Sejak Kapan Sih Manusia Mulai Mengonsumsi Gula?

Gula 13 Agus 2026 56 kali dibaca
Gambar Artikel

LingkariNews – Hari ini, gula begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari. Kita dengan mudah menemukannya di dapur, dalam minuman, makanan, hingga berbagai produk olahan. Namun jauh sebelum itu, gula pernah menjadi pilihan alternatif pengobatan, simbol kemewahan, barang langka dan mahal yang hanya dapat dinikmati kalangan tertentu. 

Sebelum gula dikenal secara luas, madu menjadi salah satu sumber rasa manis yang paling mudah ditemukan. Masyarakat di berbagai wilayah memanfaatkan madu sebagai pemanis, sementara daerah yang tidak memiliki lebah menggunakan sumber manis lain, sepeti buah, nektar agave, atau sirup dari pohon.

Lalu, sejak kapan manusia mulai mengonsumsi gula? Bagaimana gula berubah dari komoditas mewah menjadi pemanis yang mudah ditemukan? 

Dari Tebu hingga Menjadi Gula 

Sejarah gula bermula dari tanaman tebu yang pertama kali dibudidayakan di Papua Nugini. Pada masa awal, masyarakat belum mengolah tebu menjadi gula seperti sekarang. Batang tebu dikunyah secara langsung untuk mendapatkan rasa manisnya.

Tebu kemudian menyebar ke wilayah lain melalui jalur perdagangan dan migrasi, hingga akhirnya mencapai India. Di wilayah inilah manusia mulai mengembangkan cara untuk mengolah sari tebu menjadi gula kristal.

Sekitar abad pertama Masehi, gula mulai tercatat dalam berbagai teks India dan digunakan dalam sejumlah olahan makanan serta minuman. Dari sini, penggunaan gula perlahan berkembang, meski belum menjadi bahan pangan yang dikonsumsi masyarakat secara luas.

Gula Pernah Dianggap sebagai Obat 

Ketika gula menyebar ke kawasan Timur Tengah, penggunaannya mulai berkembang. Pada sekitar abad ke-7, para ilmuwan dan tabib di dunia Arab mempelajari sekaligus mengembangkan teknik pengolahan tebu menjadi gula yang lebih murni.

Pada masa itu, gula bukan sekadar pemais. Bahan ini juga digunakan dalam pengobatan dan dianggap memiliki nilai penting dalam dunia medis. 

Gula bahkan menjadi barang mewah yang hanya dapat dinikmati oleh kalangan tertentu. Harganya yang mahal membuat gula lebih banyak ditemukan di lingkungan kerajaan, bangsawan, dan masyarakat dengan tingkat ekonomi tinggi.

Penyebaran gula kemudian semakin luas setelah bangsa Eropa mengenalnya melalui hubungan perdagangan dan Perang Salib. Permintaan terhadap gula pun mulai meningkat di Eropa.

Ketika Gula Menjadi Komoditas Global

Memasuki abad ke-15 dan ke-16, perjalanan gula memasuki babak baru. Bangsa Eropa mulai membangun perkebuan tebu di wilayah jajahan, termasuk Kepulauan Canary, Karabia, dan Brasil. 

Produksi dalam skala besar membuat gula semakin mudah diperoleh. Namun, perkembangan industri gula pada masa tersebut juga tidak terlepas dari sejarah panjang perbudakan dan eksploitasi tenaga kerja di perkebunan tebu.

Brasil kemudian berkembang menjadi salah satu pusat produksi gula terbesar. Dari kawasan tersebut, gula diekspor ke berbagai wilayah dan semakin memperkuat posisinya sebagai komoditas perdagangan dunia. 

Pada saat yang sama, perubahan pola konsumsi di Eropa turut mendorong permintaan gula. Masuknya kopi, teh, dan cokelat membuat masyarakat semakin sering menggunakan gula sebagai pemanis. Dari sinilah gula perlahan bergesar dari barang mewah menjadi bahan yang semakin umum dikonsumsi.

Dari Barang Mewah Menjadi Konsumsi Sehari-hari

Memasuki era industri, teknologi produksi gula berkembang semakin pesat. Pabrik-pabrik berkapasitas besar mampu menghasilkan gula dalam jumlah yang jauh lebih banyak.

Produksi yang meningkat membuat harga gula semakin terjangkau. Jika sebelumnya gula hanya tersedia bagi kalangan tertentu, masyarakat umum mulai dapat menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari. 

Perkembangan industri pangan kemudian semakin memperluas penggunaan gula. Gula tidak lagi hanya digunakan untuk mempermanis minuman, tetapi juga menjadi bahan dalam pembuatan roti, kue, makanan olahan, saus, dan berbagai produk pangan lainnya. 

Pada abad ke-20, konsumsi gula semakin meningkat seiring berkembangnya industri makanan dan minuman. Gula pun berubah dari bahan pangan mewah menjadi komoditas yang mudah ditemukan di hampir setiap dapur.

Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa kebiasaan mengonsumsi gula yang terasa biasa saat ini sebenarnya merupakan hasil proses panjang selama ribuan tahun. Dari batang tebu yang dikunyah, gula sebagai obat dan simbol kemewahan, hingga menjadi bagian dari makanan sehari-hari. 

(NY)  

Sumber

https://www.saveur.com/sugar-history-of-the-world/

Berita Terpopuler

1
Indonesia Penghasil Sampah Terbesar Ke-5 Dunia: Produksi dan Jenis-Jenisnya
2
Kepolisian Ungkap Tambang Ilegal di Tahura Bukit Soeharto, Kerugian Negara Ditaksir Capai Rp1 Triliun
3
Perkembangan Industri Gula Tahun 2020 hingga 2025
4
Penyebab Banjir dan Longsor di Sumatera: Bencana Alam atau Kerusakan Alam?
5
Warga Sukatani Tolak Proyek Geotermal Gunung Gede Pangrango

Grafik Harga Gula

Raw Sugar: -
-
White Sugar: -
-
White Sugar: -
-