Pantai Kartika, "Raja Ampat Mini" yang Kini Rusak Karena Aktivitas Tambang

Pesisir 30 Mei 2026 9 kali dibaca
Gambar Artikel Kondisi Pantai Kartika saat ini | Sumber: linksultra.com

LingkariNews — Pantai Kartika di Kecamatan Moramo Utara, Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, selama ini dikenal sebagai permata pesisir timur yang memikat. Kawasan ini menyuguhkan perpaduan laut yang jernih, gugusan tebing karst yang indah, dan pulau-pulau kecil yang membentuk panorama menakjubkan. Karena keindahannya, kawasan ini bahkan sampai dijuluki sebagai “Raja Ampat Mini.”

Baru-baru ini, nama Pantai Kartika kembali ramai diperbincangkan di media sosial. Sayangnya kali ini bukan karena keindahannya, tapi karena pemandangan karst eksotisnya yang telah berubah drastis. Sebuah video drone menunjukan bukit-bukit karst Tanjung Kartika yang dulunya sangat indah kini telah hilang. Hampir seluruh daratan di belakang garis pantai telah menjadi tanah kosong. Bahkan, Pulau Senja yang turut menjadi daya tarik wisata kawasan ini telah rata dengan tanah.

Tambang Gamping Hancurkan Keindahan Pantai kartika

Rusaknya keindahan alam di kawasan Tanjung Kartika disebabkan oleh aktivitas tambang gamping skala besar di wilayah tersebut. Batu gamping yang diambil dari kawasan ini menjadi pasoka n penting bagi industri pengolahan nikel yang terus berkembang di Sulawesi Tenggara. Namun, tingginya permintaan industri dibayar mahal oleh bentang alam pesisir.

Pengerukan tanpa henti merusak tebing karst yang selama ini menjadi benteng alami pantai. Saat hujan turun, material tambang terbawa ke laut dan memicu sedimentasi yang merusak terumbu karang. Air laut yang dulu jernih pun berubah keruh. Di saat yang sama, tekanan ekologis terhadap kawasan Pantai Kartika kian membesar.

Aktivitas Wisata yang Perlahan Padam

Perubahan drastis tersebut membuat kawasan Pantai Kartika yang dulu ramai pengunjung kini sepi. Aktivitas snorkeling dan menyelam yang dulu menjadi daya tarik kini praktis mati. Warga yang sebelumnya mengandalkan pariwisata sebagai sumber penghidupanpun kini kehilangan penghasilan mereka. 

Ironisnya, tambang yang menghancurkan keindahan Tanjung Kartika itu hampir tidak memberikan manfaat ekonomi berarti bagi masyarakat sekitar. Hanya sebagian kecil warga yang terserap, itu pun sebatas pekerja kasar dengan pendapatan terbatas. Manfaat ekonomi itu jauh dari sepadan dengan dampak sosial, ekonomi, dan ekologis yang mereka alami.

Izin Tambang dan Tumpang Tindih Tata Ruang

Berdasarkan penelusuran, aktivitas tambang di kawasan sekitar Pantai Kartika dijalankan oleh sejumlah perusahaan yang telah mengantongi izin resmi. Beberapa perusahaan bahkan disebut telah memperoleh izin operasi hingga 2030. Kepala Bidang Minerba Dinas ESDM Sultra, Muh Hasbullah Idris, menjelaskan bahwa izin tambang diberikan karena wilayah tersebut masuk kawasan pertambangan dalam Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) lama Konawe Selatan. Tapi di sisi lain, kawasan yang sama juga dipromosikan sebagai destinasi wisata unggulan.

Berdasarkan RTRW Konawe Selatan tahun 2020–2040, kawasan pertambangan dan energi di Konawe Selatan mencakup sekitar 17.582 hektare. Luas itu setara sekitar empat persen daratan Konawe Selatan. Namun, jika melihat peta tata ruang pertambangan, sebagian besar wilayah kabupaten masih berpotensi memperoleh izin tambang. Kondisi itu menunjukkan adanya persoalan tata ruang dan potensi tumpang tindih pemanfaatan wilayah.

Antara Kemajuan dan Keberlanjutan

Hilirisasi nikel dan industri pertambangan memang menjadi penggerak penting ekonomi nasional. Namun, pertumbuhan ekonomi tidak dapat dilepaskan dari dampaknya terhadap lingkungan dan ruang hidup masyarakat. Pengelolaan kawasan perlu mempertimbangkan daya dukung ekosistem, keberlanjutan ekonomi lokal, serta kepastian arah tata ruang. Tanpa keseimbangan itu, manfaat pembangunan berisiko dibayar mahal oleh kerusakan ekologis dan hilangnya sumber penghidupan warga.

(KP/NY)

Berita Terpopuler

1
Indonesia Penghasil Sampah Terbesar Ke-5 Dunia: Produksi dan Jenis-Jenisnya
2
Kepolisian Ungkap Tambang Ilegal di Tahura Bukit Soeharto, Kerugian Negara Ditaksir Capai Rp1 Triliun
3
Perkembangan Industri Gula Tahun 2020 hingga 2025
4
Penyebab Banjir dan Longsor di Sumatera: Bencana Alam atau Kerusakan Alam?
5
Indonesia Penyumbang Sampah Laut Terbesar Kedua Dunia

Grafik Harga Gula

Raw Sugar (sen/lb)
White Sugar (USD/ton)
White Sugar (sen/lb)