Menuju Swasembada Gula 2030, Ini Perbandingan Industri Gula Indonesia dengan Negara Lain

Gula 11 Agus 2026 84 kali dibaca
Gambar Artikel Swasembada gula

LingkariNews — Pemerintah telah menetapkan target swasembada gula pada tahun 2030. Untuk mencapai target tersebut, pemerintah telah mendorong revitalisasi pabrik gula, memperluas areal tanam tebu, serta mendukung penguatan riset varietas unggul. Namun, di mana posisi industri gula Indonesia jika dibandingkan dengan negara-negara produsen utama lainnya? 

Produksi Tebu Indonesia Masih Tertinggal

Berdasarkan data 2024/25, total luas areal tebu di Indonesia berada di kisaran 0,52–0,55 juta hektare. Dengan luas areal tersebut, Indonesia berhasil memproduksi sekitar 34–36 juta ton tebu. Namun, angka ini masih jauh di bawah negara produsen tebu lainnya.

Dalam rentang waktu yang sama, Brasil berhasil memproduksi 690–720 juta ton tebu dari 8,8–9,0 juta hektare areal tanam. India yang punya 5,6-5,8 juta hektare areal tebu juga mampu memproduksi 430-450 juta ton tebu. Sementara Thailand, yang merupakan produsen tebu dan gula utama di Asia Tenggara, berhasil memproduksi 92–100 juta ton dari total areal tanam 1,8–1,9 juta hektare.

Data tersebut menunjukkan bahwa produksi tebu Indonesia masih tertinggal jauh dari negara produsen utama. Kondisi ini tidak terlepas dari luas areal tanam Indonesia yang jauh lebih kecil. Karena itu, Indonesia perlu memperluas areal tanam tebu untuk bisa mencapai target swasembada gula 2030.

Mekanisasi Pertanian Tebu Masih Rendah

Mekanisasi budidaya tebu di Indonesia baru mencapai 30–40 persen. Angka ini tergolong rendah dibandingkan Thailand dan India yang sudah berada di kisaran 55–70 persen. Brasil bahkan telah menerapkan mekanisasi budidaya di atas 90 persen. 

Kesenjangan juga terlihat pada mekanisasi panen. Di Indonesia, mekanisasi panen tebu masih di bawah 20 persen. Angka ini jauh tertinggal dari Thailand yang mencapai 70–80 persen, dan Brasil yang mencapai 95 persen.

Sistem distribusi tebu Indonesia juga masih mengandalkan truk dengan jarak angkut relatif pendek. Meski begitu, distribusi tebu di Indonesia justru kerap mengalami keterlambatan. Hal ini jauh tertinggal dari Brasil yang telah menerapkan sistem logistik digital dengan GPS dan fleet management. Thailand juga memiliki distribusi yang terintegrasi dengan pabrik. 

Perbedaan ini menunjukkan bahwa penguatan pertanian tebu tidak cukup melalui perluasan lahan. Mekanisasi dan distribusi yang lebih efisien diperlukan untuk mewujudkan swasembada gula.

Industri Gula di Indonesia

Indonesia memiliki 63 pabrik gula dengan kapasitas giling nasional sekitar 40 juta ton tebu per tahun. Angka ini jauh di bawah Thailand yang mencapai 110 juta ton, India 400 juta ton, dan Brasil di atas 700 juta ton. 

Jika dibandingkan, tingkat rendemen tebu Indonesia juga masih tertinggal. Rendemen tebu di indonesia hanya di kisaran 7,2–7,8 persen. Padahal, tingkat rendemen di Thailand mencapai 11,5 persen, India 12,0 persen, dan Brasil 14 persen.

Data juga menunjukan tingkat produksi gula kristal nasional hanya mencapai 2,3–2,5 juta ton per tahun. Lagi-lagi, angka ini masih tertinggal dari Thailand, India, dan Brasil. Tingkat produksi gula di Thailand sebesar 11 juta ton/tahun. Sementara India bisa mencapai 30 juta ton per tahun, dan brasil 46 juta ton per tahun

Kesenjangan ini menunjukkan bahwa modernisasi pabrik menjadi kebutuhan mendesak. Tanpa perbaikan rendemen dan kapasitas giling, target swasembada gula akan sulit tercapai.

Modal dan Tantangan Menuju Swasembada Gula

Jika dibandingkan dengan Thailand, India, dan Brasil, Indonesia berada di posisi terakhir pada hampir seluruh indikator. Indonesia hanya unggul dalam aspek produktivitas tebu dibandingkan Thailand. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia masih memiliki banyak PR jika ingin mewujudkan swasembada gula nasional.

Meski demikian, Indonesia memiliki sejumlah modal untuk memperkuat industri gula nasional. Produktivitas kebun tebu Indonesia tercatat mulai meningkat jika dibandingkan lima tahun sebelumnya. Tren ini menjadi sinyal positif karena menunjukkan adanya peluang peningkatan produksi tanpa hanya mengandalkan perluasan lahan. Pasar domestik gula yang besar juga menjadi kekuatan karena menyediakan permintaan yang kuat bagi industri nasional. 

Peluang perbaikan daya saing Indonesia yang terbesar terletak pada modernisasi pabrik gula. Peningkatan produktivitas melalui varietas unggul, digitalisasi budidaya, irigasi presisi, mekanisasi, dan distribusi yang lebih efisien juga perlu dipercepat guna mencapai target swasembada gula 2030.

(KP/NY)

Berita Terpopuler

1
Indonesia Penghasil Sampah Terbesar Ke-5 Dunia: Produksi dan Jenis-Jenisnya
2
Kepolisian Ungkap Tambang Ilegal di Tahura Bukit Soeharto, Kerugian Negara Ditaksir Capai Rp1 Triliun
3
Perkembangan Industri Gula Tahun 2020 hingga 2025
4
Penyebab Banjir dan Longsor di Sumatera: Bencana Alam atau Kerusakan Alam?
5
Warga Sukatani Tolak Proyek Geotermal Gunung Gede Pangrango

Grafik Harga Gula

Raw Sugar: -
-
White Sugar: -
-
White Sugar: -
-