India Resmi Hentikan Ekspor Gula hingga September 2026, Pasar Waspadai Kenaikan Harga Gula

Gula 19 Mei 2026 5 kali dibaca
Gambar Artikel

LingkariNews — Pemerintah India resmi memberlakukan larangan ekspor gula hingga 30 September 2026. Sebagai eksportir gula terbesar kedua di dunia setelah Brasil, keputusan India ini mengguncang pasar komoditas global. Pasokan gula internasional berpotensi menyusut drastis, sementara permintaan dunia tetap tinggi. Ketimpangan antara suplai dan permintaan tersebut dikhawatirkan memicu lonjakan harga gula di pasar global.

Pemerintah India Prioritaskan Keamanan Stok Gula Domestik

Keputusan pemerintah India menghentikan ekspor gula bertujuan untuk mengamankan stok dalam negeri yang terus menipis. Berdasarkan data statistik, kebutuhan gula nasional India mencapai 26-28 juta ton per tahun. Sementara itu, produksi gula India hanya sekitar 25,8 juta ton. Artinya, pasokan domestik berpotensi defisit sekitar 200 ribu hingga 2,2 juta ton. Kondisi itu membuat pemerintah India khawatir stok gula dalam negeri tidak mencukupi jika ekspor tetap dibuka.

Rendahnya produksi gula India dipicu oleh cuaca ekstrem dan fenomena El Nino yang mengganggu produktivitas lahan tebu. Curah hujan monsun di sejumlah wilayah utama perkebunan tebu India tercatat berada di bawah rata-rata historis. Kondisi itu menyebabkan pasokan air untuk tanaman tebu berkurang sehingga pertumbuhan batang tidak optimal dan kandungan gulanya menurun. Hal ini membuat hasil panen menyusut dan produksi gula nasional diperkirakan mengalami penurunan yang signifikan.

Konflik Timur Tengah Turut Tekan Produksi Gula India

Selain masalah iklim, perang Timur Tengah antara Amerika-Israel dan Iran turut memperparah tekanan yang dihadapi sektor pertanian India. Selama ini, sektor pertanian India sangat bergantung pada impor pupuk dari Timur Tengah. Tercatat, sekitar 50 persen kebutuhan pupuk nasional dipasok dari negara-negara Timur Tengah.

Arab Saudi menjadi pemasok utama diammonium phosphate (DAP) bagi India. Sementara itu, kebutuhan urea banyak diimpor dari Oman. 

Perang di Timur Tengah juga memicu kelangkaan gas alam cair atau LNG yang menjadi bahan baku utama urea. Konflik geopolitik yang masih berlangsung membuat pasokan LNG dari Qatar sebagai pemasok LNG impor terbesar bagi India tersendat. Kondisi tersebut menekan produktivitas tebu dan memperburuk produktivitas gula India.

Apa Dampaknya Bagi Indonesia?

Sebagai salah satu konsumen gula terbesar, Indonesia juga berpotensi terkena dampak penghentian ekspor gula India. Menurut data konsumsi global, konsumsi gula Indonesia ditaksir mencapai 7,6 hingga 7,8 juta metrik ton per tahun. Tingginya konsumsi dipengaruhi meningkatnya kebutuhan gula rumah tangga, serta kebutuhan pasokan gula dalam jumlah besar untuk industri makanan dan minuman nasional.

Sayangnya, produksi tebu dalam negeri selama ini masih jauh dari total konsumsi nasional. Untuk memenuhi kebutuhan konsumsi gula, selama ini Indonesia mengimpor gula dari berbagai negara produsen utama. Pada 2014 saja, volume impor gula Indonesia mencapai sekitar 2,9 juta ton. Angka itu terus meningkat hingga menyentuh sekitar 6 juta ton pada 2022. Meski impor gula turun menjadi 5,3 juta ton pada 2024, Indonesia masih sangat bergantung pada pasokan gula dari luar negeri.

Meski bukan pemasok gula utama untuk Indonesia, pembatasan ekspor gula India berpotensi memperketat pasokan gula dunia dan memicu kenaikan harga gula global. Jika kondisi ini berlangsung lama, biaya produksi industri makanan dan minuman dapat meningkat. Dampaknya, harga berbagai produk pangan olahan juga berpotensi ikut naik.

(KP/NY)

Berita Terpopuler

1
Indonesia Penghasil Sampah Terbesar Ke-5 Dunia: Produksi dan Jenis-Jenisnya
2
Kepolisian Ungkap Tambang Ilegal di Tahura Bukit Soeharto, Kerugian Negara Ditaksir Capai Rp1 Triliun
3
Perkembangan Industri Gula Tahun 2020 hingga 2025
4
Penyebab Banjir dan Longsor di Sumatera: Bencana Alam atau Kerusakan Alam?
5
Indonesia Penyumbang Sampah Laut Terbesar Kedua Dunia

Grafik Harga Gula

Raw Sugar (sen/lb)
White Sugar (USD/ton)
White Sugar (sen/lb)