Prospek Gula Nasional Positif, Antisipasi Jangka Pendek Jadi Kunci

Gula 16 Jan 2026 300 kali dibaca
Gambar Artikel

LingkariNews – Gabungan Produsen Gula Indonesia (Gapgindo) menilai prospek industri gula nasional menunjukkan tren positif pada tahun ini. Produksi gula nasional diproyeksikan meningkat dibandingkan tahun sebelumnya, seiring adanya dukungan kebijakan pemerintah di sektor hulu. Meski demikian, Gapgindo menekankan pentingnya langkah antisipasi jangka pendek guna menjaga stabilitas harga dan keseimbangan pasokan, khususnya pada semester pertama 2026.

Dalam proyeksinya, Gapgindo memperkirakan produksi gula konsumsi nasional pada 2026 mencapai 2,8 juta ton. Angka tersebut naik dibandingkan realisasi produksi tahun 2025 yang sebesar 2,69 juta ton. Kenaikan produksi ini didorong oleh sejumlah faktor, antara lain perluasan lahan tebu, peningkatan produktivitas tanaman, serta berbagai program dukungan pemerintah bagi petani tebu dan pabrik gula.

Ketua Gapgindo, Syukur Iwantoro menyampaikan bahwa sinergi antara pemerintah, petani tebu, dan pelaku industri telah menciptakan tren positif dalam industri gula nasional. “Beberapa tahun terakhir, produksi cenderung meningkat. Namun pada periode tertentu, produksi terdampak faktor cuaca ekstrem. Perlu langkah-langkah dini untuk mengantisipasi cuaca, agar stok tetap seimbang,” kata Syukur di Jakarta, Jumat (16/1).

Ia menambahkan, keberlanjutan produksi gula sangat dipengaruhi oleh konsistensi program pemerintah. Berbagai kebijakan seperti bantuan bongkar ratoon, penyediaan benih tebu unggul, subsidi pupuk, hingga subsidi bunga kredit untuk alat dan mesin pertanian (alsintan) dinilai efektif membantu petani meningkatkan produktivitas sekaligus efisiensi usaha.

Meski prospek jangka menengah hingga panjang dinilai positif, Gapgindo tetap mencermati potensi dinamika jangka pendek terkait stok dan konsumsi pada awal 2026. Berdasarkan perhitungan asosiasi, dengan stok awal tahun sekitar 1,33 juta ton dan tingkat konsumsi bulanan mencapai 255.000 ton, terdapat potensi tekanan pasokan pada periode April – Mei 2026 yang dapat memicu kenaikan harga gula di pasar.

“Kami melihat perlunya ada langkah antisipasi jangka pendek agar harga tetap stabil. Stok yang dikelola cermat dengan data yang tersinkronisasi antar pemangku kepentingan menjadi kunci agar kebijakan yang diambil tepat waktu dan efektif,” tambah Syukur. 

Sebagai catatan, produksi gula nasional pada 2025 juga mengalami peningkatan dibandingkan 2024, dari 2,47 juta ton menjadi 2,69 juta ton. Sejalan dengan peningkatan tersebut, impor gula konsumsi menunjukkan tren penurunan. Pada 2025, impor gula pasir tercatat sebesar 463.000 ton, menjadi yang terendah dalam empat tahun terakhir. Sebelumnya, Badan Pangan Nasional (BPN) juga memperkirakan posisi stok gula nasional pada awal 2026 relatif aman dan mampu menopang stabilitas harga. 

Gapgindo menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat kolaborasi dengan pemerintah serta seluruh pemangku kepentingan. Upaya ini dilakukan guna menjaga ketersediaan gula nasional, menstabilkan harga di pasar, serta mendukung penguatan ketahanan pangan nasional secara berkelanjutan.

(NY)