Inovasi Pengering Ampas Tebu Berbasis CO2, Buka Peluang Peningkatan Efisiensi Pabrik Gula

Gula 27 Okt 2026 17 kali dibaca
Gambar Artikel

LingkariNews – Selama bertahun-tahun, industri gula dan etanol mengandalkan ampas tebu (bagasse) sebagai bahan bakar utama untuk memenuhi kebutuhan listrik mereka secara mandiri. Sayangnya, upaya ini seringkali terkendala oleh tingginya kadar air alami pada ampas tebu, yang kemudian menurunkan efisiensi panas boiler dan memangkas jumlah energi yang dihasilkan.  

Guna mengatasi kendala operasional tersebut, tim peneliti dari Fakultas Teknik Kimia State University of Campinas (Unicamp), Brasil, mengembangkan metode baru pengeringan ampas tebu berbasis gas karbon dioksida (CO2). Inovasi ini secara resmi telah dilisensikan kepada Quimergia Inovação, sebuah perusahaan spin-off akademis Unicamp, guna membawa teknologi tersebut ke skala komersial. 

Solusi Masalah Keamanan dan Efisiensi Pengeringan 

Metode pengeringan ampas tebu konvensional selama ini mengandalkan kontak langsung dengan gas pembakaran. Peneliti FEQ sekaligus pendiri pendamping Quimergia Inovação, Jean-Christophe Bonhivers, menjelaskan bahwa metode lama tersebut berisiko tinggi karena gas pembakaran kaya akan oksigen yang mudah memicu kebakaran material, serta membawa jelaga dan senyawa asam. 

Inovasi pengering baru ini menawarkan solusi dengan memanfaatkan kembali gas CO2 biogenik yang dihasilkan dari proses produksi pabrik itu sendiri. Karbon dioksida memiliki polaritas molekul tinggi yang efektif menurunkan tegangan permukaan air pada ampas tebu basah, sehingga proses tersebut dapat mempercepat penguapan. Selain itu, sifat CO2 yang inert (tidak mengoksidasi) mampu menekan kadar oksigen di sekitar ampas tebu sekaligus menghilangkan risiko pemicu pembakaran mandiri (auto-ignition). 

Potensi Peningkatan Listrik hingga 50 Persen

Penerapan teknologi ini terbukti membawa dampak signifikan terhadap performa operasional. Pengeringan berbasis CO2 mampu mendongkrak kandungan bahan kering (dry matter) ampas tebu secara drastis dari 50% menjadi 80%. Lonjakan kualitas bahan bakar biomassa ini memungkinkan pabrik meningkatkan produksi uap bertekanan tinggi pada boiler hingga 30%, serta meningkatkan penjualan surplus listrik hingga 50%. 

Menurut peneliti, Adriano Pinto Mariano, surplus energi tersebut tidak hanya memberikan alur pendapatan baru dari penjualan listrik, tetapi juga membuka peluang pengembangan energi hijau modern seperti produksi hidrogen hijau melalui elektrolisis air. 

Adaptasi Industri dan Prospek Pasar Global

Meskipun membutuhkan beberapa penyesuaian teknis pada sistem pemberian umpan boiler dan penyimpanan ampas tebu, potensi penerapan teknologi ini sangat luas. Selain menyasar sekitar 400 pabrik gula dan etanol di Brasil, teknologi ini juga diproyeksikan untuk diekspor ke negara produsen utama seperti Amerika Serikat, Australia, China, India, Thailand, serta dapat diadaptasi untuk penyulingan etanol berbasis jagung.

Teknologi pengering ampas tebu berbasis CO2 ini menjadi gambaran penting bagaimana riset akademis mampu menjawab tantangan efisiensi energi di sektor agroindustri. Inovasi semacam ini dapat menjadi referensi bagi modernisasi industri gula di berbagai negara berkembang, termasuk Indonesia, yang saat ini tengah gencar mendorong efisiensi pabrik gula dan pemanfaatan energi terbarukan berbasis biomassa.

Saat ini, validasi konsep teknologi tersebut telah sukses diuji di tingkat laboratorium dengan dukungan São Paulo Research Foundation (FAPESP). Peneliti Riann de Queiroz Nóbrega menyampaikan, timnya kini tengah mematangkan negosiasi dengan sejumlah mitra industri untuk segera membangun unit percontohan (pilot plant) di lapangan.

(NY)

Sumber

https://jornal.unicamp.br/en/noticias/2026/07/24/tecnologia-usa-co2-para-secar-bagaco-da-cana-de-acucar/

Berita Terpopuler

1
Indonesia Penghasil Sampah Terbesar Ke-5 Dunia: Produksi dan Jenis-Jenisnya
2
Kepolisian Ungkap Tambang Ilegal di Tahura Bukit Soeharto, Kerugian Negara Ditaksir Capai Rp1 Triliun
3
Perkembangan Industri Gula Tahun 2020 hingga 2025
4
Cerita Sejarah, Fakta Menarik, dan Peran Ekologis Sungai Brantas
5
Penyebab Banjir dan Longsor di Sumatera: Bencana Alam atau Kerusakan Alam?

Grafik Harga Gula

Raw Sugar: -
-
White Sugar: -
-
White Sugar: -
-