Surplus Gula Global Tekan Harga Gula ke Level Terendah Sejak 2020

Gula 22 Des 2025 161 kali dibaca
Gambar Artikel

LingkariNews—Produksi gula dunia diproyeksikan mencatat surplus besar pada musim 2025/26. Pasar yang semula diperkirakan defisit hingga dua juta ton pada 2024/25 kini berbalik arah. Proyeksi terbaru menunjukkan bahwa pasokan gula dunia akan mengalami surplus tujuh juta ton. Ini menjadi surplus terbesar sejak musim 2017/18. Kondisi tersebut membuat harga gula terus turun hingga level terendah sejak tahun 2020. 

Sepanjang tahun 2025 saja, harga gula mentah kontrak No. 11 telah turun lebih dari 20%.

Pemulihan Produksi Gula India Dorong Surplus Gula Dunia

Pemulihan produksi gula di India yang merupakan produsen tebu terbesar kedua dunia menjadi salah satu penyebab surplus gula untuk musim 2025/26. Sebelumnya pada musim 2024/25, produksi gula India sempat anjlok hingga 17,1 persen dari tahun sebelumnya. Penurunan tersebut dipicu kekeringan parah di Maharashtra dan Karnataka, daerah penghasil tebu utama di India. Sejumlah pabrik gula juga mengalihkan lebih banyak tebu untuk etanol. Namun, tahun ini produksi gula di India diperkirakan pulih.

Pada tahun 2025, India mengalami musim hujan yang baik. Curah hujan mendorong pertumbuhan tebu dan meningkatkan hasil panen. Perluasan area tanam di Maharashtra dan Karnataka turut memperkuat produksi tebu disana. Di saat yang sama, pemerintah membatasi alokasi tebu untuk etanol di kisaran 3,5 hingga 4 juta ton. Kebijakan ini membuka ruang lebih besar bagi produksi gula. Para pengamat memperkirakan produksi gula India mencapai 32,8 juta ton pada musim 2025/26, 25 persen lebih tinggi dibanding musim lalu.

Kenaikan produksi juga berpotensi memperbesar volume ekspor gula India. Konsumsi gula domestik India diperkirakan ada di kisaran 28,5 juta ton. Artinya, ada surplus lebih dari empat juta ton yang berpotensi di ekspor. Jika terealisasi, harga gula dunia akan semakin tertekan. 

Meski begitu, ada laporan bahwa pemerintah masih berupaya mendorong daya tarik etanol. Jika laporan itu benar, pabrik gula diperkirakan akan lebih memilih untuk mengalihkan tebu untuk produksi etanol. Hal ini bisa membatasi pasokan gula dan meredam tekanan harga gula dunia.

Produksi Gula Thailand Diperkirakan Meningkat

Selain India, Thailand juga diperkirakan mencatat peningkatan produksi gula pada musim 2025/26. Negara yang juga merupakan produsen gula utama diproyeksikan akan menghasilkan sekitar 11 juta ton tebu. Angka tersebut naik sekitar 12 persen dibanding tahun sebelumnya. Kenaikan didorong perluasan luas lahan tebu. Curah hujan yang baik sepanjang tahun turut mendukung hasil panen. Tambahan pasokan ini berpotensi menambah tekanan harga gula di pasar global.

Sentimen Positif dari Brasil

Sentimen positif di tengah tekanan surplus gula global datang dari Brasil. Hingga pertengahan November 2025, negara penghasil gula terbesar di dunia ini memang telah memproduksi 39,2 juta ton gula. Angka tersebut naik 2,1 persen dibanding tahun lalu. Sejumlah laporan bahkan memperkirakan produksi musim 2025/26 bisa sedikit di atas 40 juta ton. Namun, kebijakan pemerintah yang membebaskan pabrik gula memilih mengalihkan tebu untuk produksi gula atau etanol berpotensi menahan laju pasokan.

Harga gula yang kini berada di bawah nilai ekonomi etanol domestik diperkirakan mendorong pabrik mengalihkan tebu untuk produksi etanol. Dorongan itu kian kuat seiring langkah Pemerintah Brasil yang tengah menggenjot program E30, yaitu campuran 30 persen etanol dalam bensin. 

Data terbaru menunjukkan pabrik mulai mengalihkan tebu dari gula ke etanol. Tekanan makin kuat seiring adanya ancaman cuaca yang bisa menurunkan hasil panen tebu. Jika produksi turun dan harga gula tetap di bawah paritas etanol, produksi gula Brasil berpotensi dikurangi. Kondisi ini dapat membantu menahan tekanan pada harga gula global.

(KP/NY)