LingkariNews — Afrika Selatan merupakan salah satu negara produsen dan eksportir gula terkemuka di dunia. Afrika Selatan rata-rata mampu memproduksi sekitar 1,9 juta ton gula per tahun. Sementara itu, konsumsi domestiknya hanya 1,5 juta ton. Artinya, terdapat surplus produksi sekitar 400.000 ton gula setiap tahunnya.
Selama ini, surplus tersebut dialihkan ke pasar internasional melalui ekspor. Namun kini, industri gula Afrika Selatan mulai mempertimbangkan pengalihan sebagian surplus tebu menjadi bioetanol.
Ekspor surplus gula memang menghasilkan pemasukan Afrika Selatan. Namun, harga jual gula di pasar internasional sering kali lebih rendah daripada biaya produksi domestik. Kondisi ini membuat ekspor surplus gula justru membebani keuangan industri.
Berdasarkan South African Sugarcane Value Chain Master Plan 2030, peningkatan volume ekspor akibat lemahnya permintaan domestik menyebabkan industri menanggung kerugian sekitar 2 miliar rand per tahun. Angka itu setara dengan Rp 2,18 triliun. Tekanan tersebut mengancam keberlanjutan usaha petani dan pabrik gula. Sekitar 330.000 lapangan kerja yang bergantung pada industri gula juga turut terancam, terutama di daerah pedesaan yang minim alternatif.
Melihat tekanan yang ada di lapangan, industri gula Afrika Selatan kini tengah mendorong diversifikasi sebagian surplus tebu untuk produksi bioetanol. Langkah ini dinilai realistis karena didukung ketersediaan tebu, infrastruktur penggilingan yang memadai, serta kebijakan pencampuran etanol 3,5% dalam bensin yang telah ditetapkan pemerintah
Diversifikasi produksi gula menjadi bioetanol berpotensi memberi manfaat nyata bagi industri dan masyarakat. Langkah ini dinilai mampu menyelamatkan 330.000 mata pencaharian yang sebelumnya terancam. Petani akan mendapat pasar tebu yang lebih stabil karena adanya permintaan, sementara masyarakat sekitar memperoleh lapangan kerja baru.
Diversifikasi tebu menjadi bioetanol juga diperkirakan akan mendatangkan investasi miliaran rand ke wilayah pedesaan yang menjadi pusat industri gula Afrika Selatan. Investasi tersebut dapat digunakan untuk membangun fasilitas produksi, pengolahan, dan distribusi. Pengembangan infrastruktur ini tidak hanya memperkuat industri gula, tetapi juga mendorong pertumbuhan sektor pertanian dan manufaktur. Dengan demikian, diversifikasi ini berpotensi memperkuat ekonomi pedesaan sekaligus membangun bioekonomi yang lebih tangguh.
Di sisi lain, produksi bioetanol dapat mengurangi ketergantungan Afrika Selatan terhadap impor bahan bakar yang mahal. Penggunaannya sebagai campuran bensin juga mendukung penyediaan bahan bakar transportasi dengan emisi karbon yang lebih rendah.
Meski menjanjikan peluang ekonomi yang luar biasa, transisi industri gula Afrika Selatan ke bioetanol tetap menghadapi sejumlah tantangan. Salah satu persoalan yang perlu diatasi adalah ketidakpastian kebijakan. Pembangunan pabrik etanol, fasilitas penyimpanan, dan infrastruktur pencampuran membutuhkan investasi jangka panjang senilai miliaran rand. Karena itu, investor butuh regulasi yang jelas mengenai harga etanol, persyaratan pencampuran, serta keberlanjutan kebijakan pemerintah. Tanpa kepastian tersebut, perusahaan cenderung menunda investasi karena khawatir terhadap risiko pasar dan perubahan regulasi.
Salah satu langkah yang bisa dilakukan pemerintah adalah melakukan transisi secara bertahap. Usulan kewajiban pencampuran etanol sebesar 3,5% dapat menjadi langkah awal untuk menunjukkan komitmen pemerintah dalam mengembangkan industri bioetanol. Kebijakan tersebut juga perlu diperkuat dengan dengan arah regulasi yang konsisten, serta target peningkatan persentase campuran secara bertahap. Dengan begitu, investor memiliki gambaran pasar jangka panjang sehingga lebih percaya diri untuk menanamkan modal.
(KP/NY)
Sumber
https://www.foodformzansi.co.za/sas-sugar-industry-at-a-crossroads-the-shift-to-bioethanol/
https://www.thedtic.gov.za/wp-content/uploads/Masterplan-Sugar.pdf