agar pembukaan ini harus dibarengi perbaikan sistem pengelolaan sampah agar krisis serupa tidak terulang. “Kami minta agar penanganan sampah di kota ini kembali dilakukan di Cipeucang sambil dilakukan penataan,” katanya.

Saat ini, Pemkot Tangsel sedang berupaya mempercepat penataan TPA Cipeucang. Pemerintah menambah fasilitas landfill untuk menampung timbunan sementara. Langkah ini diharapkan memberi ruang selama masa transisi. Pemprov Banten juga tengah mendorong solusi jangka panjang lewat program pengolahan sampah menjadi energi listrik. Upaya tersebut diharapkan memperkuat pengelolaan sampah secara berkelanjutan.

(KP/NY)